Scroll untuk baca artikel
Edukasi

Refleksi Diri, Kunci Lebih Produktif dan Mengenal Diri Sendiri

Redaksi
×

Refleksi Diri, Kunci Lebih Produktif dan Mengenal Diri Sendiri

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – Pada setiap pergantian tahun, kita cenderung sibuk memikirkan resolusi daripada merefleksikan diri. Refleksi diri mirip seperti meditasi, namun lebih mengarah ke perenungan.

Refleksi diri adalah keterampilan yang penting dimiliki oleh manusia dalam semua aspek kehidupan. Tanpa itu, maka kita berjalan tanpa kesadaran dan cenderung sering bersikap reaktif terhadap orang lain dan juga diri sendiri.

Penelitian Giada Di Stefano, Fransesco Gino, Gary Pisano, dan Bradley Staats menemukan karyawan yang menghabiskan 15 menit untuk merefleksikan diri di penghujung hari akan bekinerja 23 persen lebih baik daripada mereka yang tidak melakukannya.

Selain itu, sebuah studi pada penumpang di Inggris menemukan hasil yang sama ketika mereka diminta menggunakan waktu perjalanannya menjadi jauh lebih bahagia, produktif, dan tidak terlalu merasa lelah.

Selain itu, refleksi diri juga bermanfaat untuk lebih mengenal diri sendiri. Dalam serangkaian survei, psikolog Tasha Eurich menemukan 95 persen orang cenderung berpikir mereka mengenali dirinya sendiri, padahal hanya 10 hingga 15 persennya yang benar-benar tahu. Tasha menyebut tiga alasan hal itu terjadi. Pertama, manusia secara alami memiliki titik buta.

Terhubung dengan autopilot membuat mereka tidak menyadari bagaimana berperilaku dan alasan di baliknya. Selanjutnya, ada efek perasaan lebih bahagia ketika melihat diri sendiri lebih positif. Alasan terakhir ialah kultus diri berupa gagasan bahwa manusia menjadi lebih mementingkan diri sendiri karena keterkenalannya di media sosial.

Untuk menjadi lebih sadar diri, menurut Tasha ada dua aspek yang perlu dilakukan, yakni: kesadaran eksternal dan internal. Kesadaran diri internal berupa pemahaman tentang nilai-nilai, hasrat, dan aspirasi.

Sedangkan kesadaran diri eksternal yaitu memahami diri sendiri dari luar ke dalam dari penilaian orang lain. Anehnya, dalam buku berjudul Insight yang ditulis olehnya, Tasha menyebut tidak ada hubungan antara sadar diri secara eksternal dengan internal.

Agar dapat meningkatkan kesadaran diri eksternal, Tasha menyarankan mencari kritikus yang pengasih. Temukan seseorang yang ingin melihat Anda sukses dan tanpa basa-basi mengatakan yang sebenarnya.

Tasha menyarankan untuk membuka percakapan dengan pertanyaan, “Apa hal yang bisa saya lakukan untuk berkontribusi bagi tim? Apa ada hal yang saya lakukan mengurangi kesuksesan tim?”

Beberapa orang takut menjadi lebih sadar diri akan melihat kenyataan buruk tentang dirinya sendiri. Tasha menyampaikan prosesnya bisa begitu sulit, misalnya mendapat umpan buruk dari kolega. Namun, Tasha menyebut kita perlu membiarkan diri untuk merasakan ketidaknyamanan tersebut.

“Dibutuhkan keberanian dan energi. Tapi itu benar-benar sepadan dengan usaha. Dan itu membantu kita menjadi lebih percaya diri dan lebih mengontrol kehidupan sendiri,” kata Tasha. [rif]