Scroll untuk baca artikel
Blog

Awal Mula Perayaan Pergantian Tahun, Ternyata Terjadi Jauh Sebelum Ada Kalender Masehi

Redaksi
×

Awal Mula Perayaan Pergantian Tahun, Ternyata Terjadi Jauh Sebelum Ada Kalender Masehi

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – Ada beragam cara dan tradisi yang dilakukan masyarakat di Indonesia untuk merayakan pergantian tahun. Beberapa di antaranya bahkan memiliki filosofi tersendiri dan dipercaya mampu membawa keberuntungan pada tahun mendatang.

Tradisi menyambut tahun baru sudah dilakukan dari tahun ke tahun. Biasanya, momen ini menjadi acara untuk berkumpul bersama keluarga atau teman. Mungkin salah satu dari kegiatan-kegiatan ini juga biasa kita lakukan bersama keluarga.

Perayaan malam tahun baru sebenarnya sudah dimulai pada sekitar 2000 SM. Perayaan ini dipelopori oleh masyarakat Mesopotamia. Karena waktu itu belum ada yang namanya kalender Masehi, patokan pergantian tahun mereka adalah saat matahari tepat berada di atas khatulistiwa.

Perayaan tradisional seperti itu disebut Nowruz. Nowruz adalah tahun baru Persia yang menandakan hari pertama musim semi. Biasanya dirayakan sekitar tanggal 21 Maret dan saat ini masih dilakukan di beberapa negara Timur Tengah.

Mengutip ruangguru.com, perayaan tahun baru pada 1 Januari untuk pertama kalinya dilakukan pada masa pemerintahan Kaisar Romawi Julius Caesar. Tepatnya adalah 1 Januari 46 SM.

Waktu itu, penanggalan Romawi yang sebelumnya dibuat oleh Romulus pada abad ke-8 mengalami pergantian. Penanggalan yang terdiri atas 10 bulan atau 304 hari dan dimulai pada bulan Maret ini kemudian ditambahkan bulan Januarius dan Februarius. Saat ini, kita mengenalnya dengan Januari dan Februari.

Saat Julius Caesar membuat penanggalan baru ini, ia dibantu oleh seorang ahli astronomi asal Mesir bernama Sosigenes. Penanggalan baru tersebut dibuat berdasarkan revolusi matahari seperti yang sudah dilakukan oleh bangsa Mesir kuno. Nah, setelah itu, 1 Januari ditetapkan sebagai hari pertama tahun. Setiap tahunnya terdiri atas 365 seperempat hari.

Nama Januari itu sendiri diambil dari nama dewa mitologi kuno Romawi, yaitu Dewa Janus yang punya dua wajah menghadap depan dan belakang. Menurut mitologi Romawi, Dewa Janus diyakini sebagai dewa permulaan dan penjaga pintu masuk. Untuk menghormati Dewa Janus, pada setiap tanggal 31 Desember tengah malam, bangsa Romawi mengadakan perayaan untuk menyambut 1 Januari.

Bangsa Romawi kuno merayakan tahun baru dengan mempersembahkan korban kepada Dewa Janus dan mengadakan pesta.

Meski begitu, sebenarnya 1 Januari saat itu belum masuk tahun masehi. Julius Caesar waktu itu setuju untuk menambahkan 67 hari di tahun 45 SM. Selanjutnya, 46 SM dimulai pada 1 Januari.

Julius Caesar juga memerintahkan untuk menambah satu hari setiap empat tahun sekali, tepatnya pada bulan Februari. Penanggalan ini dikenal dengan Kalender Julian yang diambil dari nama Julius Caesar.

Kalender Masehi itu sendiri terhitung sejak kelahiran Isa Al-Masih dari Nazaret, gengs. Penanggalan ini awal mulanya diadopsi di Eropa Barat pada sekitar abad ke-8.

Seiring berjalannya waktu, Kalender Julian dikembangkan dan dimodifikasi menjadi Kalender Gregorian. Penanggalan menggunakan Kalender Gregorian ini dicetuskan oleh Dr. Aloysius Lilius dengan persetujuan pemimpin tertinggi umat Katolik di Vatikan, Paus Gregory XIII pada tahun 1528.

Sistem inilah yang kemudian digunakan di negara-negara seluruh dunia. Sejak saat itu, setiap tanggal 31 Desember dilakukan perayaan malam pergantian tahun atau malam tahun baru.

Jadi tahun Masehi itu dihitung sejak kelahiran Isa Al-Masih. Tapi penanggalan kalendernya tetap menggunakan Kalender Julian yang dimodifikasi menjadi Kalender Gregorian seperti yang kita kenal sekarang ini.

Karena dirayakan oleh seluruh dunia, jadinya semakin meriah. Beragam tradisi dan pemujaan dalam perayaan tahun baru terus mengalami pergeseran makna. Banyak orang mulai membuat resolusi untuk mengubah kebiasaan buruk dan memulai kebiasaan baik. [rif]