Scroll untuk baca artikel
Pendidikan

Diskusi Akhir Tahun Pendidikan dan Kebudayaan: 3 Pilar Kepribadian Nasional

Redaksi
×

Diskusi Akhir Tahun Pendidikan dan Kebudayaan: 3 Pilar Kepribadian Nasional

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – Menurut Abdul Hadi WM, kepribadian nasional memiliki 3 pilar yakni, politik nasional menolak campur tangan asing; ekonomi menolak eksploitasi asing terhadap SDA dan SDM nasional; dan bidang kebudayaan harus berkepribadian unggul dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Hal ini disampaikannya pada acara bertajuk “Diskusi Akhir Tahun: Bidang Pendidikan dan Kebudayaan” dalam Forum Ekonomi Politik Didik J. Rachbini melalui platform Twitter Space, Selasa (14/12/2021) malam.

Guru Besar Falsafah dan Agama Universitas Paramadina ini juga menyatakan bahwa Pendidikan nasional bisa bergairah kembali jika pendidikan Bahasa kembali diperhatikan.

“Bahasa hanya dipakai sebagai sarana komunikasi tetapi tidak digunakan untuk berpikir. Padahal semakin canggih berbahasa maka akan semakin mendukung kecerdasan. Bahasa Jerman telah lama menjadi pedoman Bahasa risalah-risalah ilmiah, sastra dan filosofis bernilai amat tinggi,” terangnya

Menurut Abdul Hadi karena terlalu lama dijajah kolonialisme, kepribadian manusia Indonesia menjadi hancur.

“Sebelum abad 20 di Jawa digunakan Bahasa Jawa dan Melayu Arab, namun Belanda menghapus itu semua dan menggunakan Bahasa Latin, sehingga putus dari akar budaya,” ujarnya.

Sebagai perbandingan lanjutnya, kepribadian bangsa yang tetap dipertahankan dipraktikkan oleh bangsa-bangsa penganut konfusianisme Jepang, Korea, China, di mana konfusianisme diajarkan sejak dari SD. Begitu pula dengan etos dan seni budaya yang merupakan aspek penting dalam menanggapi aneka corak kehidupan.

Abdul Hadi juga menyoroti terjadinya krisis moral parah dan rendahan, dengan terjadinya berbagai peristiwa korupsi dan manipulasi yang menghancurkan kehidupan sosial politik nasional.

“Dibutuhkan kembali kebangkitan akan nilai moral yang berstandar tinggi untuk membenahi iklim kehidupan di berbagai sektor.,” ucapnya

Abdul Hadi juga menyinggung perlunya diperkuat dan dipahami ihwal kearifan lokal. Menurutnya kearifan lokal tertera pada kitab-kitab keagamaan, filsafat, sastra yang sudah jarang dipelajari.

“Tak heran, generasi muda Jawa tak lagi kenal Ronggowarsito, Mahabarata, begitu juga anak suku lain, kecuali Bali meski hidup dalam lakon tetapi kurang mengenal. Ada juga banyak arsitektur-arsitektur lokal. Karya-karya sastra lama perlu diperkenalkan kembali seperti Tajussalatin, Bustanussalatin, Sastra Jawa, Sunda dan lainnya,” jelas Abdul Hadi

Ia juga mengkritik fenomena bahwa kebudayaan dan karya-karya sastra unggul lama tak juga dipelajari, sedangkan pelajaran dari Barat juga tidak tuntas dikuasai.

“Meski anak-anak kita banyak yang menjuarai lomba internasional matematika dan science, tetapi tidak ada yang kemudian menjadi ilmuwan kelas dunia hingga meraih penghargaan Nobel. Sementara tetangga Asia lain Pakistan punya M. Yunus dan Mahbub Ul Haq sebagai para peraih hadiah Nobel,” katanya

M. Abduhzen, Peneliti Paramadina Institute of Education Reforms mengatakan bahwa terdapat kekeliruan cara memandang proses pendidikan karakter di sekolah.

“Proses pendidikan karakter memang betul untuk membentuk seutuhnya karakter agar menjadi manusia berbudaya. Namun sesungguhnya proses pendidikan yang benar adalah include di dalamnya pembentukan karakter. Tidak dipisah antara pendidikan seni budaya dan pendidikan karakter,” ucapnya

Abduhzen mengungkapkan bahwa selama ini umum menganggap pendidikan karakter hanya berisi pelajaran agama, budi pekerti, PPKN, tapi lupa bahwa karakter sangat dipengaruhi oleh pelajaran matematika, dan ilmu-ilmu scientific seperi biologi, fisika, kimia.