Scroll untuk baca artikel
Kontemplasi

Doa adalah Tujuan, bukan Sarana

Redaksi
×

Doa adalah Tujuan, bukan Sarana

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – Berdoa tapi tak segera dikabulkan. Bagaimana itu? Jawabnya, ya, tak masalah. Syekh Ibnu ‘Athaillah mengemukakan, “Jangan sampai tertundanya karunia Tuhan kepadamu, setelah kau mengulang-ulang doamu, membuatmu putus asa. Karena Dia menjamin pengabulan doa sesuai pilihan-Nya, bukan sesuai pilihanmu; pada waktu yang diinginkan-Nya, bukan pada waktu yang kau inginkan.”

Mengulas hikmah tersebut, Syekh Said Ramadhan mengajak kita untuk merunut terlebih dahulu apa itu doa. Dan, apa bedanya dengan permintaan.

Menurutnya, kedua istilah itu berbeda. Permintaan adalah gambaran dengan kata-kata yang diucapkan oleh seorang yang meminta. Sementara doa adalah ungkapan tentang keadaan jiwa yang meliputi seorang yang meminta. Keadaan jiwa orang yang berdoa memenuhi dua perkara, pertama, kehadiran hati dan perasaan menuju Tuhan. Kedua, dimulai dengan bertobat kepada Allah atas segala kemaksiatan yang dilakukan.

Kehadiran hati dan perasaan penting karena adakalanya lidah mengucapkan kalimat-kalimat seraya kedua tangan menengadah, tapi pikiran kita tidak menentu, malah memikirkan hal lain. Pun perasaan yang tidak jelas, maka ini tidak disebut doa, hanya permintaan.

Terus ada orang yang tekun bermaksiat, kemudian menghadap Allah dan meminta impian dan keinginannya diwujudkan. Itu juga aneh, karena memohon anugerah, selagi ia tak bersikap logis kepada Tuhan. Bayangkan, seseorang berbuat kejahatan kepada atasannya. Lain waktu ia meminta kepada atasannya agar permintaan dan keinginannya dipenuhi, tanpa sebelumnya atau didahului dengan meminta maaf. Jelas, tidak logis, padahal baru antar sesama.

Sedangkan berdoa, hubungan manusia dengan Allah. Hubungan antara yang dimiliki dengan yang memiliki. Antara makhluk dengan Maha Pencipta. Sehingga, bagaimana wajar seorang hamba yang bergelimang dosa, tanpa tobat, tiba-tiba meminta kepada Tuhan dan apalagi dengan “memaksa” permintaannya segera dipenuhi?  

Itulah, singkat kata, permintaan akan disebut doa, tatkala hati dan perasaan hadir dalam bermunajat kepada Allah dengan penuh keluruhan dan kerendahan hati. Berikutnya, bertobat kepada Allah dengan tulus dari segala khilaf dan kesengajaan dosa.

Nah, kembali kepada untaian hikmah Syekh Ibnu ‘Athaillah, “Jangan sampai lambatnya pemberian padahal terus-terusan berdoa membuat putus asa.”

Berkaitan dengan itu, Syekh Ahmad Zarruq membagi manusia dalam tiga golongan. Pertama, orang yang menghampiri Tuhan dengan pasrah, sehingga rida dan selalu terhubung dengan Tuhan, meski dalam keadaan berpunya maupun tidak. Orang ini tidak pernah berhenti berdoa, meski doanya tak kunjung dikabulkan.

Kedua, orang yang bersimpuh di depan pintu Tuhan karena yakin pada janji-Nya. Ia bisa menyadari kelalaiannya, maka kala doa tak juga dikabulkan, ia merasa banyak cacat pada diri dan permintaannya. Keterlambatan justru melahirkan harapan-harapan baru, untuk semakin menyadari diri, betapa belum sebagai hamba yang baik.

Ketiga, orang yang berdiri di pintu Tuhan disertai sejumlah sebab, dalih, dan sikap lalai. Ia menginginkan sesuatu tanpa mengembalikannya kepada ketentuan dan kebijaksanaan Allah. Golongan ini gampang ragu, bimbang, dan putus asa, manakala doa tak segera diwujudkan.

Semoga saja kita dihindarkan menjadi kelompok yang ketiga ini, karena mereka tidak kunjung menyadari hikmah, sebagaimana dijelaskan Syekh Ibnu ‘Athaillah, “Dia telah menjamin untuk menerima doamu sesuai dengan pilihan-Nya, bukan sesuai pilihanmu, serta pada waktu yang Dia inginkan, bukan pada waktu yang kauinginkan.”

Adakala, pengabulan doa itu berupa sesuatu yang sama sekali berbeda dengan yang kita ungkapkan, tetapi ternyata berwujud sesuatu yang jauh lebih baik dampaknya. Allah mengalihkan dari apa yang sangat kita inginkan menjadi sesuatu yang sama sekali tak terbersit, tapi berdampak sangat menguntungkan kita dan masyarakat.

Maka, tak bisa tidak mari kita perbaiki pemahaman dan sikap kita kepada-Nya. Dengan mengutip penjelasan Syekh Zarruq, niscaya kita hati-hati, bahwa pengabulan doa merupakan pilihan dan wewenang mutlak Allah baik isi maupun waktu. Karena, pertama, ia merupakan wujud cinta dan perhatian-Nya kepada hamba. Kedua, karena pengabulan doa lebih menunjukkan sisi ubudiyah hamba, dan lebih menampakkan kendali rububiyah-Nya.

Jadi, kiranya ada salah kaprah yang menjamur di tubuh umat, yang mendudukkan doa sama dengan sarana untuk sampai tujuan. Padahal, sebagaimana keterangan Syekh Zarruq, doa adalah ubudiyah. Hakikat doa adalah memperlihatkan kefakiran, kerendahan, dan rasa butuh hamba kepada Allah. Jika pengabulan doa sesuai harapan dan dalam kendali hamba, niscaya rasa fakir, hina, dan butuh itu pun lenyap dari sanubari seorang hamba.

Syahdan, doa adalah tujuan, bukan sarana. Bahwa seorang hamba setiap saat akan selalu butuh kepada junjungannya dalam berbagai urusan. Bahwa di antara tugas hamba adalah menunjukkan penghambaan kepada junjungan.