Terkini

Efektivitas Molnupiravir sebagai Obat Covid-19 Diragukan Para Ahli, Kenapa Demikian?

Anatasia Wahyudi
×

Efektivitas Molnupiravir sebagai Obat Covid-19 Diragukan Para Ahli, Kenapa Demikian?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Molnupiravir. (Foto: Shutter Stock)

BARISAN.CO – Perusahaan Merck dan mitranya, Ridgeback Biotherapeutics nampaknya berhasil menjadikan molnupiravir obat oral pertama yang memperoleh persetujuan untuk melawan Covid-19. Hal itu terjadi setelah efektivitas pil tersebut menunjukkan dapat menurunkan risiko rawat inap dan kematian hingga hampir 50 persen.

Negara-negara di kawasan Asia-Pasifik berduyun-duyun mengamankan pasokan obat tersebut. Dalam laporan Reuters, Amerika Serikat pada Juni lalu setuju membayar US$1,2 miliar untuk 1,7 juta pil. Menyusul, Australia, Singapura, dan Korea Selatan.

Tak mau kalah, Indonesia juga ikut mengambil bagian, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunawan Sadikin menyebut pemerintah membeli obat Covid-19 molnupiravir sebanyak 600 hingga 1 juta tablet. Menurut Budi, pembelian itu sebagai antisipasi gelombang ketiga yang kemungkinan terjadi pada akhir tahun ini.

Awal bulan lalu, Inggris menjadi negara pertama di dunia yang memberi otorisasi bersyarat untuk untuk obat itu. Akan tetapi, kurangnya penelitian efek jangka panjang membuat para ahli skeptis.

Sebuah jurnal Oxford Academic menemukan, meski bertujuan menganggu RNA virus, akibat mutageniknya dapat bergabung dan menyebabkan mutasi bagi DNA manusia. Peneliti mengatakan mutasi DNA inang berkontribusi bagi perkembangan kanker atau dapat menyebabkan cacat bawaan pada janin saat berkembang atau waktu penggabungan ke dalam sel prekursor (sel muda) sperma.

Sebenarnya, tahun lalu, mantan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Biomedis Lanjutan AS (BARDA), Rick Bright menentang pemberian dana tambahan untuk pengembangan obat itu. Salah satunya terkait masalah keamanan molnupiravir.

Dalam keluhannya, Rick menuliskan obat eksperimental serupa telah terbukti menyebabkan toksisitas reproduksi. Hewan yang diobati dengan obat yang mirip dengan molnupiravir lahir tanpa gigi dan bagian tengkorak.

Selain itu, mengutip Pharmaceutical Technology, ahli kimia dari Universitas Emory, Raymond Schinazi yang menyatakan perusahaan farmasi sebelumnya, Pharmasset telah meninggalkan obat jenis serupa di tahun 2003 setelah menemukan sifat mutageniknya.

Sedangkan profesor dari Departemen Biokimia dan Biofisika Universitas North Carolina, Ron Swanstrom menyampaikan tidak mungkin untuk mengetahui efek jangka panjang dari senyawa yang terdapat di molnupiravir bagi manusia. Ron menuturkan ia sendiri tidak memiliki jawabannya.

“Apakah itu risiko sepenuhnya dapat diterima dan tidak berarti apa-apa? Atau risiko yang lebih signifikan, tetapi kita tidak akan tahu hasilnya selama 10 tahun,” kata Ron.

Meski, Merck menunjukkan obatnya itu tidak mutagenik pada hewan, Ron meragukannya. Dalam pandangannya, Ron menyatakan tes dalam penelitian hewan oleh Merck tidak mungkin dapat menentukan apa saja yang mungkin bisa terjadi pada DNA mamalia beberapa tahun kemudian setelah pemberian obat pada pertama kali.

Merck pada akhirnya juga mengakui adanya potensi obat mutagenik dalam studi fase III. Peserta dalam uji coba tidak boleh hamil atau menyusui. Mereka yang berpotensi melahirkan juga tidak boleh melakukan hubungan seks atau menggunakan kontrasepsi selama 28 hari sejak menjadi bagian penelitian. Individu yang ikut bagian dari penelitian juga harus menahan diri untuk tidak menyumbangkan spermanya.