Scroll untuk baca artikel
Ragam

Tradisi Lebaran dan Makna Ketupat: Simbol Kebersamaan dan Kesucian

×

Tradisi Lebaran dan Makna Ketupat: Simbol Kebersamaan dan Kesucian

Sebarkan artikel ini
makna ketupat
Ilustrasi/Barisan.co

Di balik anyaman rumit ketupat, tersimpan filosofi mendalam tentang kesalahan, pengampunan, dan kembali pada fitrah.

BARISAN.CO – Lebaran bukan sekadar perayaan kemenangan, tetapi juga momentum mendalam yang tersirat dalam makna ketupat anyaman rumit yang melambangkan perjalanan hidup penuh ujian, hingga akhirnya kembali pada kesucian.

Lebaran atau Idul Fitri adalah momen yang sangat dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia. Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, Hari Raya Idul Fitri menjadi saat kemenangan, di mana umat Islam kembali kepada fitrah, bersih dari dosa, dan mempererat tali silaturahmi.

Di Indonesia, perayaan Lebaran tidak hanya sekadar menjalankan salat Id dan bermaaf-maafan, tetapi juga dipenuhi dengan berbagai tradisi unik yang telah diwariskan secara turun-temurun. Salah satunya adalah tradisi ketupat, yang menjadi simbol khas dalam perayaan Lebaran.

Ketupat bukan sekadar hidangan pendamping opor ayam atau rendang di meja makan saat Lebaran. Ia menyimpan makna filosofis yang mendalam, terutama dalam ajaran Islam dan budaya masyarakat Nusantara.

Tradisi ketupat diyakini diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga pada masa kerajaan Demak di abad ke-15 sebagai bentuk akulturasi budaya Islam dengan kearifan lokal masyarakat Jawa.

Dalam bahasa Jawa, ketupat berasal dari kata “kupat” yang merupakan kependekan dari “ngaku lepat”, yang berarti mengakui kesalahan. Ini selaras dengan esensi Idul Fitri, yaitu momen untuk saling memaafkan, menyadari kesalahan, dan memperbaiki diri.

Dalam ajaran Islam, meminta dan memberi maaf menjadi salah satu bagian penting dari penyucian diri, sehingga ketupat menjadi simbol rekonsiliasi dan kebersamaan.

Makna Simbolik Ketupat

Sunan Kalijaga dengan kecerdasannya tidak hanya mengenalkan ketupat sebagai makanan khas Lebaran, tetapi juga sebagai simbol yang sarat makna. Beberapa makna filosofis dari ketupat antara lain:

1. Janur sebagai Lambang Cahaya Ilahi

Ketupat terbuat dari janur atau daun kelapa muda. Dalam bahasa Arab, janur dapat diartikan sebagai “Ja’a Nur” yang berarti “datangnya cahaya” atau “Jannatun Nur” yang bermakna “cahaya surga”.

Ini mencerminkan harapan agar setiap insan yang telah menjalani Ramadan dengan baik dapat meraih cahaya kebaikan dan keberkahan di hari kemenangan.

2. Anyaman Rumit Melambangkan Kehidupan

Proses pembuatan ketupat yang rumit dengan anyaman yang menyilang-menyilang menggambarkan lika-liku kehidupan manusia yang penuh dengan kesalahan dan ujian.

Namun, saat ketupat dibuka, bagian dalamnya berwarna putih bersih, melambangkan hati yang kembali suci setelah melalui perjalanan penuh rintangan dan dosa.

Angka Tiga dan Empat dalam KetupatSecara simbolik, ketupat juga merepresentasikan hubungan dengan Rukun Islam. Kata “ketupat” bisa diartikan sebagai gabungan dari angka tiga (telu) dan empat (papat).

Angka tiga melambangkan puasa Ramadan sebagai rukun Islam ketiga, sedangkan angka empat melambangkan zakat sebagai rukun Islam keempat. Ini menegaskan bahwa ibadah puasa harus disertai dengan zakat agar sempurna.

3. Makna Kebersamaan dan Ukhuwah Islamiyah

Dalam bahasa Arab, ketupat juga dikaitkan dengan kata “tauifat”, yang berarti kelompok atau jamaah. Ini mencerminkan pentingnya kebersamaan dalam Islam. Lebaran menjadi ajang untuk saling berkunjung, mempererat tali persaudaraan, dan menjaga hubungan baik dengan sesama.

4. Empat Perkara Kehidupan

Makna lain dari ketupat adalah “mangku perkoro papat” atau empat hal penting dalam kehidupan, yaitu:

  • Menjaga hawa nafsu selama Ramadan
  • Mendirikan salat malam untuk mendekatkan diri kepada Allah
  • Membaca Al-Qur’an (tadarus) untuk memperoleh petunjuk
  • Menunaikan zakat dan beramal sebagai bentuk kepedulian sosial

Di berbagai daerah di Indonesia, ketupat tidak hanya menjadi makanan khas Lebaran, tetapi juga bagian dari tradisi budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Misalnya:

Di Jawa, ketupat sering dihidangkan dalam acara Halalbihalal sebagai simbol saling memaafkan. Di Betawi, terdapat tradisi “Lebaran Ketupat” yang dirayakan satu minggu setelah Idul Fitri dengan berbagai kegiatan syukuran dan berbagi ketupat.

Di Bali dan Lombok, ketupat digunakan dalam upacara adat yang mengandung nilai religius dan kebersamaan.

Tradisi Lebaran dan ketupat adalah warisan budaya yang mengandung makna spiritual dan sosial yang sangat dalam. Ketupat bukan sekadar makanan khas Idul Fitri, tetapi juga simbol perjalanan hidup manusia yang penuh dengan kesalahan dan harapan untuk kembali kepada kesucian.

Dengan memahami filosofi ketupat, kita diajak untuk lebih menghargai esensi Idul Fitri, yaitu kembali kepada fitrah dengan hati yang bersih, penuh kebersamaan, dan terus menjaga tali silaturahmi.

Idul Fitri bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga momen refleksi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Semoga setiap ketupat yang kita santap membawa berkah dan makna yang lebih dalam bagi kehidupan kita. Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin. []