BARISAN.CO – Bisa melanjutkan jenjang pendidikan di luar negeri merupakan impian banyak orang. Termasuk bagi ahli hidrologi, Yanto Ph.D yang ingin sekali mendapatkan kesempatan belajar di luar negeri khususnya di Amerika Serikat (AS).
Begitu banyak pengorbanan termasuk jabatan, uang, dan waktu untuk dapat meraih impiannya tersebut. Yanto pun harus rela melepaskan jabatannya dari sebuah perusahaan konstruksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk kembali ke jalur pendidikan.
Yanto pun memutuskan mendaftarkan diri sebagai dosen dan diterima di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) pada tahun 2006. Saat menjadi dosen, Yanto gencar menghubungi profesor yang ada di beberapa negara, meski ia sempat ragu saat melihat nilai akademiknya untuk dapat diterima di AS. Yanto pun juga mencoba ke negara lain, seperti Arab Saudi.
Sebagai Ketua Pengelola Proyek hibah dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) pada tahun 2007, ia merasa beruntung karena dapat fasilitas internet yang tergolong barang mewah saat itu. Dengan penuh kegigihan, ia berulang kali mengirimkan curriculum vitae (CV) ke beberapa profesor. Sayangnya, hanya sekitar 10 persen yang membalas dan kurang 5 persen yang memberi tanggapan positif.
Saat penolakan demi penolakan ia terima, muncul program pemerintah untuk mencetak 5.000 doktor. Kesempatan ini itu pun tak ia sia-siakan, Yanto langsung mendaftar.
Namun demikian, muncul lagi permasalahan, syarat beasiswa S2 itu bisa diberikan salah satunya harus memiliki surat penerimaan dari profesor atau dari universitas di luar negeri. Sementara, surat rekomendasi yang Yanto terima dari dua profesor di dua universitas berbeda, yaitu Kyushu dan Tohoku University ternyata tak cukup memenuhi syarat untuk mendapatkan beasiswa. Karena Dikti mensyaratkan penerima beasiswa telah mendapatkan surat resmi dari universitas yang dituju. Selain itu, rencana keberangkatan antara bulan Agustus hingga September, sementara pendaftaran baru dibuka di dua universitas tersebut pada bulan Juni.
Hal itu tak lantas membuatnya putus asa. Ia mencoba mendaftar ke universitas lain yang dianggap paling sesuai dengan bidang keilmuannya.
Di tengah proses mendaftar ke universitas lain, Yanto menerima email dari seorang professor dari Universitas Michigan, AS. Saking begitu banyaknya CV yang ia kirimkan, Yanto lupa pernah mengirim email kesana. Sayang, isi email tersebut bukanlah kabar gembira seperti yang dibayangkannya, karena pihak universitas hanya menerima mahasiswa S2 yang memiliki biaya sendiri.
“Saya melihat ada peluang di poin terakhir. Saya pun membalas email tersebut dengan penekanan sudah mendapatkan beasiswa dari pemerintah Indonesia,” tutur Yanto kepada Tim Barisanco.
Meski memiliki biaya dari beasiswa, proses administrasi yang dibutuhkan untuk mendaftar ke Universitas Michigan tidak mudah. Hal ini dikarenakan, saat Yanto menerima email tersebut, proses pendaftaran resmi sudah ditutup. Pendaftaran untuk Fall Semester di kampus-kampus besar di Amerika Serikat umumnya ditutup tanggal 15 Januari setiap tahunnya.
Ada kemungkinan, Yanto harus membuang jauh-jauh impiannya untuk kuliah di Amerika. Profesor itu pun melanjutkan email-nya jika ia dapat meminta rekomendasi dari Kepala Departemen di Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas Michigan. Bagi Yanto itu adalah hal yang mustahil karena ia juga harus menyerahkan bukti kemampuan Bahasa Inggris dan hasil Tes GRE (Graduate Record Examination).
Tiba-tiba, Yanto terlintas ide cemerlang dalam kepalanya. Ia meminta professor tersebut untuk membantunya mendapatkan surat rekomendasi dari kepala departemen dan ia menyiapkan syarat lain yaitu Tes Toefl IBT (Internet Based Test) dan GRE.
“Karena waktu cukup mendesak, saya harus mencari tempat untuk Tes Toefl IBT dan GRE. Hanya lembaga tertentu yang melayani dan itupun tidak dibuka setiap bulan. Alhasil, saya punya waktu 5 minggu untuk menyiapkan kedua tes tersebut. Setiap hari, sepulang kerja, waktu saya habiskan untuk menyiapkan kedua tes tersebut. Karena Amerika adalah tujuan utama saya sekolah pasca sarjana.”
Di tengah proses upayanya untuk mendapatkan beasiswa di Amerika, Yanto mendapatkan surat penerimaan dari Universitas Stuttgart dengan ketentuan harus memperbaiki kemampuan bahasa Inggris setelah tiba di Jerman. Dengan helaan nafas panjang, Yanto membuat opsi jika surat penerimaan dari Jerman itu akan menjadi pilihan terakhirnya untuk melanjutkan pendidikan pasca sarjana.
Setelah mengikuti tes Toefl IBT dan GRE dengan biaya yang cukup mahal, Yanto begitu girang karena nilainya cukup memuaskan. Ia juga telah mendapatkan surat rekomendasi dari kepala departemen pada bulan Mei. Proses terakhir, ia hanya perlu mendaftarkan diri melalui website resmi Universitas Michigan.
“Sesuatu yang tidak biasa. Karena biasanya surat resmi dikirimkan sekitar bulan Maret,” tutur Yanto.
Yanto tak mau ambil pusing. Ia melapor ke Dikti agar proses administrasinya bisa di proses. Saat ditanya, perasaannya saat diterima di Universitas Michigan, ia berseloroh: “It’s like the dream comes true. Rasanya kayak kita sudah bisa terbang.”
Semua orang memiliki impian, namun tak semua orang dapat meraihnya dikarenakan beberapa hal. Seperti pribahasa jika tidak pecah ruyung, dimana boleh mendapat sagu. Sebagian orang ada yang mengorbankan waktu, tenaga, dan uang untuk mencapainya, dan bahkan ada yang hingga berdarah-darah.
Kisah Yanto ini dapat menginspirasi bagi para pencari beasiswa terutama saat ini sudah banyak organisasi yang memberikan beasiswa. Usaha itu takkan mengkhinati hasil terutama bagi mereka yang gigih seperti Yanto. [rif]
