Puisi

Puisi-puisi Mengenang Handry TM

Eko Tunas
×

Puisi-puisi Mengenang Handry TM

Sebarkan artikel ini
Mengenang Handry TM
Ilustrasi

MABOK TUHAN

Mabok tuhan aku
bagi perjalanan matamu
Pada lembah dan bukit kota itu
berakhir di matahari mata hatimu
Ingin aku bersujud antara dua kaki langit
Mohon jangan ada rimba hari jatuh menjauh

Di dua gunung aku menggambar sinar
Semoga seperti dulu
kala kanak aku mengenal bahasa garis
Lengkung cakrawala di sore gerimis
Sawah dengan gubug ibu petani
dan rel sebelum kereta api

O, aku ingin sejujur itu dalam mengungkap rasa
di hijau sabana hingga gelap santigi
Mengejar bayanganmu di antara geriap kuda
di pelupuk dan ringkik sampai senja
Entah warna entah hitam putih
engkau tetap garis hidup
di hari-hari cuaca…

Semarang 22 Februari 2023

MABOK MATAHARI

Mabok matahari aku di malam srengenge
bernyanyi soleram di ujung rembulan
Adakah kau mengingat tentang sop baso dan mendoan
sebelum cerita Sumbi dan si anjing cinta
Bintang-bintang hanya angan kepayang
lalu pasar bunga dengan penjaja para cenayang

Hidup mesti kita jalani seperti angin, katamu
kemana angan hati kan meningkap
Di hulu atau hilir kita tetiba ada
di sini, selalu di sini, tempat berjanji
Atau persinggahan saat jiwa merindu rimba
tak kau tahu betapa jauh kita bersua kita

Baiklah, mari kita bermain lato
di siang hari atau malam
Lalu kau berkata, kita bersua tapi tidak bisa bersaung
mestikah kita dipisah jarak dan waktu
Jika hari tak pernah berpihak di satu pihak
dan mabok berat kita pada dongeng tentang ibu…

Semarang 23 Februari 2023

MABOK KEPAYANG

Mabok kepayang aku pada mata mataharimu
di ujung segala tiba kehadiran sonya
Meruri jiwa tertunduk dalam setiap temu
diramu gaib maha ratu masalalu
Ini pembaringan maya dan kata-kata tanpa makna
kecuali rindu dirundung garba ibunda.

Sedih tak sedih yang telah berangkat ke hari
hari hati tak berkesudahan orang pinggiran
Lalu puisi yang dibacakan tidak bagi mereka
tapi untuk sang pilu sepi selalu
Kemudian sangsai badan di masa tersia
kita tetap di sini saling tatap mengaduh.

O, jiwa termuskil pada abad berabad cuaca
tak mati-mati oleh kesedihan terluka
Sebab orang-orang tak bisa pergi tak bisa pulang
karena tanah tergadai dah rumah dihinakan
Baiklah, sekali waktu kita bertemu
di mata matahari sebelum tiba waktu membatu.

Semarang 24 Februari 2023