Kesehatan

Sering Lupa? Begini Alasan Ilmiahnya

Anatasia Wahyudi
×

Sering Lupa? Begini Alasan Ilmiahnya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi by barisan.co

BARISAN.CO – Seseorang terkadang lupa mengerjakan atau mengatakan sesuatu yang padahal beberapa menit lalu sempat berada di kepala. Banyak orang yang akhirnya menganggap mereka memiliki ingatan yang buruk sehingga sulit untuk mengingat bahkan hari penting.

Namun, dikutip dari verywellmind.com, otak memiliki kapasitas terbatas dalam menyimpan dan mengingat sehingga menjadikan seseorang melupakan banyak hal. Selain itu, penelitian menemukan sekitar 56 persen informasi dilupakan dalam satu jam, 66 persen setelah satu hari, dan 75 persen setelah enam hari.

Lupa merupakan kehilangan atau perubahan informasi yang sebelumya disimpan dalam pikiran baik jangka pendek maupun jangka panjang. Hal itu bisa saja terjadi secara tiba-tiba ketika ingatan lama hilang. Misalnya, seseorang saat memasuki usia remaja, lupa akan pakaian yang dikenakan saat rekreasi pertama di sekolah dasarnya. Meski sering dianggap normal, namun lupa berlebihan dapat menjadi masalah yang jauh lebih serius.

Ada berbagai alasan seseorang lupa, yaitu:

1. Ketidakmampuan mengingat menjadi salahsatu penyebab paling umum. Peneliti menunjukkan otak secara aktif memangkas ingatan yang tidak berguna yang dikenal sebagai lupa aktif. Ingatan yang dipangkas menjadi hilang dan membuat seseorang lupa.

2. Terjadi gangguan yaitu gangguan proaktif yang terjadi ketika memori lama membuat sulit mengingat memori baru dan gangguan retroaktif yang terjadi ketika nformasi baru mengganggu kemampuan dalam mengingat informasi yang telah lama. Peneliti menilai saat seseorang mengambil beberapa informasi dari memori dapat menyebabkan kelupaan yang dipicu saat pengambilan informasi tersebut. Berupaya mengingat sesuatu dengan melupakan memori lain akan menjadi gangguan di masa depan. Untuk meminimalisirnya, dengan mempelajari hal-hal baru secara berlebihan sehingga informasi lama kemungkinan tidak akan hilang dengan yang baru.

3. Mengingat inti dari informasi sehingga cenderung melupakan banyak detail. Meskipun orang-orang terbiasa dengan benda sehari-hari, banyak orang yang tidak mengingat detail-detail penting. Misalnya, uang lembaran 5 ribu. Mungkin ingat warna dan nominal tulisannya, namun beberapa orang lupa nama pahlawan yang tertera di lembaran uang tersebut.

4. Berupaya melupakan sesuatu misalnya kenangan buruk yang memang sengaja dilupakan.

Selain itu, ada beberapa faktor lainnya seperti minum alcohol, depresi, kurang tidur, obat-obatan termasuk obat antidepresan, penenang, flu, dan alergi, dan juga stress.

Untuk meminimalisir kelupaan, disarankan untuk berolahrga, tidur yang cukup, berlatih mengingat informasi, dan jika semuanya gagal, maka tuliskan informasi penting tersebut sehingga sewaktu-waktu dapat digunakan untuk mengingat. Bahkan dalam beberapa kasus, menulis dapat membantu seseorang lebih banyak mengingat di kemudian hari.

Meski sering dianggap negatif, sebenarnya melupakan dapat meningkatkan daya ingat karena melepaskan ingatan yang tidak relevan dan hanya berpegang pada informasi yang penting. Hal itu disebut sebagai pelupaan adaptif yang membuat informnasi penting tersimpan menjadi lebih kuat.

Seperti yang disampaikan W.H Auden, beberapa dilupakan dengan tidak semestinya, tidak ada yang perlu diingat. Jadi, sekalipun seseorang lupa, mungkin mereka memang ingin menghapusnya dari memori mereka terutama kenangan buruk yang menimbulkan trauma.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *