Scroll untuk baca artikel
Kontemplasi

Syarat dan Makna Tobat Nasuha, Inilah Jalan yang Harus Dilalui Menurut Al-Ghazali

Redaksi
×

Syarat dan Makna Tobat Nasuha, Inilah Jalan yang Harus Dilalui Menurut Al-Ghazali

Sebarkan artikel ini

Tobat adalah kembali dari perbuatan maksiat atau dosa menuju taat kepada Allah, dan menyesali semua perbuatan dosa yang dilakukannya.

BARISAN.CO – Manusia tempatnya salah dan dosa, itulah gambaran bahwa manusia tidak ada yang sempurna. Namun salah dan dosa jika terus dikerjakan maka akan semakin menggunung. Akan tetapi jika mendekatkan diri melalui jalan kebaikan tidak dapat dipungkiri bisa menjadi hamba yang sempurna di hadapan Allah Swt. Oleh karena itu perlu penyadaran akan salah dan dosa yakni dengan jalan tobat.

Salah satu tokoh tasawuf yang membicarakan pentingnya seorang manusia mendekatkan diri kepada Allah Swt adalah Imam Al-Ghazali. Sang Imam membimbing manusia untuk senantiasa memperbaiki kualitas diri baik dengan ibadah maupun amalan lainnya.

Imam Al-Ghazali dengan karya monumentalnya Ihya Ulumuddin membimbing para pesalik atau hamba untuk melakukan ketundukan. Inilah jalan yang harus ditempuh sejatinya tasawuf yakni membimbing seseorang agar lebih dekat dengan Allah Swt.

Melalui jalan kebaikan terlebih lagi jalan tasawuf sebagai upaya penyucian jiwa untuk lebih dekat kepada sang maha pencipta. Sedangkan tobat adalah jalan pertama dalam pandangan tasawuf yakni maqam pertama yang harus dilalui seorang hambat atau seorang salik.

Lantas apa pengertian tobat itu? Tobat (توبة) merupakan bentuk masdari dari kata (تاب) taba, bentuk masdar lain yakni taubatan (توبا) artinya kembali atau menuju ke jalan Allah Swt. Sedangkan secara terminologi yakni kembali dari perbuatan maksiat atau dosa menuju taat kepada Allah, dan menyesali semua perbuatan dosa yang dilakukannya.

Sendangkan orang yang tobat di sebut atta’ib (التائب) yakni orang yang kemabli dari sesuatu yang dilarang menuju apa yang diperintahkan Allah Swt.

Imam Al-Ghazali menerangkan betapa terminal pertama ini sangat penting yang harus dilalui. Ada dua alasan yang disinggung Imam Al-Ghazali melalui kitab Minhajul Abidin yang dikutip dari terjemahan berjudul Jalan Para Ahli Ibadah yakni Pertama, agar engkau dibimimbing dalam beribadah kepada Allah Swt.

Sebab, perbuatan dosa itu pada akhirnya hanya mendatangkan kesengsaraan dan penderitaan. Dosa itu juga mengikat langkah seorang hamba sehingga sulit bergerak menuju jalan ketaatan atau bergegas untuk berkhidmat kepada-Nya.

Kaki menjadi berat untuk melangkah ke jalan kebajikan. Bahkan, perbuatan dosa yang dilakukan terus menerus dan semakin berat iitu, akan membuat hati seorang hamba menjadi hitam pekat dan keras.

Kedua, untuk bertoba adalah karena tobat, ibadah dan ketaatan itu merupaan jalan menuju pengadilan Allah Swt.

Seorang kreditur tidak akan mau menerima hadiah dari pengutangnya (debitur) sebab yang ditunttu seorang kreditur adalah agar si debitur itu membayar hutangnya.

Begitu pula dalam hubungan antara Allah Swt dan para hambanya. Allah Swt tidak mau menerima hadiah berupa ibadah dari para hambanya tanpa si hamba melakukan tobat, sebab tobat itu utama dari seorang hamba yang telah berdosa.

Maka bagaimana Allah swt akan meneriam hadiah ibadahmu, sementara hutangmu (tobat) yang sudah jatuh tempo belum juga engkau bayar?

Begitu juga sang Imam Al-Ghazali menjelaskan betapa pentingnya tobat nasuha. Ada sebuah pertanyaan tentang makna tobat nasuha, adapun pertanyaan tersebut yakni:

Apakah tobat nasuha ada batasannya dan apa yang harus dilakukan oleh seorang hamba agar ia terbebas dari semua dosanya?

Imam Al-Ghazali menerangkan tobat adalah salah satu tindakah hati. Seperti dikatakan para ulama, tobat adalah memebrsihkan hati dari perbuatan dosa.

AllahSwt berfirman dalam surah An-Nisa ayat 110:

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا