Ayat ini mengajarkan bahwa kekuasaan tanpa akidah dan takwa akan berubah menjadi alat penindasan yang jauh dari keadilan Islam.
BARISAN.CO – Dalam kehidupan sosial maupun politik, kekuasaan sering kali menjadi ujian terbesar bagi manusia. Tak jarang, seseorang yang diberi wewenang berubah menjadi tiran yang kejam dan semena-mena. Fenomena seperti ini telah diabadikan dalam Al-Qur’an, yang berbunyi: “Waidza Batostum Batostum Jabarin.”
Sebagaimana firman Allah dalam Surat Asy-Syu’ara ayat 130:
وَاِذَا بَطَشْتُمْ بَطَشْتُمْ جَبَّارِيْنَۚ
“Waidza Batostum Batostum Jabarin”
Artinya: “Dan apabila kamu menyiksa, kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis.”
Ayat ini merupakan salah satu penggalan firman Allah yang penuh peringatan dalam Surah Asy-Syu‘ara ayat ke-130.
Allah Swt melalui lisan Nabi Hud ‘alaihis salam mengecam sikap sewenang-wenang kaum ‘Ad yang berlaku bengis dan otoriter ketika mereka memiliki kekuasaan. Mereka memukul dengan cambuk, membunuh dengan pedang, dan menindas tanpa perikemanusiaan.
Dalam tafsir Ath-Thabari halaman 653 disebutkan secara jelas konteks kekejaman tersebut:
“Al-Qasim menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Husain menceritakan kepada kami, ia berkata: Hajjaj menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Juraij berkata tentang ayat: ‘(وَاِذَا بَطَشْتُمْ بَطَشْتُمْ جَبَّارِيْنَۚ)’ Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang kejam dan bengis, ia berkata: Maknanya adalah membunuh dengan pedang dan cambuk.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dan Abu Ja‘far An-Nuhhas dalam Ma‘ani al-Qur’an)
Ayat ini bukan hanya deskripsi historis atas kelakuan kaum terdahulu, tetapi juga peringatan abadi bagi umat manusia sepanjang zaman.
Betapa kuasa dan kedudukan sering kali membutakan mata hati manusia. Kekuasaan yang seharusnya menjadi amanah justru berubah menjadi alat penindasan.
Sedangkan menurut Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah (halaman 102), makna “Jabbariin” yakni kata “جَبَّارِيْنَ” (Jabbariin) adalah bentuk jamak dari “جَبَّار” (Jabbar).
Kata ini berasal dari akar kata jabara yang berarti ‘memperbaiki yang patah’, namun dalam konteks kepribadian, ia meluas menjadi makna keagungan, keperkasaan, dan kekuasaan mutlak yang memaksa.
Ketika sifat “Jabbar” disandarkan kepada Allah, itu adalah pujian. Allah adalah “Al-Jabbar“, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Perkasa, yang dengan kehendak-Nya seluruh makhluk tunduk.
Hal ini dijelaskan dalam surah Thaha ayat 111:
وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّوْمِۚ وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا
Artinya: “Dan tunduklah wajah-wajah (manusia) kepada Tuhan Yang Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri. Dan sungguh rugilah orang yang membawa kezaliman.” (QS. Thaha: 111)
Namun, ketika manusia mencoba menyandang sifat ini, apalagi dengan cara menindas dan memaksa, maka itu menjadi bentuk kesombongan dan ketidakpantasan.
Manusia adalah makhluk lemah. Tidak wajar, bahkan tercela jika seorang hamba ingin disembah, ditakuti, dan ditaati dengan cara paksa seperti Tuhan.
Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, setelah digambarkan bahwa kaum tersebut tidak berpikir dan tidak mempercayai adanya hari pembalasan, maka kelakuan mereka menjadi liar.
Tidak ada moral, tidak ada pertimbangan akhirat. Mereka menyiksa secara berlebihan. Maka Nabi Hud pun mengingatkan: Bertakwalah kepada Allah dan patuhilah aku.
Hal ini menunjukkan bahwa akidah yang benar sangat berpengaruh pada moral sosial. Ketika seseorang kehilangan rasa takut kepada Allah dan tidak percaya pada kehidupan setelah mati, maka ia bisa menjadi manusia paling buas di muka bumi. Tidak ada lagi empati, tidak ada lagi keadilan.
Ayat ini sangat relevan dengan situasi zaman sekarang. Ketika manusia diberi amanah kekuasaan baik dalam rumah tangga, organisasi, maupun pemerintahan mereka harus menjaga amanah itu dengan penuh rasa takut kepada Allah.
Jika tidak, bisa jadi mereka termasuk golongan yang dicela dalam firman Allah tersebut. Menegaskan bahwa dalam Islam, kekuatan harus diiringi dengan keadilan.
Keberanian harus diimbangi dengan kasih sayang. Dan kepemimpinan harus dituntun oleh nilai takwa, bukan oleh hawa nafsu dan keinginan untuk memaksakan kehendak.
Makna dari Waidza Batostum Batostum Jabarin adalah teguran keras terhadap setiap bentuk penyalahgunaan kekuasaan.
Sifat “jabbar” yang hanya pantas bagi Allah, tidak layak dimiliki oleh manusia. Maka, hendaknya setiap Muslim menjadikan ayat ini sebagai cermin dan pengingat agar tidak menjadi pelaku kezaliman, tetapi menjadi pemimpin yang adil, penuh kasih, dan bertakwa. []
Wallahu a‘lam.









