Stres Tak Selalu Buruk

  • Whatsapp
Ilustrasi: unsplash/@entersge

Barisan.co – Siapa sih yang enggak pernah stres? Saya pikir semua manusia di dunia ini pasti pernah mengalami stres. Bedanya ada yang bisa mengelolanya, ada yang tidak.

Satu tahun lalu saya mengalami gangguan kesehatan. Dokter bilang penyebabnya adalah stres. Meski begitu ia tak melarang saya untuk stres. “Yang namanya hidup, manusia stres ya lumrah,” katanya.

Bacaan Lainnya

Stres adalah reaksi seseorang baik secara fisik maupun emosional (mental/psikis) apabila ada perubahan dari lingkungan yang mengharuskan seseorang menyesuaikan sendiri.

Stres merupakan hasil dari zat kimia otak (hormon) yang mengalir ke seluruh tubuh. Hormon-hormon ini membuat orang berkeringat, bernapas lebih cepat, mengencangkan otot, dan bersiap bertindak.

Stres ringan membantu orang memenuhi tenggat waktu, bersiap untuk persentasi, menjadi produktif, dan tiba tepat waktu pada acara penting. Namun, stres berat bisa menggangu kesehatan, baik mental maupun fisik.

Kok kesehatan mental dan fisik, hubungannya apa dok?” tanya saya.

Stres yang terjadi berlebihan dan berkepanjangan meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, penggunaan obat terlarang, masalah tidur, nyeri, dan ketegangan otot.

Dampak itu meningkatkan risiko masalah medis seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, sistem kekebalan yang lemah, kesulitan hamil, tekanan darah tinggi, penyakit kardiovaskular dan stroke.

Dunia kedokteran modern kini mulai percaya akan adanya hubungan sakit fisik dengan gangguan mental. Tak heran jika isu kehatan mental akhir-akhir ini menjadi ramai. Banyak pihak yang mengampanyekan jaga kesehatan mental.

Lalu saya teringat dengan buku yang berjudul “You Can Heal Your Life” yang ditulis oleh penulis berkebangsaan Amerika, Louise L. Hay. Ia menulis jika pikiran dan tubuh saling terhubung satu sama lain.

Selama ini pengobatan modern memusatkan perhatian pada menghilangkan gejala penyakit dalam tubuh melalui obat-obatan, teknik bedah dan kemoterapi, tapi Hay mengidentifikasi penyakit tubuh dari akarnya yang ia percaya gangguan kesehatan mental sebagai penyebabnya. 

Hay percaya stres dan pola pikir yang tidak sehat memengaruhi kerja tubuh. Di akhir buku tersebut, ia mencantumkan banyak penyakit dan berbagai pola pikir emosional yang menjadi penyebabnya.

“Karena stres adalah lazim dan akan selalu kamu hadapi, kamu harus bisa mengelolanya,” pesan dokter sebelum saya meninggalkan ruang praktiknya di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta Selatan itu.

Menurutnya mengelola stres bukanlah hal yang sulit. Cukup sadari dan kenali penyebabnya. Kelola itu menjadi hal yang positif.

Misalnya cari cara untuk keluar dari masalah itu dan ambil hikmah dari setiap kejadian. Pernyataan yang sama juga dilontarkan oleh psikolog dari Behave Clinic, Chitra Ananda Mulia, M.Psi pada Mimbar Virtual Barisanco, Selasa (17 November 2020).

“Akui, bahwa saat ini kita sedang dalam keadaan tidak baik, karena berpura-pura untuk selalu baik-baik saja itu melelahkan,” ujar Chitra.

Saat  berpura-pura, kita sibuk memerintahkan otak untuk berkata semua baik-baik saja. Akibatnya masalah tidak kelihatan dan tidak terselesaikan. Masalah yang tidak terselesaikan itu membuat perasaan kita terganggu, terusik, atau terancam.

Stres biasanya akan menimbulkan dua reaksi yaitu fight (bertahan untuk menghadapi) atau flight (kabur atau tidak menyelesaikan masalah).

Banyak orang yang kabur karena tidak mengakui masalahnya. Menerima dan berani memilih untuk hidup serta berkembang dengan kecemasan yang terkontrol membuat otak dan tubuh kita bisa membedakan antara alarm palsu dengan yang sebenarnya.

Dengan menyadari masalah memudahkan kita mengontrol apa yang bisa kita lakukan. Misalnya jika kita mengalami masalah kesehatan kita bisa kontrol dengan cara olahraga, memastikan asupan yang masuk ke tubuh kita baik dan gizinya seimbang, mengambil sumber vitamin D dari matahari juga makanan.

Setelah menyadari, cobalah bicarakan apa yang kita rasakan dengan orang terdekat. Berbincanglah dengan seseorang yang dipercaya. Jika tidak ada orang yang bisa dipercaya, kita bisa pergi ke profesional. Para profesional seperti psikolog memiliki kode etik yang bisa menjaga kerahasiaan kita.

Yang paling penting adalah temukan makna (self compassion) dan lebih memahami orang lain. Meski sedang dalam situasi yang tidak enak, kita harus tetap berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. “Apa sih yang bisa kita bantu untuk saat ini,” ujar Chitra.

Motivator asal Bali Gede Prama pernah mengatakan membantu orang lain bisa menyelamatkan kita. Seperti halnya Bunda Teresa yang bertahun-tahun merawat orang berpenyakit kusta, tapi ia sama sekali tidak terkena penyakit kusta. Cinta kasih seperti sayap jiwa yang membuat manusia tak bisa disentuh oleh virus manapun.

Kalau kita memiliki uang, kita bisa memberinya pada orang yang membutuhkan. Kalau hanya memiliki pengetahuan, kita bisa berbagi pengetahuan yang kita miliki. Kita juga bisa meluangkan waktu untuk mendengarkan orang lain. Dalam mendengar, kita belajar melihat sisi penderitaan orang lain, menumbuhkan sifat welas asih dan rasa syukur yang mendalam.

“Rasa syukur membangun sistem kekebalan psikologis yang memberi bantalan untuk kita ketika jatuh. Orang yang penuh syukur lebih kebal terhadap stres kecil dalam keseharian atau pun masalah pribadi besar,” kata psikolog Robert Emmons yang dikutip dari Kompas.com dengan judul artikel “Atasi Stres dengan Belajar Bersyukur”.

Jadi stres tak selalu buruk asalkan kita bisa mengelolanya dengan tepat. Dengan menyadari dan mengakui kita sedang tidak baik-baik saja, kita akan mudah mengontrol stres, menemukan solusi dari masalah dan membawa impact yang baik bagi kehidupan kita di hari ini dan yang akan datang.

Pos terkait