Scroll untuk baca artikel
Blog

Sebuah Repertoar Menghadapi Kejamnya Internet

Redaksi
×

Sebuah Repertoar Menghadapi Kejamnya Internet

Sebarkan artikel ini

Internet adalah pasar bebas informasi. Kita sebetulnya punya kuasa atas informasi yang hendak kita percaya. Sayangnya, hoaks atau informasi bohong selalu tampak lebih menarik, dan kita kerap buru-buru memercayainya ketimbang menunggu fakta sebuah peristiwa yang disampaikan secara komprehensif penuh penghayatan.

Kebohongan barangkali sudah menjelma sebagai tujuan kita hidup di dunia yang serba cepat ini. Kita, demi eksistensi di republik konten ini, seperti selalu sibuk mengejar kebohongan. “We chase misprinted lies,” kata grup rock asal Amerika Serikat, Alice In Chains, dalam lagunya berjudul Nutshell.

Ngomong-ngomong soal lagu, Nutshell rasanya persis menggambarkan gejala kita sekarang. Posisi karya itu mungkin dapat dianggap setara repertoar yang mengiringi kewaspadaan kita akan gejala internet yang makin gila. Dan itulah mengapa lagu rilisan tahun 1994 ini penting disimak.

We chase misprinted lies
We face the path of time
And yet I fight
And yet I fight
This battle all alone
No one to cry to
No place to call home

Sejak baris pertama, secara menarik Nutshell menyandingkan dua perkara yakni salah cetak (misprinted) dengan kebohongan(lies). Ada banyak pemaknaan yang bisa diambil tentang itu. Demikianlah boleh saja lirik tersebut berarti salah cetak ‘berakibat’ kebohongan. Atau bisa pula sebaliknya: Kebohongan justru adalah ‘tuntutan’ yang membuat salah cetak informasi dengan sendirinya terjadi.

Pengguna internet berbohong dengan caranya sendiri-sendiri. Ada yang bobot kebohongannya samar-samar, dengan mengatakan sedang plesiran hari ini tapi yang diunggah foto dua tahun lalu. Ada pula yang bobot kebohongannya platinum seperti media-media daring: Mereka memainkan umpan klik, menulis judul berita yang genit tapi bahkan isi artikelnya samasekali berbeda.

Kebohongan-kebohongan itu, sialnya, disampaikan di tengah dunia internet yang immaterial dan serba grusa-grusu. Di dunia internet semacam ini, tidak lagi mau meluangkan waktu untuk mempertanyakan kebenaran sebuah informasi. Paul Virilio pernah mengatakan, “Lenyapnya ruang materi, menggiring kita ke arah penguasaan waktu semata. Kebrutalan kecepatan telah menjadi tujuan sekaligus takdir dunia.”

Mari kita dengar Nutshell di bait berikutnya:

My gift of self is raped
My privacy is raked
And yet I find
And yet I find
Repeating in my head
If I can’t be my own
I’d feel better dead

Terdengar tidak asing? Mungkin karena kita merasakannya betul. Waktu-waktu yang semestinya kita hadiahkan kepada diri sendiri, entah bagaimana ceritanya, justru tersita gara-gara terhabiskan di internet. Pun, privasi kita—dan hal memalukan lainnya—begitu terbuka di dunia maya, seolah tinggal menunggu datangnya seseorang jahat untuk menyebarkan itu.

Begitulah sisi gelap internet, saudara-saudara. Dan lagu Nutshell karya Alice In Chains barangkali memang layak dijadikan repertoar menghadapi kejamnya dunia maya.

Nutshell mengungkapkan dengan persis apa yang kita alami. Pikiran yang dikemukakan dalam lirik lagu ini melingkupi pikiran kita, yang belum sempat atau belum dapat kita ungkapkan sendiri. Ia diciptakan tahun 1994, dan masih menggema hari ini, dan mungkin akan terus begitu mengingat bahwa dunia semakin hari semakin gemblung. []