SEORANG pencatat hidup menulis dalam bentuk yang diminatinya. Puisi, cerpen, novel, esai. Belakangan ada istilah lain; opini, karangan khas, catatan pinggir, hingga yang kembali ke muasalnya: catatan harian.
Kita mengenal penulis catatan pinggir, Goenawan Mohamad. Atau penulis catatan harian, Soe Hok Gie. Keduanya berbeda; nama pertama menulis dengan pikiran-pikiran besar meski nama tulisannya mengingatkan kita pada kaum terpinggir. Nama kedua, penulis dengan pikiran-pikiran kecil, mengingatkan kita pada sesanti ‘small ia beauty‘ kecil itu indah.
Persoalan sosial di negeri dewek, di tangan GM ditarik ke ranah sejarah mendunia dalam pemikiran internasionalisme bedakan dengan universalisme. Berbeda dengan SHG, yang menulis persoalan sosial politik, ke contoh seorang gelandangan yang makan sisa makanan di tong sampah, di tengah aksi demonstrasi mahasiswa satu pemikiran berdasar kontekstualisme.
Beda keduanya tentu didasari sikap hidup masing-masing yang membentuk cara pandang. Pertanyaan lanjut, apa ada pencatat dalam posisi di tengah. Ada; ambil contoh Emha Ainun Nadjib dan Muhammad Sobari. Mereka sama memainkan pikiran universal atau kontekstual dengan kepiawaian bahasa metafora. Bahasa yang tidak menunjuk langsung kenyataan, tapi bermain bahasa secara sastrawi.
Contoh-contoh itu pada hakikatnya sama; mereka menulis tentang ihwal manusia dan kemanusiaan. Bagaimana mereka memberi nilai-nilai untuk mencatat secara contentual. Mengangkat derajat manusia dalam tingkat tertinggi dan paling utama dalam kehidupan dengan nilai kemanusiaan termulia.
Buku tulisan Kafha ini pun berbicara soal nilai manusia dan kemanusiaan sebagai pusat kehidupan. Terusterang membaca judulnya, saya terkesan ini rangkuman catatan dari sudut pandang kecil atau sebutlah sederhana. Judul Lantas sekilas mengisyaratkan catatan pinggiran tentang kehidupan lalu-lintas.
Ternyata, lantas di sini adalah satu kata tandatanya: sesudah ini lalu apa? Satu judul yang mengisyaratkan kegelisahan hidup atau resah pikiran penulisnya.
KAFHA mempertanyakan mengenai hak dan tanggungjawab. Hak hidup setiap manusia, dan tanggungjawab yang mesti diemban setiap manusia di tengah lingkungan sosial. Keduanya pada hakikatnya integral, setiap manusia memiliki jatah hak dan tanggungjawab di sepanjang hayat dikandung badan.
Kafha sontak saja menarik soal tanggungjawab ke nilai terbesar. Yakni tanggungjawab manusia setelah meninggal dunia. Tanggungjawab atas amanah manusia di dunia, dan mesti dipertanggungjawabkan di alam sana. Tentu ia mengambil begitu saja satu ayat dalam Alkitab sebagai, seolah, deskripsinya.
Tidak ada interpretasi atas ayat itu, atau ide-nilai sebagai kejumbuhan pikirannya. Dengan mengutip ayat besar itu ia ingin sebagai penulis namanya ikut menjadi besar oleh kebesaran kalam semesta sebagai fatwanya.
Tidak ada pemikiran bagaimana, justru, kalam langit itu diturunkan ke bumi. Bagaimana tanggungjawab manusia di dunia. Sampai pun amanah yang disandang dengan segenap resiko. Termasuk resiko kesalahan dalam pertarungan menghadapi kekerasan hidup.
Bagaimana dalam peperangan hidup itu manusia tidak luput dari kesalahan. Sekalipun orang besar, pemimpin, pun ujar Soekarno tidak luput dari kesalahan sampai pun ketidak-gemingan dari dosa. Lantas..? Bukankah kesalahan dan dosa itu yang menguatkan manusia.
Lantas..? Barangkali muncul pikiran atas kemungkinan paling tidak mungkin, bisa jadi itulah hak dan tanggungjawab yang dibawa manusia sebagai bekal dalam pengadilan atas amanah duniawi di alam sana.
KAFHA juga menulis tentang dunia pewayangan. Kisah Mahabharata yang dikutip-katakan sebagai epos atau cerita tentang perjuangan dan kepahlawanan.
Jejak pertarungan lima Pandawa dan seratus Kurawa disorot sebagai sejarah manusia yang penuh intrik penguasa dan kekuasaan. Siapa Pandawa dan apa Kurawa tidak diletakkan pada pemikiran mengapa dan bagaimana.
Terutama penyadaran akan kesadaran Jawa — meski dikatakan Mahabharata berasal dari India — tentang dunia batin manusia Jawa. Misalnya soal mengapa dan bagaimana perjuangan Arjuna dalam dunia batinnya. Ialah, perjuangan menegakkan kepanditaan, kesatriaan, kejujuran, membela yang lemah.
Dunia batin Arjuna menggambarkan kesatriaan yang sudah purna dengan dirinya. Dan ia mewedarkan idee-nilai plus imajinasinya ke masyarakat desa. Sehingga desa mulai mengenal kehidupan baru yang lebih makjul.
Jadi peperangan Pandawa kontravita Kurawa dalam dunia batin Jawa sesungguhnya pertarungan di dalam diri setiap manusia. Ia mesti menjalankan pertarungan hak dan tanggungjawabnya sebagai manusia di tengah manusia di luar dirinya.
Sebagaimana yang digambarkan dalam Bharatayuda di dalam diri manusia, tidak ada kalah-menang. Yang ada kemenangan dan kekalahan yang bertarung terus menerus sepanjang hayat. Hingga ia menemukan sang maha tunggal, Tuhan, di dalam dirinya.
Pikiran kecil milik dan tanggungjawab manusia, yang besar semata hanya hak mutlak Tuhan.*
