SAYA termasuk orang yang cenderung melihat Budi Maryono, berikut layaknya wujud takzim saya sebut Mas Budi, sebagai sosok kocak. Ia tak bisa menyembunyikan sesuatu yang tak mengundang tawa orang lain. Kehadirannya adalah penggeli. Pun karya-karya tulisnya, kuyub bernuansa jenaka. Sebut saja, dari judulnya saja gamblang mengetengahkan selera humor si penulis: Bapak Nakaaal…!, Punya Istri Memang Berat, dan yang lainnya.
Awal saya mengenal Mas Budi via buku kumpulan cerpen Semar Yes!. Saya langsung jatuh cinta pada cara ungkap yang tak bertele-tele. Mas Budi cermat dalam memilih kata pembuka, yang langsung memikat saya untuk menyuntuki hingga tuntas. Kalimat yang tak panjang. Sehimpunan kata yang tidak bikin capek atau bosan. Benar-benar Mas Budi kampiun dalam menjahit kata.
Perkenalan demi perkenalan pun terus berlanjut. Buku berikutnya yang sukses saya tamatkan adalah Catatan Harian Mengunyah Rindu, kemudian Bapak Nakaaal…!, Punya Istri Memang Berat, dan Jula-Juli Cinta Mini.
Dan tak hanya lewat buku, saya pula bersemuka dalam forum-forum kebudayaan, yang menghadirkan Mas Budi sebagai narasumber utama. Lagi-lagi kesan saya padanya: penghibur. Ia sanggup menyentil saraf tawa siapa pun, baik yang mendengar langsung maupun membaca bukunya.
Nah, Ustad Salim Menangis merupakan kumpulan cerita pendek Mas Budi yang terbit November 2019. Alhamdulillah, saya juga telah menamatkannya tak lama setelah mendapatkan buku tersebut. Dalam kumpulan cerpen itu, kian jelas, Mas Budi tak sekadar berkoar. Tak semata berindah-indah kata. Dan pula, tak sekali pun berhendak menekankan canda.
Dari Ustad Salim Menangis, saya menemu kedalaman Mas Budi selaku manusia rohani. Ia, selain cermat menghidangkan masalah-masalah sosial yang acap luput dari perhatian awam kita, menyajikan penghayatan bertuhan. Pengalaman beragama (Islam), yang saya tangkap dari penuturannya, tak semata ritual teknis. Tak sebatas berasyik masyuk dengan kedisiplinan ibadah mahda.
Bagi Mas Budi, hidup adalah perputaran rahmat. “Saya dan istri tak sedang berjualan, tapi melayani kebutuhan tetangga, meski hanya berupa autan, atau permen buat anak-anak.” Ungkapnya dalam suatu majelis maiyah, forum pengajian kebudayaan di Pringapus, Kabupaten Semarang.
Memang betul, ia membuka warung kecil di rumahnya di kompleks perumahan Sendang Mulyo, Semarang. “Saya itu sudah tak lagi menghitung untung atau rugi, sebab saya hanya menjadi sarana perputaran rahmat Tuhan!” tandasnya lagi.
Rahasianya, tuturnya, Tuhan itu Mahabaik. Tuhan itu dekat. Ia maha menebar berkah, karunia, dan welas kasih. Namun ironis bahwa kitalah yang justru menjauh, dan terus menjauh. Kita tak sanggup mempertahankan kedekatan dengan Tuhan. Tak menghadirkan Tuhan. Gagal menjadi sarana pergiliran kerahiman. Gagal sebagai saksi bahwa Tuhan Mahabaik.
Dalam Ustad Salim Menangis, Mas Budi melalui tokoh Ridar menggugat kesadaran tersebut. Ridar yang kian terpuruk dan tak berdaya, seolah jadi perlambang kita, yang lalai merunut siapa kita. Kita sebetulnya lagi menghamba pada Tuhan, menghamba pada akal pikiran, atau menghamba pada nafsu.
“Gamblang sudah, kamu menghamba pada akal pikiran dan nafsu sekaligus. Kamu melupakan asal-muasal. Arwahmu telah lupa pada janji setianya di hadapan Tuhan. Tidak ada pilihan lain, kamu harus….” (hal. 25).
Sekira kita hamba Tuhan, tak lain tak bukan kita bertugas menghadirkan Tuhan. Menghadirkan rahmat-Nya. “Aku ada karena aku hadir”, hadir untuk berbagi rahmat. Dan si penulis, yang mengabadikan status “…dari embuh ke embuh….”, membentang konsep itu lewat tokoh Ahmad Kudus.
Tersebut Ahmad Kudus meluluskan harapan Pak Salim. Pak Salim, ustad di sebuah langgar, protes pada Tuhan karena tak kunjung menginjakkan kaki di Tanah Suci. Ia marah kenapa terus-menerus bergulat dalam hidup yang serbapas-pasan. Padahal ia rajin beribadah. Ia tak pernah absen mengajari bocah-bocah membaca Al-Qurán.
Namun, Pak Salim pantang jemu melangitkan harapan. “Ya Allah, sungguh aku tak takut mati. Tapi sungguh pula aku tidak ingin mati sebelum berkunjung ke rumah yang dibangun oleh Ibrahim, dijaga oleh burung-burung ababil, dipelihara oleh Muhammad rasul terakhir, pusat seluruh umat Islam berkiblat. Ya Allah, lempangkanlah jalan menuju rumah-Mu itu…”(hal. 78).
Dan adalah Ahmad Kudus datang sebagai saksi kehadiran Tuhan. Ia menjawab doa Pak Salim. “Besok saya akan menyuruh seseorang untuk mengantarkan uang kepada Ustad. Sangat cukup untuk ongkos naik haji Ustad beserta istri tanpa antre. Ustad tidak pinjam atau utang pada saya. Karena itu, tidak perlu berpikir untuk mengembalikan atau membayar. Yang penting, gunakan uang itu sesuai dengan maksud saya memberikannya kepada Ustad.”(hal. 82).
Demikian, Mas Budi dengan Ustad Salim-nya. Mas Budi sebagai pengisah yang cermat terhadap masalah yang umumnya luput dari perhatian kita. Ada 10 cerita dalam Ustad Salim Menangis, dan setiap kisah sarat makna.
Kaya perlambang dengan diksi indah, sehingga enak dibaca. Ada 10 cerita, yang setiap cerita seolah berdiri sendiri, tapi saya menangkap sebagai satu kesatuan. Mas Budi hendak menegaskan konsep keberagamaanya, yakni sebuah kerinduan yang teramat sangat untuk selalu berbagi rahmat. Sebuah ungkapan pengabdian pada Tuhan yang maujud pengabdian pada kehidupan seutuh hidup.


