Parfum Langit Ketujuh – Cerpen Eko Tunas

  • Whatsapp
Cerpen Langit Ketujuh
Ilustrasi: Tangga Langit

MASIHKAH kau bertanya, mengapa Adam dan Hawa terusir hanya karena melanggar satu larangan, sayangku? Kenapa selalu kau bayangkan itu saat kau menggigit apel, bukankah kau tak terusir dari apa pun dan siapa pun.

Kenapa mesti kau kunyah pelan-pelan apel kesukaanmu, sambil membayangkan kita akan terusir ke dunia yang tidak kita inginkan. Bukankah kita masih di sini, di taman yang setia kita kunjungi untuk memadu kasih. Berbicara tentang diri kita berdua, tentang janji kita untuk menurunkan anak-anak kita. Kenapa selalu kau bayangkan hari esok tak seperti taman ini, tak seindah cinta kita.

Mungkinkah kisah lama akan berulang?

Baiklah, aku tak akan lagi menyebut taman ini sebagai Firdaus, Eden, atau nama lain yang mengingatkanmu pada kisah itu. Aku akan menyebut taman ini sebagai surga, seperti yang kau inginkan setiap kau berbicara tentang cinta.

Sebagaimana dijanjikan Adam kepada Hawa, bahwa surga hanya akan menjadi milik mereka berdua. Meski kau membudut, setiap aku bergurau bahwa kalau begitu kau pun tercipta dari tulang rusukku. Meski surga berarti taman, Firdaus, Eden, atau nama-nama sesudahnya yang memang harus pelan-pelan kau sadari seperti pelan-pelan kau mengunyah apel itu.

Gigit, kunyah, dan telanlah apelmu, meski selalu kau sisakan dan kau lempar, lalu seorang gelandangan setia memungutnya dengan seringai terima kasih.

Masih mending dia, katamu, ketimbang ular-ular – begitu kau menyebut para preman taman – yang selalu mengincar apel-apelmu. Tak kau sadari taman ini memang taman apel, dengan buah-buahnya yang rimbun bergantungan hingga merendah.

Tetapi kau selalu menyebut bahwa ini adalah taman kita, dan lebih dari itu buah-buah apelmu. Bukankah ini juga taman mereka, bahkan rumah mereka, tempat mereka terusir dari rumah-rumah tinggal.

Mereka memang entah datang dari mana saja, dari rumah-rumah yang ditinggalkan atau bukan lagi milik mereka, karena mereka kehilangan kepemilikan, karena mereka tersisih dan tersingkir. Di sini mereka beranak-pinak, tidur pating kruntel di bawah-bawah pohon atau di bangku taman.

Yang kau herankan ialah, kenapa begitu banyak apel tapi mereka mengharapkan apel yang kau lempar setelah kau kunyah.

“Bukankah tak ada larangan,” cetusmu, “dan mereka tinggal memetik…”

“Betapapun mereka tetap percaya pada cerita tentang taman, bahwa taman bukan ladang, tapi sesuatu yang harus dijaga.”

“Bagaimana kalau apel-apel itu bermerahan…”

“Kami hanya mengambil yang jatuh.”

“Untuk dijual?”

“Untuk makan anak-anak agar tumbuh sesegar apel.”

“Lalu siapa yang memetik?”

“Yang jelas bukan kami.”

“Bukankah seperti katamu, mereka yang menanam…”

“Begitulah riwayat kakekmoyang kami.”

Tanyamu lagi, “lalu siapa memetik apel-apel itu pada saatnya…”

Ah, sambil terus memetik dan mengunyah kau masih juga bertanya. Dan wajahmu..wajahmu…..

Aku simpan dirimu lewat senyummu

Di batas mana aku tak percaya surga

Bahkan kisah tentang kebahagiaan…

* * *

KAU tahu, aku pun berasal dari mereka, dan gali yang paling disegani di taman ini karena aku memang lelaki pilihan. Aku bisa mengatasi setiap persoalan mereka, dari ihwal kecemburuan hingga kekerasan, sampai ancaman penggusuran atau penangkapan.

Dan kau, mereka menyebut kau berasal dari gedung-gedung tinggi itu, gedung-gedung pencakar langit bagai raksasa yang punya banyak mata: kotak-kotak nyala neon yang di mata mabokku seperti ribuan bulan persegi.

Kau datang dari sana, dari dunia yang tidak aku pahami, turun bagaikan bidadari persembahanku. Melenggang kau di hari Minggu itu, memetik apel-apel seenak udel, dan teman-temanku menangkapmu bahkan nyaris memerkosamu sebagai hukuman bagi si pencuri.

Untunglah aku melihat matamu bagus juga rambutmu, dan tak aku lihat mode pakaianmu, pun tak aku gubris wangi parfummu. Matamu yang seperti bintang-bintang di langit kelam, cukup untuk mempertimbangkanku bahwa kau tak layak terjamah bahkan oleh apa pun dan siapa pun.

Dengan isyarat kerdipan mata kegalianku, teman-temanku meninggalkanmu di tanah berumput menceruk itu. Dan kau begitu saja menghambur ke dalam kebidangan dadaku, tanpa sepatah kata pun mampu kau ucapkan.

Kecuali binar mata itu, yang aku yakin tersedot oleh mata ularku yang diakui ular-ular lain sebagai mata raja ular. Lalu aku bimbing kau kembali ke tepi taman, dan kau melenggang lagi, meski itulah lenggang pertama dan berikutnya.

Juga malam-malam setiap kau mengaku minggat dari rumah, merupakan parfum wangi setinggi langit. Dan aku tahu ular-ular taman mengincarmu, dengan bisa beracun menyebarkan bau bacin sedalam dasar laut.

Meski kau tetap saja menganggap surga ada di langit lapis ketujuh. Meski tak kau bayangkan, kau bidadari mengejawantah sebagai gadis pingitan. Sebab menurutmu jika kau bidadari, tak mungkin dirimu mencintai ular beludak macam diriku.

Jadi sebut saja aku adalah kau, kau adalah aku, sebab dirimu adalah diriku, katamu. Lalu kita menunggu saat kita terusir dari surga, yang aku sulit percaya ada atau tidak surga itu. Persoalannya ialah mana yang surga, taman ini atau gedung-gedung tinggi itu, atau rumah yang memingitmu.

“Tahukah kau, sejak para nabi hingga kakekmoyang kita, kehidupan dibangun dari taman?”

“Dari surga..?” tanyamu.

“Bukankah surga adalah taman.”

“Eden, Firdaus, ya..tapi surga..?”

“Bukankah sorga menunjukkan tempat, juga taman.”

“Baiklah,” mafummu, “lalu..?”

“Lalu taman kemudian yang disebut alun-alun, kehidupan pun dibangun menjadi kota.”

“Kota pun ada taman, ada hutan…”

“Tapi lihatlah, bukankah kini kota tidak dibangun dari taman, tapi dari pasar?”

“Aku tidak suka pasar rakyat…”

“Ya, benar itu, kota dibangun dari supermarket, plaza, mall…”

“Kan bagus..?”

“Taman adalah tempat pertemuan bagi manusia, sayangku, dan pasar hanyalah tempat jual-beli. Lihatlah, kota hanya menjadi tempat jual-beli, tidak ada lagi pertemuan manusia dengan manusia.”

Ah, dengan parfum yang menyebar bercampur aroma mewangi apel, kau terus bertanya. Dan pandang wajahmu, tatap matamu…..

Aku simpan tatapanmu yang ke dalam

Dan batas antara pikir dan rasa

Mungkinkah ini pertemuan yang dulu…

* * *

AKU cukup berdiri di tepi taman ini, di bawah pohon apel yang rerimbunnya menjuntai ke tengah jalan. Dan kau akan begitu saja muncul, menyeberang jalan meraih-raihkan tangan ke juntaian buah-buah apel itu.

Melenggang sambil menggosokkan apel ke bagian dada oblong cekakmu, menggandeng tanganku ke bangku taman. Setiap seperti itu aku merasa kau seperti ada di jari tangan, kemudian di lenganku, lalu di bahu, dan kini aku merasa kau ada di dadaku.

Seperti ada ngilu pada tulang rusukku, setiap kita berkisah tentang diri kita yang begitu saja bertemu tanpa rencana. Tanpa bayangan sebelumnya bahwa kau yang datang untukku, bukan  ular dari bangsaku. Pun kau pernah katakan itu, kenapa mesti seekor aku yang hadir untukmu.

Selalu ada bisikan semacam gumam dari balik tulang rusukku, bahwa nasib terburuk manusia ialah karena harus bergaul dengan manusia lain. Meski aku tak pernah menyesali keberadaanku sebagai laki-laki pilihan, yang tidak hanya harus bergaul dengan para ular tapi juga menanggungjawabi mereka.

Melakukan segala hal yang semestinya bukan urusanku, karena mereka memang seperti binatang melata. Bahkan kalau perlu aku mesti menyuapi mereka, atau mengunyahkan dimulutku sehingga tinggal menelan saja.

Kalau sudah kenyang mereka akan tidur berhari-hari, karena itu memang hidup mereka, selebihnya beranak-pinak. Anak-anak mereka bahkan melata di jalanan, dibiarkan tanpa perlindungan dan pengajaran yang selazimnya.

Dan dalam kemelataan seperi ini, kau tetap menyebarkan parfummu dengan maksud untuk menghilangkan kepedihan hatimu. Karena kau merasa terasing justru di rumah sendiri, di kota yang terus membangun kota.

Tersisih dan tersingkir, seperti yang kau katakan, kau lebih merasa di rumah sendiri di taman ini. Seperti ada berubuh dalam diam, seperti ada diam dalam kerinduan, seperti ada dendam dalam diam. Kemudian kau berlarian sambil berteriak, membuat ular-ular bersembunyi dalam liangnya.

Taman ini menjadi surga saat Adam dan Hawa terlempar ke dunia nyata. Dunia yang tidak pernah kau pahami, karena segala dibeli, segala dijual. Pun kau merasa harga dirimu terbeli dan terjual, untuk sesuatu yang pun tak bisa kau pahami.

“Mengapa kau lari dan berteriak?”

“Masih adakah cinta..?” tanyamu sambil terus berlari, ke ceruk taman, ke bukit taman, dan aku mengejarmu.

“Bukankah kita merasakan hal yang sama.”

“Apakah dirimu adalah diriku..?”

“Seperti yang aku bilang, aku merasa kau ada di tulang rusukku!”

“Tapi ini kota..!”

“Ini taman, sayangku!”

“Tapi taman ini ada di kota..!” pekikmu, “adakah cinta di tengah kota?”

“Kita ada di dalamnya, sayangku!”

“Jawablah, kota yang membangun cinta, atau cinta yang membangun kota..?”

Ah, aku melihatmu bagai bidadari, saat kau berlari keluar dari taman sambil terus bertanya. Dan aroma parfum bercampur mewangi apel menyebar di seluruh kota…..

Bahkan meninggi atas kota!

Aku simpan sosok wangimu yang tegar

Dalam Batas dengan dunia di luarmu

Batas antara mimpi dan kenyataan

* * *

SELALU aroma parfummu mewangi apel itu, sampai pun kau berhenti dan berdiri di tengah jalan raya. Dan begitu aku hampir mencapaimu, kau kembali lari sambil berteriak-teriak di tengah keramaian.

Di tengah keriuhan orang-orang, dan arus lalulintas yang padat dan sesekali macet. Mobil, bus, truk, ambulance, kontainer, bahkan panser atau tank baja, memenuhi jalan raya yang tinggal sebelah. Karena “belah duren” lain digunakan sebagai Trans Kota, meski sepedamotor nekad menerobos ke Busway itu.

Polisi mengatur arah lalu-lintas, tapi tetap saja peluit peringatan mereka tak mengurangi kamampatan. Termasuk hely polisi yang mengatur dari udara, karena mobil Presiden dan para Menteri terkurung dalam kemacetan itu.

Bersama asap knalpot mobil-mobil dan sirene meraung-raung di kejauhan. Entah sirene apa, mungkin ada kerusuhan atau pembunuhan. Tiba-tiba kau memanjat cergas satu menara, lalu berdiri tegak tengadah sambil merentangkan kedua tangan ke atas.

Dan mendadak aku lihat engkau berubah menjadi patung, patung yang melambangkan model parfum yang meneriakkan pembebasan setinggi langit.

Aku merasa ada batas tipis duniamu

Batas dengan dunia nyata di luarmu

Aku merasa ada senja yang tumbuh…***

Eko Tunas
Latest posts by Eko Tunas (see all)

Pos terkait