Ngaji Bareng Gus Mus dalam Suluk Senen Pahingan Edisi 26 di Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen, Semarang, menjadi momentum perjalanan spiritual yang mengajak para jamaah untuk mensyukuri nikmat Allah SWT, di mana Gus Mus menekankan bahwa kesadaran akan anugerah-Nya adalah kunci utama dalam menemukan kebahagiaan sejati.
BARISAN.CO – Suluk Senen Pahingan Edisi 26 menjadi ruang perjalanan spiritual yang menghidupkan rasa syukur. Sebagaimana yang disampaikan KH Mustofa Bisri dalam Ngaji Bareng Gus Mus yang mengusung tema Merajut Hati Menjalin Silaturahmi Anak Bangsa.
Joglo Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen, Kota Semarang ini diterangi kehadiran seorang ulama kharismatik dan sosok penyair yang akrab disapa Gus Mus. Melalui momen Ngaji Selapanan yang digawangi Santri Bajingan (Bar Ngaji Mangan) ratusan jamaah berkumpul untuk bermuhasabah tentang syukur.
Gus Mus mengajak untuk bersyukur kepada Allah Swt.
“Kenapa saya mengajak bersyukur karena sering kali kita itu tidak menyadari adanya nikmat,” terangnya, Minggu (4/02/2024) malam.
Menurut Gus Mus, orang bersyukur itu syaratnya harus menyadari adanya anugerah nikmat dari Allah Swt.
“Kalau orang itu tidak menyadari nikmat dari Allah, tidak akan bersyukur. Jarang atau bahkan hampir tidak ada diantara kita yang mensyukuri, nikmat bernafas yang diberikan Allah Swt,” imbuhnya.
Lalu penyair yang dikenal dengan puisi balsam ini bercerita tentang nikmat bernafas dari sosok kawannya yang tidak pernah sakit.
“Ada kawan yang seperti Firaun, tidak pernah sakit, ngelu saja tidak pernah, pilek tidak pernah. Jadi begitu mendengar kabar masuk ICU di Jakarta, saya sengaja datang. Saya tunggu untuk diperkenankan tilek,” katanya.
Begitu ketemu dan pertama kali ngomong itu, sosok kawanya berkata, “Gus ternyata bernafas itu nikmat sekali.”
Menurut Gus Mus karena dia ini lama sekali diupayakan sedemikian ini sampai ia bisa bernafas dan penyakitnya tidak bisa bernafas.
“Hal inilah saya mengajak untuk bersyukur, nikmat Allah yang paling besar, minimal diantara yang paling besar yakni nikmat bernafas,” jelasnya.
Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen yang terletak di Semarang Timur ini, tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama dan umum akan tetapi juga menjadi pusat kajian seni dan budaya yang merangkul semua golongan.
Gus Mus, sosok yang telah menginspirasi banyak orang dengan kebijaksanaan dan pemikiran mendalamnya, tidak hanya mengajak untuk bersyukur tapi ia juga turut membacakan puisi.
Ia berpesan untuk bersyukur dan pembacaan puisi berkolaborasi dengan pelukis Sufprana Malik, sebelumnya Gus Mus mencoretkan huruf ba di kanvas yang telah disediakan.
Gus Mus menyampaikan, ini ada permintaan pembacaan puisi Palestina, meskipun saya membawa catatannya.
“Tapi saya orang demokrasi, saya meminta persetujuan Anda, Anda setuju saya akan baca,” kata Gus Mus kepada para jamaah yang hadir.
Para jamaahpun meneriakan persetujuan Gus Mus untuk membacakan puisi Palestina.
“Ini atas permintaan, katanya Mas Timur permintaanya Kiai Ubaid. Kalau yang minta Mas Timur, tidak curiga. Kalau itu yang minta misalnya Mas Muzamil, kie podo-podo NU, kalau tidak berani nyileh jenenge wong. Karena ini Pak Timur, saya percaya. Maka saya bawa puisi palestina,” terang pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin Rembang ini.
Lalu Gus Mus menerangkan sosok pengarang puisi Palestina, “Ini puisi karangannya penyair sangat terkenal sekali di Timur Tengah. Ia kelahiran Damaskus, kumpulan-kumpulan puisinya itu dicetak seperti Al-Quran.
“Dia punya berjilid-jilid puisi, itu kalau orang tidak tahu, bisa dikira Al-Quran. Nama penyair itu adalah Nizar Qabbani,” imbuhnya.
Gus Mus kembali sebelum baca puisi memberikan tawaran baca puisi dalam bahasa Indonesia tau bahasa Arab.
“Karena permintaannya Kiai Ubaid, ya mestinya pakai bahasa arab,” katanya.
Gus Muspun membacakan puisi berjudul Palestina dalam dua bahasa yakni diawali dengan pembacaan puisi berbahasa Arab dan dilanjutkan puisi berbahasa Indonesia.
Gelaran edisi khusus Ngaji Bareng Gus Mus ini juga ada pembacan puisi dari Sosiawan Leak yang membacakan puisi berjudul Gusjigang.
Puisi-puisi yang dilantunkan bukan sekadar rangkaian kata, melainkan pembebasan jiwa yang merayakan kehidupan, cinta, dan tentu saja, syukur.
Puisi-puisi tersebut bukan hanya sekadar sajian kata-kata, melainkan juga sarana untuk merenung dan meresapi keindahan hidup.
Tidak hanya menyelami rasa syukur dan pembacan puisi, musik keroncong Svarama turut memberikan sajian musik yang menarik. Terlebih lagi kolaborasi musik dari Santri Bajingan yakni Yanuar Kurniawan, Andy Sueb, Aditya Ilyas dan Imran Amirullah.
Melodi yang dihasilkan tidak hanya menghibur telinga, tetapi juga menggugah perasaan syukur di dalam hati setiap pendengar yakni para jamaah yang menghadiri Suluk Senen Pahingan Edisi 26, meski sebelumnya hujan deras menyelimuti kota Semarang.
Kegiatan rutinan selapanan edisi khusus Ngaji Bareng Gus Mus ditutup pembacaan doa oleh KH Haris Shodaqoh. Selanjutnya para jamaah menikmati sajian rutin kegiatan yakni setelah ngaji mangan atau setelah ngaji makan bersama sambil menikmati lantunan syiir Eling-Eling Siro Manungso yang dibawakan Santri Bajingan yakni Mbah Mung Paryono, Yoko, Syarif Rahmadi, Imron Amirullah dan Suroto. []









