Scroll untuk baca artikel
Terkini

Posisi Cadangan Devisa Bukan Terbesar Tanpa Alokasi IMF

Redaksi
×

Posisi Cadangan Devisa Bukan Terbesar Tanpa Alokasi IMF

Sebarkan artikel ini

Posisi cadev Indonesia, lanjut Awalil, selama belasan tahun terakhir lebih bersumber pada transaksi finansial. Ada kewajiban yang diakibatkannya, seperti pembayaran kembali pokok utang, membayar jasa berupa dividen dan bunga utang.

“Meski bertambah, risiko eksternal turut meningkat. Antara lain ditunjukkan oleh rasio cadangan devisa dan utang luar negeri (ULN), rasio beban pembayaran ULN, dan semacamnya. Bukan dari kinerja riil perekonomian seperti yang tercatat dalam transaksi berjalan,” paparnya.

Terkait dengan alokasi SDR dari IMF yang langsung menambah posisi cadev Indonesia pada bulan Agustus, Awalil juga menjelaskan beberapa karakteristiknya dalam webinar.

Menurutnya SDR yang diterima negara anggota dalam skema alokasi umum memang dicatat sebagai cadev negara bersangkutan dan tidak diberlakukan sebagai utang oleh IMF. Berbeda dengan skema pinjaman kepada IMF dalam kondisi tertentu, seperti yang saat krisis pernah dilakukan Indonesia.

SDR ini tidak dipergunakan langsung dalam transaksi. SDR yang dimiliki oleh suatu negara harus ditukar dahulu dengan negara lain sesama anggota IMF untuk memperoleh mata uang yang bisa dipakai untuk membayar impor atau kewajiban lainnya. Secara administrasi IMF mencatat transaksi tersebut dengan mengetahui pula beberapa informasi terkait.

IMF mencatat perubahan kepemilikan suatu negara atas kuota SDR. Baik dalam hal bertambah atau berkurang. Selisih posisinya dikenakan perolehan bunga atau beban bunga. Meski tingkat bunga SDR memang relatif kecil, namun tetap berfluktuasi.

Awalil mengingatkan bahwa SDR tidak akan segera dipakai oleh suatu negara, jika kondisinya tidak cukup memaksa. Pemakaiannya mengindikasikan negara tersebut mengalami kesulitan likuiditas internasionalnya.

Bentuk cadev lainnya sudah tidak mencukupi kebutuhan. Dampaknya bagi perekonomian menjadi sulit diprediksi, terutama terkait dengan kredibilitasnya dalam arus investasi dan utang piutang internasional.

“Kondisi eksternal perekonomian Indonesia saat ini tidak lah buruk dan sedikit membaik dibanding sebelum pandemi. Namun, belum bisa dinilai sebagai memiliki ketahanan eksternal yang kuat,” simpul Awalil menutup pemaparan. [ysn]