Scroll untuk baca artikel
Blog

Pesan Isra’ Mi’raj ditengah Pandemi

Redaksi
×

Pesan Isra’ Mi’raj ditengah Pandemi

Sebarkan artikel ini
Oleh: Saat Suharto Amjad

Seabad silam sekitar tahun 1910 terjadi gagal panen dan untuk mencukupi kebutuhan karbohidrat, pemerintah kolonial Hindia Belanda mengimpor beras dari Burma (Myanmar). Beras yang dipesan itu kemudian mendarat di Tanjung Perak. Ternyata selain selain mendarat berkarung-karung beras, beserta kapal itu mendarat pula tikus dan pes. Wabah pes kemudian menjalar dengan cepat ke daerah dingin Malang.

Sempat di Indonesia lakukan lockdown terhadap kota itu, bahkan masuk dan keluar kota di bawah acungan senjata. Akan tetapi kepentingan para pengusaha tebu akan tenaga kerja mengalahkan kepentingan kesehatan, pes merebak warga (terutama pribumi) bertumbangan.

Wabah pes belum ada tanda-tanda menurun kurvanya, ditambah masih berkembangnya virus cacar yang sebelumnya memang menjadi horor. Pada tahun 1918 Spain Flu (Flu Spanyol) masuk Indonesia dan menambah kondisi menjadi makin mengkhawatirkan. Jaman pagebluk demikian para orang tua menceritakan.

Tahun 1911, Muhammadiyah berdiri gelegak membangun masyarakat utama benar-benar berkobar. Di mana-mana di dirikan afdeling (cabang) Muhammadiyah. Kader kader Muhammadiyah muda yang dipelopori Kyai Sujak memang telah memiliki visi besar untuk membuat rumah sakit rumah sakit Muhammadiyah.

Visi besar itu bahkan disampaikan di tengah pelantikan pengurus di tahun 1911 itu. Meskipun hampir semua hadirin skeptis mengingat sangat jarang dokter pribumi apalagi dokter dari kalangan muslim santri (sekolah STOVIA baru saja dibuka untuk pribumi karena politik etis ).

Di tengah situasi pandemik seperti itu kader-kader muda Muhammadiyah bergerak, berkiprah dengan kerja kerja sosial, kegiatan santunan bahkan melintasi wilayah.

Aksi-aksi sosial dan kesehatan itu dilakukan para kader Muhammadiyah. Waktu itu situasi yang membangkitkan kesadaran, sebagian dari dokter Belanda pun ciut nyali dan tidak mau menolong orang-orang pribumi. Karena itulah mereka menurunkan dokter-dokter muda pribumi untuk membantu menanggulangi penyakit penyakit tersebut.

Kerelawanan

Kerelawanan dan kepeloporan anak-anak muda tercerahkan membantu menjadi relawan dan mengirimkan beragam bantuan. Itulah yang di kemudian hari, menginspirasi Muhammadiyah Surabaya membangun sebuah Poliklinik.

Dalam pembukaan Poliklinik pada hari Ahad, 14 September 1924 itu, juga dihadiri oleh perwakilan Pengurus Besar Muhammadiyah Haji Soedja’ dan Ki Bagus Hadikoesoemo. Pada kesempatan itu dr Soetomo, diamanahi untuk memberi sambutan kepada pada undangan sekaligus memperkenalkan pergerakan Muhammadiyah Surabaya.

Beliau mengenalkan Muhammadiyah yang di jiwai cinta kasih kepada Allah Swt dan Rasulullah yang tercermin pada cinta kasih sayang kepada sesama manusia dan dunia. Dalam pandangan beliau secara diametral berseberangan dengan darwinisme yang lahir dari pemikiran Struggle for The Fittes yang dalam bahasa dr Sutomo “berasas peperangan hidup”.

dr Sutomo juga mengenalkan kiprah Muhammadiyah mendirikan sekolah dan gerakan kepanduan Hizbul Wathan yang berkiprah menjadi relawan di banyak tempat. Respon para kader-kader yang tercerahkan inilah yang pada 1938 melahirkan Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO).

Kemudian tumbuh menjadi jaringan rumah sakit Muhammadiyah yang demikian banyak dan demikian besar memberikan manfaat kepada umat kepada masyarakat.

Ternyata situasi pandemi seabad silam itu justru sedikit atau banyak telah menggerakkan umat untuk mendirikan Muhammadiyah. Begitu juga Nahdlatul Ulama (NU) yang kini telah kokoh menjadi infrastruktur sosial negeri ini. Situasi ini juga memantik berdirinya organisasi-organisasi kebangsaan seperti Budi Utomo.

Momentum Isra’ Mi’raj

Maka momentum  Isra’ Mi’raj yang kita peringati ditengah pandemi covid-19 yang telah berjalan satu tahun ini marilah kita “baca pesan”. Kecintaan Hamba Terkasih Rasulullah Saw kepada kita para umatnya. Sampainya beliau di Sidratul Muntaha yang merupakan tempat yang tertinggi bagi seorang hamba, tidak menyebabkan beliau tetap tinggal ditempat tertinggi

Tetapi kembali ke bumi ini untuk menegakkan tugas kerisalahan. Membebaskan manusia dari pengekangan, penjajahan, perbudakan, memberi kecukupan makan bagi fakir, miskin, anak-anak yatim, mengabarkan pesan kesabaran dan kasih sayang. Pendeknya beliau menempuh jalan yang mendaki lagi sukar untuk menolong umatnya.

Pesan isra’ Mi’raj ini terasa menguat pada situasi seperti ini. Jika seabad silam respons para pendiri bangsa demikian fundamental?

Kini panggilan itu sampai kepada kita, setidaknya mampukah kita membangun infrastruktur taawun (saling tolong menolong) dan infrastruktur takaful (saling menjamin) yang lebih berkesesuaian dengan era digital?

Untuk infrastruktur taawun, insyaAllah model crowd funding yang ada telah mulai dirintis. Akan tetapi infrastruktur takaful dimana orang-orang fakir miskin yang sudah tidak produktif seperti lansia, difabel (baik yang difabel fisik maupun difabel mental seperti ODGJ) yang pada banyak kasus justru hidup pada keluarga yang miskin pula.

Artinya orang miskin yang tidak produktif harusnya menjadi wajib kifayah bagi orang orang mampu disekitar tempat tinggal mereka. Karena ketiadaan infrastruktur yang terpercaya justru menjadi beban tanggungan orang miskin pula.

Beberapa inisiatif seperti dilakukan oleh Baznas – Bazis DKI Jakarta yang membuat program “Bagi-I-Piring” yang dua tahun ini telah memberikan makan satu hari sekali kepada lansia dan difabel. Dilakukan melalui kerjasama dengan warung-warung disekitar tempat tinggal mereka dan dimonitor melalui aplikasi. Sehingga secara real-time dapat dipastikan akuntabilitas dari program ini.

Sayangnya program ini masih belum terekspos dan menjadi gerakan masyarakat untuk menjadi kafil (penjamin) bagi masyarakat yang kurang mampu. Semoga Isra’ Mi’raj kali ini menjadi pendorong bagi kita.


Saat Suharto Amjad, Wakil Ketua II Baznas Provinsi DKI Jakarta