Ekonomi

PKS: Kualitas Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tidak Baik

Avatar
×

PKS: Kualitas Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tidak Baik

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Dok. Istimewa.

BARISAN.CO – Kalau ditelusuri ke belakang, berdasarkan data World Development Indicators World Bank, tampak bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia 2000-2019 yang berkisar 5% tidak setinggi periode sebelum krisis 1998 yang mencapai 7%, yakni antara 1990-1997.

Mengomentari itu, Ketua Departemen Ekonomi & Pembangunan, Bidang Ekuin, DPP Partai Keadilan Sejahtera, Farouk Abdullah Alwyni menyebut perlunya data itu dijadikan peringatan bagi pemegang kebijakan agar segera memperbaiki kualitas pertumbuhan ekonomi.

“Meskipun kualitas pertumbuhan ekonomi Orde Baru tidak lepas dari kritik, khususnya terkait persoalan ketimpangan pendapatan, pada dasarnya dari sisi ini pertumbuhan di era reformasi juga tidak lebih baik, bahkan diindikasikan lebih buruk.” Kata Farouk Alwyni, Kamis (15/4).

Sebelumnya, World Bank (2016) juga pernah melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 2005-2015 hanya dinikmati oleh 20% masyarakat. Hal ini menunjukkan persoalan unequal growth, di mana pertumbuhan yang ada tidak bisa membawa kesejahteraan bagi mayoritas masyarakat.

Lebih lanjut Farouk menjelaskan bahwa berdasarkan data Asian Productivity Organization (APO) Productivity Databook 2020, kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia juga dapat dilihat dari Total Factor Productivity (TFP).

TFP adalah ukuran peran kapasitas teknologi dan kualitas institusi dalam pertumbuhan ekonomi. Dan, justru indikator tersebut berkontribusi negatif (-10%) pada medio 2015-2018. Bandingkan dengan Malaysia dan Korea yang masing-masing menacapai 20% dan 54% pada periode yang sama.

“Kualitas pertumbuhan yang tidak baik pada akhirnya juga berdampak terhadap keberlanjutan pertumbuhan ekonomi itu sendiri, yang diafirmasi oleh proyeksi komparatif IMF terakhir. Di mana, terjadi stagnasi atas pertumbuhan ekonomi Indonesia bahkan ketika negara-negara di dunia diprediksi akan mencapai pertumbuhan 6%,” imbuhnya Farouk Alwyni.

Selain itu, Farouk menyatakan selama ini ada kecenderungan para pemegang otoritas negara selalu merasa tidak ada yang salah dari pembangunan ekonomi Indonesia. Umumnya dikatakan bahwa Indonesia berada dalam kondisi yang baik-baik saja.

Menurut Farouk, alasan seperti itu justru menunjukkan pola pikir yang tidak mendalam melihat tantangan pertumbuhan dan pada akhirnya pembangunan ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

“Momen seperti ini harus membuat segenap pemegang kebijakan menyadari bahwa diperlukan pembenahan struktural yang serius jika kita ingin memperbaiki kualitas dan merealisasikan pertumbuhan ekonomi yang tinggi (berkisar 7% ke atas) dan mentransformasi Indonesia menjadi negara maju,” imbuh Farouk. [dmr]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *