Saat Pemerintah Dorong Nongkrong di Warung Kopi Agar Tak Resesi, Tak Ada Salahnya Kita Belajar Dari Monyet

  • Whatsapp

Barisan.co – Badan Pusat Statistik (BPS) bulan lalu mengumumkan, sepanjang kuartal II tahun ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 5,3 persen. Indonesia memang belum masuk kategori resesi, karena untuk bisa disebut resesi, pertumbuhan ekonomi harus minus di dua kuartal berturut-turut. Diketahui pada kuartal I pertumbuhan ekonomi masih positif.

Banyak ekonom yang menyarankan ini saatnya berhemat dan menunda belanja tidak perlu. Karena, bayang-bayang resesi terus menghantui selagi kita tak tahu kapan pandemi ini akan berakhir.

Bacaan Lainnya

Namun pemerintah saat ini malah menggenjot masyarakat untuk tetap belanja selama pandemi. Pemerintah justru mendorong aktivitas belanja dengan kebijakan bagi-bagi duit, seperti subsidi gaji Rp600 ribu buat karyawan swasta.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan salah satu faktor utama pertumbuhan ekonomi minus 5,32 persen yaitu rendahnya konsumsi masyarakat. Meski pusat perbelanjaan telah dibuka dan perjalanan tercatat telah menanjak sejak Juni, namun aktivitas masyarakat seperti ‘nongkrong’ atau ‘nongkrongtivitas’ masih rendah.

“Konsumsi menurun sangat tajam karena kalangan menengah bawah dalam situasi sangat rapuh. Kalangan menengah atas di rumah tapi masih bisa kegiatan digital, beli online. Tapi tidak mensubstitusi yang biasanya, pergi beli kopi atau nongkrong di warung, itu tidak terjadi,” ujarnya akhir bulan lalu.

Nah, dalam situasi begini, buat anak milenial yang baru pertama merasakan situasi yang seperti ini, ada baiknya kita belajar dari monyet.

Studi 2014 di Frontiers in Psychology yang memperkenalkan seekor monyet dengan jello dan es krim warna-warni berbagai rasa, beberapa di antaranya memiliki harga lebih tinggi daripada yang lain.

Bahkan setelah mempelajari harga untuk setiap makanan, monyet tidak menyukai pilihan yang lebih mahal ketika mereka diberi kesempatan untuk memilihnya secara bebas. Mereka tampaknya memahami bahwa kualitasnya sama, terlepas dari biayanya, yang kontras dengan penelitian serupa pada manusia.

Jadi pada saat kita ingin berbelanja jor-joran hanya karena biayanya menyiratkan kualitas tinggi, kita mungkin ingin bertanya pada diri sendiri; Monyet aja ngerti, buat apa beli yang mahal?

Sementara itu, dalam sebuah penelitian tahun 2011 di Journal of Experimental Psychology, sebuah eksperimen yang melibatkan enam Monyet Capuchin sebagai responden. Mereka masing-masing diberi nama sesuai karakter-karakter dalam film James Bond.

Sebelum eksperimen berlangsung, keenam monyet tersebut dilatih menukar koin logam kecil untuk makanan. Selanjutnya, mereka ditempatkan di dalam sebuah pasar miniatur. Adapun para peneliti bertindak sebagai penjual makanan yang menukar makanan dengan jumlah koin yang berbeda.

Dengan sedikit pelatihan, monyet-monyet itu berbelanja dengan peneliti yang menjual makanan lebih murah. Jadi jika monyet-monyet mendapat dua kali lipat makanan dengan satu koin, mereka akan berbelanja ke peneliti itu lebih sering.

Para monyet juga menunjukkan perilaku mirip manusia, seperti oportunistis. Mereka mencoba mengambil koin yang tergeletak begitu saja tanpa diperhatikan peneliti. Ini menunjukkan para monyet menganggap koin sebagai barang berharga.

Soal Resiko dalam setiap investasi, sikap monyet untuk mengambil risiko yang mungkin memberikan pelajaran paling menarik bagi manusia.

Para peneliti mengenalkan elemen pilihan ke dalam eksperimen sehingga monyet-monyet bisa bertransaksi dengan satu atau dua manusia.

Seorang peneliti akan memberikan mereka dua bongkah makanan (dalam hal ini anggur) setiap seekor monyet menukar koinnya. Pilihan ini tanpa risiko, opsi yang aman.

Namun hasilnya berbeda ketika peneliti menyajikan tiga buah anggur kepada para monyet. Peneliti pertama menghilangkan satu, meninggalkan monyet dengan dua buah anggur, sementara penjual lainnya mengulang taruhan yang bisa berakhir dengan ketiga buah anggur, atau hanya satu. Meskipun hasil tesnya sama, monyet lebih suka vendor yang berisiko dalam kasus ini.

Tampaknya beberapa primata lebih berani mempertaruhkan segalanya jika mereka mulai dengan lebih banyak lagi, yang dapat menjelaskan mengapa orang sangat rentan terhadap “sunk cost fallacy”.

Seperti manusia, monyet juga menghindari risiko jika mereka mulai dengan dana kecil dan bertaruh pada kemungkinan meningkatkan jumlah dana ter sebut. Sebaliknya, mereka lebih terbuka terhadap risiko jika mereka mulai dengan dana besar dan harus bertaruh pada kemungkinan kerugian dengan jumlah tersebut.

Salah seorang peneliti yang terlibat dalam penelitian itu Laurie Santos, mengatakan, bahwa kadang kala masuk akal menemukan cara-cara cerdik untuk mendesak orang bersikap berlawanan dengan insting menghancurkan yang dimiliki manusia.

Salah satu contohnya, menabung. “Banyak orang ingin menabung, tapi mengambil uang dari gaji dan menaruhnya di rekening tabungan bisa terasa seperti kehilangan,” ujarnya. []

Pos terkait