Fokus

Perjuangan Pahit Kelontong Madura Bangkit dari Wabah Corona

Avatar
×

Perjuangan Pahit Kelontong Madura Bangkit dari Wabah Corona

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: pxhere.

BARISAN.CO Pandemi Covid-19 membuat banyak orang menelan pil pahit karena pendapatan yang tidak menentu. Berbagai dampak dirasakan oleh semua orang khususnya sektor ekonomi yang membuat para pengusaha harus berpikir keras dalam menghadapi situasi seperti ini.

Belum ada sektor ekonomi yang pulih benar meski sudah setahun pandemi dirasakan. Di antaranya, banyak pelaku ekonomi kecil seperti warung kelontong Madura juga demikian masih tertatih. Namun, walaupun pemasukan tidak menentu, bukan berarti para pemilik warung kelontong Madura menjadi menyerah begitu saja.

“Pas awal-awal pandemi Covid-19 saya kepikiran untuk memanfaatkan layanan chat whatsapp untuk pelanggan saya yang ingin belanja tetapi tidak perlu keluar rumah. Jadi, saya tinggal antar pesanan pelanggan ke rumahnya yang terdekat dari warung saya,” sebutlah Septiana Sari, pemilik warung kelontong Madura di daerah Bekasi, kepada Barisanco.

Septiana Sari mengatakan bahwa, menghadapi situasi saat ini jangan hanya tinggal diam. Pelanggan memang berkurang dikarenakan semua orang sedang menerapkan imbauan dari pemerintah, akan tetapi semua rezeki bisa dicari dan diusahakan jika kita terus semangat dan memiliki niat yang tinggi.

Dengan cara demikian pelanggan tidak perlu datang ke warung, cukup untuk mengirim pesan apa saja yang ingin dibeli maka penjual akan langsung mengirimkan pesanan ke tempat tujuan.

“Sebelum pandemi saya sudah membuka layanan pesan antar ini untuk pemesanan galon dan gas. Nah, sekarang layanan tersebut saya tambah untuk semua pesanan barang apapun,” tambah pemilik warung.

Tentunya, dari pihak pengantar pesanan pun juga dianjurkan untuk menjaga kebersihan dan selalu menerapkan protokol kesehatan sebagaimana mestinya.

“Tidak sedikit pelanggan kami yang memesan makanan ringan, beras, sembako, minuman atau air galon, gas, bumbu masak, hingga token listrik dan pulsa elektrik,” ujar Septiana Sari.

Saat ini, keadaan warung kelontong Septiana Sari sudah jauh berubah dan lebih lengkap dibandingkan dulu pertama kali merintis. Pasalnya, tidak hanya menjual sembako dan barang kebutuhan rumah lainnya, ia juga menyediakan Pom Bensin Mini.

“Ya, saya pertengahan tahun 2019 baru punya Pom Bensin Mini ini. Karena banyak yang nanya kok gak jualan bensin, akhirnya saya kepikiran punya Pom Bensin Mini sendiri. Alhamdulillah keuntungannya juga jadi bertambah,” ucapnya.

Sementara itu, semenjak adanya minimarket keuntungan warung kelontong sedikit menurun. Namun seiring berjalannya waktu, masyarakat kembali memilih untuk berbelanja di warung kelontongnya dikarenakan harganya jauh lebih murah dibanding minimarket.

“Kalau di minimarket kan biasanya harga sudah sama pajak makanya jadi mahal, kalau di warung kita kan harga agen ya paling naik Rp500 perak sampai Rp1.000 aja. Soalnya pelanggan kita kan tidak hanya orang menengah ke atas tapi juga banyak yang orang menengah ke bawah,” tambahnya.

Di awal tahun 2020, Septiana Sari memutuskan untuk menambah jasa transfer agen BRILink. Omzet yang dihasilkan pun cukup memuaskan, perbulannya ia bisa mencapai Rp10 juta sampai Rp20 juta.

“Alhamdulillah omzet dari BRILink sangat memuaskan dan bisa untuk tambah-tambahan modal warung. Total perbulan kira-kira keuntungan semuanya sebesar Rp30 juta,” pungkas Septiana Sari. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *