Edukasi

Tak Perlu Menyalahkan Hal Lain Saat Anak Terjatuh

Anatasia Wahyudi
×

Tak Perlu Menyalahkan Hal Lain Saat Anak Terjatuh

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi anak memakai plester luka di lututnya: Shutterstock

BARISAN.COApakah Anda pernah melihat atau mendengar anak yang jatuh, orangtua menyalahkan lantai atau semacamnya? Jika iya, orangtua tersebut sedang melakukan dua kesalahan dalam mendidik anak yaitu berbohong dan melempar kesalahan pada pihak lain.

Jatuh itu biasa. Ia harus merasakannya agar dapat belajar bangkit kembali. Orang dewasa pun demikian, namun terkadang berbeda pengertian “jatuh” yang dimaksud.

Saya termasuk sosok Ibu yang tidak panik ketika anak jatuh maupun terluka. Beberapa bulan yang lalu, anak saya terluka. Ia pulang dengan kaki berdarah. Kemudian saya bertanya kepadanya tentang apa yang terjadi.

“Nginjak beling,” katanya sambil menunjukkan kakinya.

Sambil membersihkan lukanya, saya pun kembali bertanya, “Kamu gak pakai sandal ya?” Ia pun mengangguk. Sebenarnya saya sudah tahu jawabannya, namun ingin memastikan kebenarannya.

Memang jauh sebelum kejadian itu terjadi, saya berpesan agar ia tetap menggunakan sandalnya kala bermain di hutan dekat rumah.

Namun anak-anak terkadang berontak dan tidak mendengar. Sehingga ia melakukan apapun yang sesuai dengan keinginannya. Biarkan mereka belajar dari kesalahannya agar lain kali tidak terulang hal yang sama.

Sejak ia kecil, saya tidak pernah menyalahkan pihak lain ketika ia terluka. Mungkin baginya, saya adalah sosok yang tak pernah membelanya. Namun, inilah cara untuk mendidiknya. Saat ia, terjatuh. Saya selalu mengatakan “Tidak apa-apa. Ayo bangun,”

Dua malam setelah ia terluka, kami berbincang. Saya mengatakan alasan tidak membelanya. Ia memahaminya. Bahkan ia mengatakan hal di luar dugaan.

“Aku tahu Mama melakukan itu karena tidak ingin mengajarkan berbohong. Lagian, mana mungkin beling yang salah. Aku yang salah karena tidak mengenakan sandal,”

Saya pun memeluknya setelah mendengar ucapannya dan menyadari jika anak-anak saat ini tumbuh lebih cepat dari yang kita duga. Walaupun usianya masih belum mencapai sepuluh tahun, ia sudah memahami hal yang dimaksud oleh orangtuanya.

Alasan untuk Tak Menyalahkan

Orangtua selalu berusaha ingin memberikan yang terbaik kepada anak termasuk soal mendidik, namun terkadang cara yang salah membuat anak tumbuh dengan tidak bertanggungjawab. Saat anak jatuh atau terluka, usahakan untuk tidak panik.

Biarkan anak menangis jika itu memang menyakitkan. Namun tidak dengan menyalahkan hal lain agar anak merasa baik. Celakanya jika dibiarkan terus-menerus, anak menjadi merasa selalu benar.

Selain itu juga, anak yang terbiasa mendapat respons seperti itu dari orangtua, kala dewasa ia akan merasa bahwa apapun yang dilakukannya benar. Ia dapat melempar tanggungjawab kepada yang lain.

Bahkan karena terbiasa dibohongi dengan cara menyalahkan lantai atau yang lainnya saat kecil, dikhawatirkan saat dewasa ia akan melakukan kebohongan.

Memang benar, anak adalah harta yang berharga. Akan tetapi, jangan biarkan harta tersebut berkembang dengan cara salah yang di kemudian hari akan disesali oleh para orangtua.

Anak-anak melakukan kesalahan itu wajar agar mereka belajar. Begitu pun jika mereka jatuh atau terluka karena ulah mereka sendiri. Sampaikan kepada mereka jika lain kali untuk lebih berhati-hati. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *