Scroll untuk baca artikel
Kolom

Presiden… Presiden… Presiden

Redaksi
×

Presiden… Presiden… Presiden

Sebarkan artikel ini

SALAT Tarawih di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam tiga hari terakhir seperti ajang pemanasan menjelang Pemilu 2024. Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Kampus UGM sepertinya memang sengaja menghadirkan tiga sosok gubernur yang masuk dalam radar sejumlah lembaga survei — baik lembaga sigi yang profesional sampai yang abal-abal — tampil dalam acara ceramah Ramadan.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan sudah tampil dengan pengalaman, catatan, dan agendanya masing-masing. Ketiganya tampil secara berurutan beda hari.

Seperti sudah dapat diduga, penampilan Anies pada 6 Ramadan 1443 Hijriah atau Kamis (7/4/2024), mendapat sambutan paling emosional dari jemaah masjid. Anies sampai tersendat untuk sampai keluar masjid karena para jamaah berebut bersalaman, berfoto dan ada juga yang memeluknya sangat erat.

Teriakan takbir dan presiden…presiden…presiden… tak putus-putus menyertai Anies keluar area masjid. Teriakan baru berhenti setelah Anies memasuki ruang istirahat yang disediakan panitia. Sebelum pintu ditutup jamah sempat berteriak, “Dadah Pak Anies…dadah Pak Anies!

Anies pun membalik badan dan melambaikan kedua tangannya kepada jamaah yang mengabadikannya lewat kamera dan juga gadget.

Dari ketiga gubernur yang tampil, Anies menjadi bintangnya. Tidak hanya karena sambutan yang histeris dari jamaah tetapi konten ceramahnya yang nyerempet rezim pusat dan juga banyak pengalaman lucu Anies yang didedahkan kepada jamaah. Anies yang selama ini terkesan serius malam tadi tampil seperti komika atau pemain standup comedy.

Di awal ceramah misalnya Anies bercerita tentang sejumlah kepandiran ala mahasiswa. Dari mulai temannya yang memilih tinggal di pesawat padahal harus transit gara-gara tak bisa buka seatbelt pesawat.

“Belakangan justru yang tadinya tak bisa buka seatbelt, di zaman Gus Dur karena dia jadi wartawan malah yang paling banyak melakukan perjalanan ke luar negeri,” kata Anies yang disambut tawa hadirin.

Anies juga menyebutkan pada zamannya ada macam-macam atau tipe mahasiswa. Pertama, ada jenis mahasiswa diktator. Mereka ini ke mana-mana bawa diktat.

“Kita sering menyebut mereka ini sebagai profesional individualis,” ujar Anies.

Kedua, mahasiswa organisatoris.

“Mahasiswa ini aktif di segala organisasi, kecuali kuliah,” guyon Anies.

Ketiga, mahasiswa proletarian. Rambutnya gondrong, tampilannya seperti jarang mandi.

“Dan yang dibicarakan selalu rakyat,” kata Anies disambut tawa jamaah.

Keempat, ada juga tipe asketis religius. Mereka ini sudah melampaui urusan keduniaan.

“Urusan sudah ukhrawi semuanya,” kata Anies.

“Itu kalau laki-laki tandanya apakah mata kakinya sudah terlihat atau tidak. Begitu kira-kira,” sambung Anies, penuh canda.

Kelima, jenis mahasiswa humanis sosialis individualis. Mereka ini paling rajin mengikuti berbagai seminar dan diskusi. Mereka juga rajin mencatat, duduk paling depan dan banyak bertanya.

“Kemana pun selalu bertanya dan memikirkan rakyat. Tapi sebatas ruang diskusi saja,” lagi Anies membuat lelucon.

Ngak ada action-nya. Tapi kalau sudah mendiskusikan semuanya itu merasa sepertinya masalah sudah selesai,” sambungnya.

Begitu juga, kata Anies, teman-teman mahasiswa suka baca buku. Di kos-kosan banyak buku. Sebagian dibaca dan sebagian lagi hanya untuk pemandangan.

“Dan bagi mahasiswa yang baru puber intelektual seperti kita pada saat itu bacanya suka yang rumit-rumit,” ceritanya.

“Makin sulit bacaannya makin puas di hadapan teman kos,” tutur Anies.

Dibandingkan dua gubernur sebelumnya Anies juga bicara lebih lepas. Beberapa pernyataannya menyerempet kebijakan rezim pusat. Misalnya ketika Anies berbicara tentang legasinya selama empat tahun ini.

“Alhamdulillah empat tahun ini dan memasuki lima tahun dan enam bulan lagi masuk pensiun. Soalnya ngak ada perpanjangan, Mas,” candanya merujuk pada wacana perpanjangan jabatan presiden dan penundaan Pemilu 2024.

Anies juga menyinggung tentang pejabat atau pemerintah yang seharusnya tidak mesti reaktif bila dikritik rakyat termasuk mahasiswa. Menurutnya mahasiswa itu sudah terbiasa berdebat dan mengkritik kenyataan.

“Karena itu kalau ada yang mengkritik tidak perlu dilaporkan,” kata Anies yang disambut tepuk tangan jamaah.

“Lanjut,” celetuk seorang jamaah.

Ojo ngompori, Mas,” sambar Anies sambil tertawa.

Menurut Anies kritik dan perdebatan itu hal yang lumrah.

“Kalau di kampus ada rasa takut untuk berbicara tentang kenyataan maka kampus itu sedang mengalami masalah,” cetus Anies.

Selain Anies, gubernur lain yang terlihat lepas dan kocak adalah Ridwan Kamil. Sepertinya Kang Emil, demikian gubernur yang juga arsitek kaliber internasional itu, diawal sedikit gugup mungkin karena bukan di wilayahnya.

Maklum Kang Emil bukan alumnus UGM tidak seperti Anies atau Ganjar. Kang Emil yang juga jebolan ITB ini bercandanya kurang seru karena dia lebih hidup kalau lebih banyak menggunakan idiom-idiom Sunda.

Lebih parah Ganjar yang seharusnya maksimal dalam ceramahnya karena di kandang sendiri malah tak ubahnya seorang gubernur yang tengah berpidato di hadapan para pamongnya.

Ganjar terlihat kikuk dan lebih banyak bercerita tentang program kerja dan prestasinya selama jadi gubernur. Rupanya Ganjar terganggu dengan spanduk yang dibentangkan jamaah di antaranya bertuliskan “Kelestarian Alam Bagian dari Iman“.

Spanduk itu sebagai bentuk protes kepada Ganjar atas kebijakannya mengizinkan penambangan batu andesit di Desa Wadas, Purworejo untuk kepentingan pembangunan Waduk Bener yang termasuk proyek strategis Presiden Jokowi.