3 Karakteristik Majelis Pembelajaran Rasulullah Muhammad Saw

  • Whatsapp
Masjid
Modina Cinta Baytullah/Foto: Fuad Hasan

Barisan.co – Nabi Muhammad Saw, sebelum menjadi rasul merupakan sosok pengembala. Ketika dewasa Muhammad bekerja di tempat usaha Khadijah. Lalu ia menikah dengan Khadijah sosok pengusaha kaya raya kaum Quraish. Muhammad menjadi pengusaha yang berdangang hingga ke luar negeri.

Selain sosok pengusaha, Muhammad Saw adalah sosok pendidik. Selaku pendidik Muhammad Saw bertugas menyampaikan misi kerasulannya. Ada kalanya bentuk pengajaran beliau bertatap secara langsung, ketika dalam perjalanan maupun di kediamannya. Selain kepada orang per-orangan, juga melalui mejelis yang langsung berhadapan dengan para jamaah.

Bacaan Lainnya

Adapaun bentuk majelis pembelajaran Rasulullah yang berbentuk jamaah memilik karakter tersendiri, yakni:

1. Waktu pembelajaran

Karakter ini seperti jadwal pembelajaran, ditetapkannya waktu-waktu tertentu untuk menyelenggarakan majelis secara berjamaah. Karater ini tercermin dalam waktu jadwal shalat, bahwasanya lima kali sehari umat Islam berkumpul dan berjamaah di masjid.

Selain waktu rutin berbentuk jamaah kecil, ada penyelenggaraaan majelis yang berskala besar dalam waktu seminggu sekali. Majelis pembelajaran ini tercermin pada waktu shalat jumat. Begitupun juga ada mejelis pembelajaran yang dihadiri para jamaah yang lebih besar yakni setiap perayaan hari raya. Yakni hari raya idul fitri dan idul adha.

2. Adab pembelajaran

Penyelenggaraan pembelajaran majelis Nabi Muhammad mengutamakan adab. Suasana yang hening selama Nabi Muhammad menyampaikan materi. Jadi ketika guru menyampaikan materi, para peserta didik mendengarkan apa yang disampaikan.

Sebagaimana dalam Al-Quran surat Al Hujurat ayat 3 yang artinya:

Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.”

Para peserta didik majelis pembelajaran Rasulullah adalah orang-orang yang mempu menahan lidahnya guna memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi pendegarnya agat dapat menangkap semua yang disampaikan Nabi Muhammad.

Jika ada yang mengajukan pertanyaan ataupun memohon kejelasan materi juga ada kesopanan. Hal ini sebagaimana hadist Nabi Muhamad terkait untuk tenang dan diam ketika mendengarkan khutbah:

Jika kamu mengatakan kepada temanmu “diamlah” ketika khatib menyampaikan khutbahnya pada hari jum’at, itu berarti kamu telah membatalkan (jum’atanmu)” (HR. Jamaah kecuali Ibnu Majah)

Begitu juga dengan peserta didik yang terlambat menghadiri mejelis pembelajaran rasulullah. Sebagaimana hadits berikut ini:

Ada seorang yang baru datang dan melangkahi budak-budak yang menghadiri jum’atan, ketika itu Nabi Muhammad Saw sedang menyampaikan khutbahnya, melihat itu beliau berkata (ditunjukan kepad orang tersebut): “Duduklah, sebenarnya kamu telah mengganggu dan terlambat.” (HR. Abu Daud, Nasa’i, dan Ahmad)

3. Pakaian mejelis pembelajaran

Seperti layaknya sekolah, ternyata model pembelajaran Rasulullah juga memiliki seragam. Namun lebih kepada adab memakai pakaian. Sebagaimana, dari Abu Sa’id Al-Khudri ra, bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda:

Hendaklah setiap muslim mandi pada hari jum’at dan mengenakan pakaian yang paling baik, jia ia punya wewangian hendaklah memakainya.” (HR. Ahmad)

Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang shahih, Nabi Muhammad Saw bersabda:

Hak setiap muslim pada hari jum’at ialah: mandi, bersiwak, dan menggunakan wewangian.”

Inilah karakter seragam atau pakaian yang digunakan di majelis pembelajaran Nabi Muhammad. Hendaknya setiap umat Islam jika mendatangi jamaah atau majelis menggunakan pakaian yang baik dan sopan. Memakai wewangian dan bersiwak atau gosok gigi. Jika kiranya ada suatu hal, pakaiannya berubah menjadi bau yang kurang enak, hendaknya menyendiri dalam majelis agar tidak mengganggu perhatian jamaah lainnya.

Itulah tiga karakter khusus mejelis pembelajaran ala Nabi Muhammad Saw. Meski majelis pembelajaran Rasulullah penuh dengan ketenangan dan perhatian terhadap materi yang disampaikan. Namun Rasulullah juga memberikan selingan-selingan berupa gurauan dan canda yang ringan dan baik sehingga dengan begitulah terjalin hubungan erat dan familiar antara guru dan murid.

Terkadang, Nabi Muhamad Saw bercanda dengan para sahabat. Mereka bertanya, “Rasulullah, Anda bergurau?

Beliau Menjawab,” Ya, tapi (dalam bergurau) aku hanya mengatakan yang sebenarnya.” (HR. Bukhari dan Tirmidzi). (Lukni/Red)

Pos terkait