Scroll untuk baca artikel
Terkini

Perjuangan Uganda untuk Peroleh Vaksin Corona

Redaksi
×

Perjuangan Uganda untuk Peroleh Vaksin Corona

Sebarkan artikel ini

BARISAN.COUganda adalah salah satu negara miskin yang tidak memiliki cukup uang bahkan jika itu hanya untuk sebagian kecil dari populasinya. Ketidakmampuan itulah yang membuat petugas kesehatan dan juga kelompok paling rentan harus menunggu untuk divaksin.

Distribusi vaksin menunjukkan adanya kesenjangan yang ekstrem. Menurut World Health Organization (WHO), di negara berpenghasilan tinggi hampir 1 dari 4 orang menerima vaksin sedangkan di negara yang berpenghasilan rendah hanya 1 orang yang kemungkinan menerima vaksin.

Sejauh ini, Uganda hanya menerima 864.000 dosis vaksin yang cukup untuk 400.000 jiwa jika dengan dosis penuh (2 kali suntikan). Artinya kurang dari 1 persen yang akan menerima vaksin dari jumlah populasi sebanyak 45 juta jiwa di negara tersebut.

Setahun lalu, WHO dan badan amal vaksin global mulai menginisiasi COVAX. Ini menjadi pengadaan vaksin terbesar dalam sejarah yang dimaksudkan untuk membuka akses vaksin yang adil ke seluruh dunia.

Namun, faktanya, Uganda jauh tertinggal dan baru saja memulai program vaksinasi.

Menurut WHO, lebih dari 1 miliar dosis vaksin Covid-19 yang disebar ke seluruh dunia. Sayangnya, 82 persen dari jumlah tersebut diterima oleh negara berpenghasilan tinggi atau menengah ke atas. Sedangkan hanya 0,3 persen diterima oleh negara berpenghasilan rendah.

COVAX berharap negara kaya yang membeli sebagian pasokan vaksin global dapat memberikan 2 miliar dosis di akhir tahun ini. Para ahli menyebut bahwa COVAX terlalu optimistis dengan angka itu. Apalagi kenyataanya masih jauh.

Hal itu karena kontrol ekspor India yang membuat hampir semua vaksin COVAX. Tentu, mengingat ledakan kasus sedang terjadi di India, boleh dianggap bahwa sedang ada upaya India menjaga dosis vaksin dalam mengatasi krisis di negaranya sendiri.

“Itu menyakitkan, sangat menyakitkan. Pandemi ini telah memengaruhi seluruh dunia. Kita harus bergandengan tangan jika ingin memenangkan perang ini,” kata Menteri Kesehatan Uganda, Dr. Jane Ruth Aceng, seperti dikutip dari NBC News.

Aceng menambahkan bahwa Uganda akan menerima 3 juta dosis dari COVAX hingga Mei.

“Sebagian kecil dari yang diperlukan untuk menghentikan virus dengan herd immunity, tetapi dengan kendala pasokan global yang terus meningkat, itu bahkan bisa berbahaya. Kami tidak mendapatkan vaksin secepat yang seharusnya,” tambah Aceng.

Hasil penelitian Duke University menyebut, meskipun produsen vaksin mencoba meningkatkan dan mengoptimalkan produksinya, masih jauh untuk memenuhi permintaan pasokan global vaksin Covid-19. Penelitian itu memperkirakan tidak akan ada cukup vaksin untuk memenuhi kebutuhan seluruh populasi dunia hingga akhir tahun 2024.

Ahli epidemiolog telah memperingatkan bahwa tingkat vaksinasi yang rendah di negara berkembang seperti Uganda dapat merusak upaya vaksinasi di seluruh dunia serta berakibat memperpanjang pandemi karena memungkinkan virus menyebar dan bermutasi. Sehingga, meskipun nega kaya mencapai tingkat kekebalan tertentu, semua orang akan tetap rentan selama Covid-19 berada di belahan dunia manapun.

“Jika beberapa negara berpikir populasi mereka aman setelah vaksinasi, itu adalah kebohongan,” pungkas Aceng. []