Scroll untuk baca artikel
Blog

Nyanyian Indomie – Puisi Jamaludin GmSas

Redaksi
×

Nyanyian Indomie – Puisi Jamaludin GmSas

Sebarkan artikel ini

Nyanyian Indomie

Saat lagu indomie mulai dinyanyikan pada
suatu malam, aku bayangkan ibu sedang
membuka bungkus indomie di langit sana.
Ibu berusaha memasaknya untuk
doa-doaku yang sudah lunglai sebelum sampai.
Usai makan, doaku pun terbang dengan perkasa.

Al Ikhsan, Februari 2021

Jangan Ngengetan

Sepertinya ada yang mengetuk pintu
dan ingin bertamu. Namun, tak kulihat
siapa pun setelah pintu kubuka.

“Mungkin tangan masa lalu
yang tadi mengetuk pintu.
Kan selalu saja begitu?”
seru Ibu dari dalam dapur usai
ngenget lauk yang sudah hambar.

“Sepertinya bukan, Bu,”
jawabku pura-pura.
Aku masuk dan langsung dipaksa
oleh Ibu untuk tetap makan
walau sekadar jangan ngengetan.

Sepertinya Ibu tahu, bahwa
aku sedang tidak baik-baik saja.
Makanya akhir-akhir ini, setiap malam,
di dapur Tuhan, Ibu selalu tetap khusyuk
memasak meski matanya jadi bengkak.

“Jangan ngengetan lagi, Bu?”
“Bukannya masakan ibu selalu sama
dan selalu tak habis bila kaumakan
dan selalu kupanasi bila dingin?”
“He. Seperti doa saja, ya Bu.”

“Dari pada seperti masa lalu,”
jawab Ibu.

Al Ikhsan, 2021

Rames

Sebuntel rames disimpan dalam lemari
dan akan dimakan bila lapar nanti.

Siapa yang akan memakannya?

(Aku dan kamu bermain gunting-batu-kertas)
Tak ada yang menyadari
bahwa permainan kita bukan
untuk mencari siapa yang menang
dan siapa yang akan memakannya.
Karena sebelum menyimpannya,
kita sudah sepakat untuk menghabiskan
sebuntel rames itu berdua.

(Aku dan kamu bermain gunting-batu-kertas
: yang menang jadi nasi-sayur,
siap dimakan hingga habis dan hancur
; yang kalah jadi kertas minyak,
membesihkan jari-jari tangan
dan bibir dari sisa makanan
— kemudian
dibuang.)

Terus siapa yang akan memakannya?

“Nasib,”
jawab kita berdua.

Sungguh, aku dan kamu dipertemukan
dari jarum jam yang selalu berputar
dan nasib sial yang selalu lapar.

Al Ikhsan, 2021

Tragedi Bawang Merah

Biarkan hatiku bawang merah.
Bila kau mengirisnya demi bumbu
penyedap rasa, toh air matamu
akan keluar juga.

Dan aku pun bertanya,
“seenak apa si masakanmu itu?”

Al Ikhsan, 2021

Jamaludin GmSas adalah nama pena dari Jamaludin. Lahir di Pemalang, 20 Juli. Ia adalah mahasiswa pascasarjana UIN SAIZU Purwokerto sekaligus santri di Pondok Pesantren Al Ikhsan Beji, Banyumas.