Scroll untuk baca artikel
Berita

Suluk Senen Pahingan: Menggali Potensi Perempuan dari Kreatif Menjadi Produktif

Redaksi
×

Suluk Senen Pahingan: Menggali Potensi Perempuan dari Kreatif Menjadi Produktif

Sebarkan artikel ini
suluk senen pahingan perempuan kreatif
Suluk Senen Pahingan edisi 33 (Lely Siang Pamungkas, Fitria Ulfa dan Mentari Isnaini)

Fitria menambahkan bahwa menjadi ibu yang produktif tidak hanya soal pekerjaan domestik, tetapi juga mengambil peran lebih besar dalam membangun keluarga.

“Perempuan memiliki tanggung jawab yang luar biasa. Dengan kemandirian dan kreativitas, mereka dapat menciptakan peluang yang membawa manfaat bagi keluarga dan masyarakat,” jelasnya.

Sebagai kreator konten di Facebook, Fitria juga berbagi tips tentang memanfaatkan teknologi untuk mendukung kreativitas perempuan.

Menurutnya, perempuan tidak hanya berperan sebagai pengasuh di rumah, tetapi juga sebagai penggerak perubahan melalui inovasi dan inisiatif yang bermanfaat.

“Produktivitas perempuan bukan hanya tentang keuntungan finansial, tetapi bagaimana mereka mampu menjadi sosok yang tangguh, mandiri, dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya,” tambahnya.

Perspektif Unik tentang Perempuan

Tidak hanya narasumber perempuan yang memberikan wawasan berharga, diskusi juga diwarnai dengan pandangan menarik dari jamaah Suluk Senen Pahingan.

Muhammad Nur Ihsan, salah satu peserta laki-laki, menyampaikan perspektifnya tentang keunikan perempuan.

“Perempuan itu luar biasa unik. Pola pikirnya kadang sulit dipahami secara logis, tetapi justru dari situlah kekuatannya muncul. Mereka mampu melakukan hal-hal besar yang kadang tidak bisa dijelaskan dengan logika,” ujarnya, yang disambut tawa dan anggukan setuju dari peserta lainnya.

Diskusi malam itu menjadi ruang refleksi bersama tentang peran perempuan sebagai individu yang kreatif, mandiri, dan produktif.

Tidak hanya sekadar berbagi wawasan, tetapi juga saling menginspirasi untuk menciptakan perubahan positif dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai penutup, acara dilanjutkan dengan Ngaji Bareng Mbah Ubaid yang diasuh langsung oleh KH Ubaidullah Shodaqoh, Rois Syuriah PWNU Jawa Tengah.

Dalam tausiyahnya, KH Ubaid menyoroti pentingnya peran perempuan dalam membangun keluarga, dengan mencontohkan sosok Solichah, istri KH Wahid Hasyim.

“Setelah KH Wahid Hasyim wafat, tanggung jawab besar mengurus keluarga jatuh sepenuhnya pada Solichah, yang saat itu sedang mengandung anak keenam. Meskipun tantangan hidup begitu besar, ia tetap tegar dan penuh kasih dalam membesarkan anak-anaknya,” ungkap KH Ubaid.

Solichah adalah sosok inspiratif yang berhasil membesarkan anak-anaknya hingga menjadi tokoh-tokoh penting bagi bangsa.

Salah satu anaknya, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, bahkan menjadi Presiden Keempat Republik Indonesia.

“Dedikasi Solichah menunjukkan peran penting seorang ibu dalam membentuk generasi penerus yang mampu memberikan sumbangsih besar bagi negara,” tutup KH Ubaid. [Luk]