Scroll untuk baca artikel
Blog

Presiden Vietnam Mundur, Tradisi Baru di Asean?

Redaksi
×

Presiden Vietnam Mundur, Tradisi Baru di Asean?

Sebarkan artikel ini

KABAR mengejutkan datang dari sesama anggota Asean yaitu Vietnam. Bukan soal tim sepakbolanya yang selalu mempecundangi Tim Nasional Indonesia melainkan perihal pengunduran diri Presiden Nguyen Xuan Phuc.

Apakah pengunduran diri presiden, pemimpin atau anggota kabinet di level Asean akan menjadi tradisi? Bisa saja seiring meningkatnya budaya malu (etika) di kalangan elite kekuasaan dan partai.

Janganlah terlalu jauh menyandingkannya dengan Inggris, Jepang, Korea Selatan atau negara lainnya. Pengunduran diri tidak berarti kalah tetapi sebagai bentuk tanggung jawab. Untuk menyelamatkan negara dari kebangkrutan, kekacauan atau kebuntuan.

Namun yang menarik dan membuat kita berkaca adalah soal alasan pengunduran diri. Presiden merasa gagal dan malu lantaran anak buahnya di kabinet terlibat korupsi atau bahasa halusnya menyalahgunakan wewenang.

Sebelumnya, Perdana Menteri Malaysia Muhyidin Yassin juga mengundurkan diri. Alasannya saja yang beda. Muhyidin mundur lantaran keanggotaannya di parlemen kalah mayoritas.

Sebenarnya Muhyidin bisa saja terus bertahan karena banyak juga masyarakat yang menginginkan kepemimpinannya berlanjut. Namun, secara moral kekuasaannya lemah dan tak memiliki legitimasi. Lantaran punya etika, Muhyiddin yang baru kuasa 17 bulan memilih mundur.

Tetapi yang lebih menarik untuk dicermati secara serius adalah kasus Vietnam. Negara ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Indonesia baik dari luas wilayah, jumlah penduduk hingga kekayaan sumber daya alamnya.

Namun negara komunis yang sempat terpuruk lantaran dibombardir Amerika Serikat dalam Perang Vietnam ini bersalin rupa menjadi negara yang dalam beberapa bidang justru menyalip negara sekawasan termasuk Indonesia.

Dalam bidang pertanian mereka lebih maju dari Indonesia dan terus menempel Thailand. Padahal pertanian dan budidaya bahan pangan mereka awalnya justru meniru Indonesia di zaman Orde Baru.

Lihat saja konsep penyediaan pangan yang paling dasar di Vietnam sangat mirip Indonesia. Di lingkungan rumah selain sawah juga ada kolam ikan, ada kandang hewan dan ternak dan juga kebun tanaman sayur-sayuran.

Bedanya, teknologi pertanian dan perikanan yang mereka gunakan semakin modern. Hasilnya mereka kini menjadi pengekspor beras, buah-buahan dan sayuran, tangkapan ikan dan bumbu dapur.

Kini semakin banyak saja restoran, toko dan pusat bumbu berasal dari Vietnam di Uni Eropa. Toko Asia identik dengan Toko Vietnam karena selain orang India dan Thailand belakangan marak toko dan restoran diaspora Vietnam. Lucunya, beli Indomie pun di toko orang Vietnam.

Nilai ekspor sampai November 2021, Vietnam membukukan angka US$371,9 miliar. Coba bandingkan dengan Indonesia yang hanya sekira US$268,2 miliar.

Begitu pun industri pariwisata mereka yang sangat terbatas dari jumlah destinasi justru bisa mengalahkan Indonesia. Seperti dikutip dari Katadata, tercatat pada 2022 pemasukan dari pariwisata mencapai US$16,5 miliar sementara Indonesia hanya US$4,3 miliar.

Jadi, Vietnam dalam bidang pertanian dulu ‘berguru’ kepada Indonesia, tidak salahnya kini dalam bidang politik Indonesia ‘berguru’ pada mereka. Mereka selangkah lebih maju dalam soal etika berpolitik.

Bukan untuk meniru partai tunggalnya dan otoritarianismenya tetapi mengadopsi sikap dan budaya politiknya: kalau tak mampu, malu, merasa gagal dan anak buah salah atau korupsi, mundurlah dari jabatan apapun!