Scroll untuk baca artikel
Blog

Rahasia Lidah – Cerpen Ramli Lahaping

Redaksi
×

Rahasia Lidah – Cerpen Ramli Lahaping

Sebarkan artikel ini

AKU bangun pagi lebih siang di hari libur ini, dan aku merasa lapar. Tetapi setelah menyibak tudung saji, yang terlihat hanya nasi dan tempe goreng, sisa makanan semalam. Aku pun jadi tak berselera mengisi perutku dengan hidangan itu. Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk membeli sebungkus nasi campur dan beberapa buah kue di warung depan rumahku.

Saat aku tengah menyantap jajanan tersebut, istriku pun datang sambil membawa belanjaannya berupa ikan dan sayur-mayur. “Kenapa tak menunggu sebentar, sih, untuk makan besar? Apa Papi tak suka lagi dengan bubur jagung buatanku?” tanyanya, dengan raut yang tampak kesal.

Aku lekas menelan kunyahanku, lalu membalasnya dengan kilahan yang manis, “Tentu saja aku suka masakan Mami. Tetapi maaf, aku merasa sudah sangat lapar.” Aku kemudian menggodanya dengan senyuman dan kedutan alis. “Nanti, kalau masakan Mami sudah masak, aku pasti melahapnya, kok. Siapa yang tak suka dengan masakan Mami yang lezat?”

Ia sontak tersipu mendengar pujianku. Ia pun tampak bersemangat mengiris-iris jagung.

Tetapi sejujurnya, aku tidak begitu berselera menyantap masakannya. Itu karena cita rasa sajiannya, selalu saja kurang pas di lidahku. Kadang terlalu manis, terlalu asin, atau terlalu asam. Tak pernah benar-benar memiliki takaran yang tepat bagiku.

Atas permasalahan rasa hidangannya itu, aku pun senantiasa bertanya-tanya perihal sebabnya. Bisa jadi, masakannya sudah baik, tetapi lidahkulah yang gagal mengecap rasa yang enak. Namun  setelah aku merasa melahap ketidakenakan yang terus-menerus atas sajiannya, aku pun memvonis bahwa perkara itu memang terjadi karena ketidakpandaiannya meramu masakan.

Tetapi sebagai suami, aku bersabar saja menyantap hidangannya. Apalagi, kami memang baru berumah tangga selama tiga bulan. Barangkali, ia masih perlu waktu untuk menyelaraskan rasa memasaknya dengan selera lidahku. Sebab itulah, aku senantiasa menyampaikan saran terkait rasa masakannya secara lembut, agar ia tidak tersingung dan terus belajar.

Karena kepedulian dan penghargaanku terhadapnya dalam hal masak-memasak, setiap kali sempat, aku akan membantunya menyiapkan bahan makanan. Di sela-sela itu, aku akan memberikan pendapat kepadanya perihal takaran bahan dan bumbu yang pas berdasarkan imajinasi dan ukuran pengecapanku sendiri. Seperti juga kali ini, setelah menyantap jajanan pagi, aku pun kembali mendampinginya meramu sajian bubur jagung.

“Apa jagungnya belum kebanyakan untuk bahan makanan kita berdua?” tanyaku, setelah menyaksikannya terus-menerus mengiris jagung muda. “Lebih baik, Mami buat secukupnya saja untuk santapan kita hari ini. Untuk besok, biar besok juga masaknya. Tak baik memakan makanan yang dipanaskan.”

Ia lantas tersenyum lebar. “Darto dan teman-teman Papi jadi ke sini hari ini, kan?”

Aku pun mengangguk dan mulai memahami maksudnya.

“Nah, kan lebih baik kalau aku masak banyak-banyak, biar mereka juga bisa mencicipi bubur jagung buatanku,” terangnya, dengan raut antusias. “Aku yakin, mereka pasti suka. Masakanku kan enak. Iya, kan?”

Karena kelimpungan meramu jawaban, aku mengangguk saja, dengan perasaan khawatir membayang-bayangkan situasi bersantap nantinya.

Tetapi aku tak mau mempermasalahkan atau menentang niatnya. Diam-diam, aku ingin menjadikan lidah teman-teman sekantorku sebagai alat penguji untuk mengetahui apakah lidahku yang tidak peka terhadap rasa enak, ataukah istriku yang memang tidak pandai dalam meramu masakan yang lezat.

Semalam, aku memang telah menceritakan kepadanya bahwa empat orang sekantorku di perusahan penjualan otomotif, akan bertandang ke rumah kami hari ini, sebelum tengah hari. Mereka adalah bawahanku, yang kuminta untuk datang dan menyerahkan laporan mereka secara mendadak perihal progres penjualan. Pasalnya, atasanku di kantor, juga tiba-tiba mendesak agar aku menyampaikan laporan kepadanya esok hari.

Salah satu di antara teman sekantorku yang akan datang adalah Darto. Ia adalah teman baik istriku di bangku SMA. Hal itu kuketahui berdasarkan pengakuan istriku sendiri, setelah aku menuturkan tentang sosok Darto. Karena itulah, istriku tampak begitu bersemangat menyambut kedatangan Darto dan tiga orang lainnya, seolah-olah ia akan menyambut tamu istimewa yang mesti dijamu dengan baik.

Tetapi diam-diam, aku sedikit waswas atas kedatangan Darto di rumahku. Pasalnya, dari seorang sepupuku yang merupakan teman sekolah Darto dan istriku dahulu, aku pun tahu bahwa Darto dan istriku merupakan dua orang yang bersahabat erat. Keduanya bahkan tampak lebih dekat ketimbang dengan teman-teman mereka yang lain. Keduanya memang tak pernah resmi sebagai sepasang kekasih, tetapi kenyataan itu tetap membuatku bertanya-tanya perihal perasaan di antara mereka. Karena itulah, kedatangan Darto untuk pertama kalinya ke rumah baruku, akan kujadikan sebagai kesempatan untuk memeriksa kalau-kalau mereka benar-benar punya perasaan yang terselubung.

Hingga akhirnya, 20 menit sebelum jam 11, Darto dan tiga orang teman sekantorku datang saat bubur jagung masakan istriku belum masak. Sebagai hidangan pengantar, istriku pun menyajikan minuman instan dan biskuit untuk mereka. Dengan hidangan sederhana itu, aku dan mereka kemudian mengobrolkan perihal laporan kerja mereka. Setelah hampir satu jam, aku pun merasa tidak menemukan permasalahan yang akan membuat atasanku kecewa.

Sesaat berselang, setelah urusan kantor di luar jam kerja tersebut selesai, istriku pun mengajak Darto dan tiga orang lainnya untuk beranjak ke ruang makan. Dengan sikap yang sedikit segan, mereka pun turut dan lekas duduk di kursi.

Sepanjang sesi perjamuan itu, aku pun mengamat-amati sikap Darto dan istriku. Aku berusaha membaca tanda-tanda kalau-kalau mereka memang pernah atau bahkan masih memiliki perasaan yang spesial satu sama lain. Tetapi meski begitu, aku tak ingin gegabah membenarkan tuduhanku sebelum mereka menunjukkan gelagat mencurigakan yang benar-benar terang.

“Bagaimana? Masakan bubur jagungku enak, kan?” tanya istriku dengan penuh percaya diri, sembari melayangkan pandangan pada Darto dan tiga orang lainnya.

Keempat orang itu pun mengangguk-angguk.

“Enak sekali,” kata Darto kemudian. “Ini adalah bubur jagung terenak yang pernah kumakan,” pujinya, dengan ekspresi meyakinkan.

Sontak saja, istriku tampak senang. “Terima kasih.”

Aku pun mulai curiga.

“Kenapa tidak makan, Pak? Apa Bapak sudah bosan menyantap makanan seenak ini setiap hari?” tanya Darto kepadaku, dengan sikap bercanda, sambil terus bersantap.

Aku lantas melayangkan senyuman simpul demi mengesankan keramahanku sebagai tuan rumah. “Aku masih kenyang. Nanti saja. Kalian makanlah,” kilahku, dengan maksud yang sebenarnya untuk mengindari hidangan istriku yang selalu gagal memuaskan lidahku.

“Seandainya istriku bisa memasak hidangan seenak ini, aku tidak akan pernah jajan di luar,” puji Darto lagi, sembari menoleh sekilas kepada istriku.

Lagi-lagi, istriku tampak senang.

Terang saja, melihat pujian Darto atas masakan istriku yang terdengar berlebihan, juga melihat respons istriku yang tampak tersanjung, aku pun jadi makin mencurigai mereka. Aku pun mulai menduga bahwa Darto memang bermaksud menyenangkan perasaan istriku sebagai pujaan hatinya, dan istriku sungguh-sungguh merasa senang sebagai seorang pujaan.

Akhirnya, atas tudinganku yang telah menguat, aku pun memendam rencana di waktu kemudian. Aku akan menanyai ketiga teman sekantorku yang lain perihal nilai rasa dari masakan istriku. Jawaban ketiganya akan kujadikan sebagai dasar untuk memvonis kecurigaanku atas pujian Darto terhadap masakan tersebut.

Beberapa lama kemudian, Darto dan ketiga teman kantorku akhirnya pulang.

“Ah, aku benar-benar senang. Darto dan teman-teman Papi yang lain, tampak puas menyantap masakanku,” tutur istriku, dengan wajah berseri-seri.

Aku hanya tertawa mendengkus mendengar tanggapan polosnya atas pujian-pujian yang kutaksir sebagai kebohongan itu.

Ia lantas berdiri dan membereskan alat makan dengan tingkah riang.

Waktu sudah lewat tengah hari. Karena merasa lapar, aku pun menyantap bubur jagung buatan istriku dengan nafsu yang lesu. Namun seketika pula, pada sendokan dan kunyahan yang pertama, aku pun terkejut dan terheran setelah mengecap sebuah kombinasi rasa yang sangat pas. [Luk]

Ramli Lahaping, lahir di Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Alumni Fakultas Hukum Unhas. Berkecimpung di lembaga pers mahasiswa (LPMH-UH) selama berstatus sebagai mahasiswa. Aktif menulis blog (sarubanglahaping.blogspot.com). Telah menerbitkan cerpen di sejumlah media daring. Bisa disapa melalui Twitter (@ramli_eksepsi).