Prof. Paul Ekman: Papua Ras Melanesia, Manusia Terjujur Terakhir di Dunia Ini

  • Whatsapp
AMP
Aliansi Mahasiswa Papuat (AMP) di acara Tambak Gugat/Foto: Maming

Barisan.co – Profesor Paul Ekman merupakan penemu micro exspression berdasarkan riset ilmiah di tahun 1960 di Papua atau 59 tahun yang lalu. Ia merupakan professor Emeritus University of California, San Fransisco. Penerima Highest Award for Basic Research in Psychology dari America Psychological Association.

Paul Ekman seorang tokoh yang masuk 100 tokoh berpengaruh di abad 20, 100 orang berpengaruh tahun 2009 versi Majalah Time, dan Scientific Adviser film seri “Lie to Me.” Ia juga seorang pengarang buku dan editor yang telah diterbitkan lebih dari 15 buku, diantaranya yakni Telling Lies dan Emotions Revealed.

Berbicara tentang respons naluriah manusia erat kaitannya dengan apa yang bisa ia rasakan secara langsung, atau sering kita sebut dengan emosi. Emosi dasar manusia apakah itu amarah, rasa takut, tekejut, senang, jijik, atau sedih dari dulu telah ada bersama manusia. Ia juga tidak berubah apakah manusia itu masih primitif atau sudah semakin maju, ia bagaikan suatu yang universal. Tidak ada hubungannya dengan kaya, miskin, terdidik, dan tidak terdidik. Benarkah demikian?

Paul Ekman melakukan penelitian tentang hal ini di Papua Nugini dan hasilnya tetap valid sampai sekarang. Ekspresi emosi wajah seorang, apakah ia penduduk pedalaman Papua Nugini kala itu yang belum bersentuhan dengan kemajuan dunia luar dengan ekspresi emosi wajah orang yang telah amat maju di Manhattan Amerika Serikat sama saja, meskipun kedua kelompok tersebut itu berbeda secara total dalam peradabannya.

Ekspresi wajah adalah gerakan mendasar dan tidak disengaja yang terjadi ketika satu atau lebih dari 43 otot wajah terlihat. Bawasanya ada 7 ekspresi wajah universial atau tujuh emosi dasar wajah yang unik dan khas yakni; (1) Kebahagiaan, (2) Kesedihan, (3) Takut, (4) Menjijikan, (5) Marah, (6) Penghinaan, dan (7) Mengherankan.

Menolak Teori Darwin

Pada akhir tahun 1800-an Charles Darwin merupakan tokoh pertama yang menyarankan bahwa ekspresi wajah dari emosi adalah sama di manapun, semua adalah bawaan.

Bahkan Charles Darwin berpandangan bawasanya manusia adalah keturunan kera. Padangan ini sebagaian akademi ilmiah tidak setuju dengan teori yang dikemukakan Charles Darwin.

Paul Ekman salah satu orang yang berlawanan dengan pandangan Charles Darwin, ia pun mulai meneliti ekspresi wajah dari berbagai budaya. Ekman percaya bahwa ekspresi dipelajari secara sosial dan budaya. Misalnya, jika anda dilahirkan dan dibesarkan di Amerika. Anda akan menunjukkan ekspresi wajah yang sangat berbeda dari emosi jika anda dibesarkan di Asia.

Budaya pertama yang dipelajari Ekman berbasis di negara-negara berikut; Chili, Argentina, Brazil, Jepang, dan Amerika Serikat. Studi awal ini Ekman memperlihatkan kepada orang-orang tentang foto-foto orang yang memperlihatkan ekspresi wajah. Lalu ia meminta kelompok untuk menilai emosi apa yang mereka pikir sedang ditampilkan di setiap foto.

Ekmanpun mendapatkan hasilnya namun ia tidak sepenuhnya yakin. Dia bertanya; “Bagaimana jika kelima budaya telah tumbuh dan terpengaruh nonton film dan tersentuh teknologi.”

Untuk menguji teori ini, Ekman mencari dan mendapatkan temuan budaya yang sepenuhnya terisolasi dari keterpengaruhan televisi dan perkembangan zaman. Hal inilah yang membawa Ekman ke dataran tinggi Papua Nugini untuk bertemu suku primitif yang terpencil seperti Fore. Jika suku Fore menunjukann ekspresi wajah dari emosi yang sama dengan pandangan awal di negara-negara maju.

Paul Ekman mengatakan bahwa, “the truth is all never you face” (kebenaran ada di wajah seseorang). Ia telah melakukan survei ekspresi wajah universal selama 15 tahun di Papua Nugini, dan papua pada umunya khususnya ras Melanesia.

Kesimpulan Paul Ekman

Akhir pandagan Profesor Paul Ekman menghasilkan bawah Papua adalah The last honest person on earth atau Papua adalah manusia terjujur terakhir yang disisakan di muka bumi ini. Dengan pola itu dia memetakan wajah seluruh bagsa di dunia ini, dan ternyata cocok.

Betapa beruntungnya Indonesia memiliki Papua selain kekayaan alamnya yang kita keduk. Kita juga miliki kejujuran tingkat dunia. (Lukni An Nairi)

Kandank Warak
Latest posts by Kandank Warak (see all)

Pos terkait