BARISAN.CO – Dunia ini penuh dengan keindahan, berbagai macam dan jenis makhluk di muka bumi ini diciptakan hanya untuk manusia supaya mampu mengambil hakikat makna keindahan. Setiap makhluk diciptakan memiliki peran dan fungsinya masing-masing, mereka tidak bisa mengambil alih peran tersebut. Keindahan tersebut juga diwujudkan dengan bentuk penciptaan untuk saling berpasangan, sebagaimana Allah berfirman:
“Maha suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS. Yaasiin/36: 36)
Sungguh maha suci Allah yang telah menciptakan segala yang ada di dunia ini saling berpasang-pasangan. Berpasangan yang memiliki makna untuk saling melengkapi, saling mengisi, saling bekerja sama, saling mengimbangi maupuan saling memberikan yang terbaik untuk satu sama lain. Ini semua bertujuan untuk saling memberikan kesempurnaan.
Berpasang-pasangan itu indah jika pasangan tidak ada rasa rindu akan terasa. Bahkan jika yang ada didunia ini tidak diciptakan berpasang-pasang barang tentu dunia ini akan mengalami kegoyahan dikarenakan tidak memiliki keseimbangan. Maka jika pasangan itu tidak ada bisa berakibat munculnya masalah dan persoalan.
Marilah coba kita memikirkan diciptakannya siang yang berpasangan dengan malam. Mengapa Allah menciptakan keduanya, mengapa tidak hanya siang. Inilah supaya kita sebagai makhluk yang dikaruni akal pikiran, untuk senantiasa memfungsikannya.
“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaKu, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka Apakah kamu tidak mendengar?”.
Katakanlah: “Terangkanlah kepadaKu, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka Apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Al-Qashash/28: 71 – 72).
Allah memberikan pertanyaan kepada kita untuk memfungsikan akal pikiran supaya kita benar-benar mampu membuka hati sehingga tidak ada daya dan upaya atas segala karunia-Nya. Berpasangan menandakan sebuah keserasian, siang dengan malam terwujud dalam lingkaran cinta hingga memungkinkan terjadinya kehidupan didunia ini.
Marilah kita berpikir sejenak, andai saja bumi ini hanya ada siang, barang tentu bumi ini akan segera hancur oleh sengatan hawa panas. Dan es di kutub utara dan selatan segera mendidih dan memusnahkan bumi ini. Begitu sebaliknya andai saja bumi ini hanya ada malam, barang tentu semua permukaan bumi akan mengalami kebekuan.
Inilah mekanisme kehidupan yang penuh dengan rumus-rumus cinta Allah kepada hambanya. Cinta Allah di wujudkan dengan pemberian makhluk yang saling berpasang-pasang demi keberlangsungan kehidupan di dunia ini.
Begitu kita sebagai manusia yang diberikan akal pikiran diciptakan juga dengan berpasang-pasangan. Hal ini tidak terlepas juga sebagai makhluk Allah yang membutuhkan keterpaduan, ada kanan dan kiri, selatan dan utara, tinggi dan rendah, sakit dan sehat. Inilah keterpaduan yang dirangkai dengan penuh rasa keindahan.
“(dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.” (QS. Asy-Syuura/42: 11)
Sungguh indahnya kita diciptakan dengan cara berpasang-pasangan, coba anda bayangkan jika saja kita diciptakan tanpa ada pasangan dunia ini tentu kita akan merasakan rasa sepi. Seperti kita menyendiri digelapnya malam, layaknya bulan tanpa adanya teman sang bintang. Inilah hiasan dunia dimana kita wajib bersyukur atas karunia dan nikmat-Nya.
Inilah tawazun (keseimbangan) sehingga kita sebagai manusia dipersilahkan oleh Allah untuk meraih kebahagiaan. Sebagaimana ada dunia dan akhirat, kita dipersilahkan untuk mendapatkan keduanya sebagai nikmat Allah yang paling hakiki.
Marilah kita berpikir sejenak makna tawazun tersebut, berpikir awal mula peradaban manusia ada. Dengan kecintaan pada kehidupan ini Allah menciptakan Nabi Adam yang diberikan karunia akal dan sebaik-baik ciptaan, dan karunia akal itu tidak didapat oleh makhluk lain selain Nabi Adam sendiri. Dan bukti cinta Allah kepada Nabi Adam diberikan nikmat berupa surga.
Coba kita kita bayangkan, kenikmatan Allah yang diberikan Nabi Adam berupa surga. Bagaimana Adam merasakan kesendirian di surga, ketika ditaman-taman surga ia melihat hewan-hewan berpasang-pasangan, memadu kasih, sendau-gurau dan menikmati segala yang ada dengan berdua. Inilah yang dirasakan sang Adam, meski ada kenikmatan apa pun ada di dalam Surga namun ia merasakan kesepian, ia belum mendapatkan kenikmatan yang sesungguhnya dan ia seperti orang hilang di hutan belantara.
Melihat fenomena makhluk lain yang saling berpasangan, Adam merindukan kenikmatan tersebut. Ia berharap suatu saat nanti kenikmatan itu akan datang untuk menghilangkan rasa sepi hidupnya. Harapan akan adanya pasangan hidup, memiliki pendamping menyertainya dalam suka dan kegembiraan.
Harapan sang nabi Adam terwujud manakala Allah yang maha tahu mengetahui harapan Adam. Maka diciptakanlah pasangan untuk Adam yakni Hawa yang diciptakan dari tulang rusuknya sang Adam. Inilah anugerah terbesar Adam, kenikmatan yang paling mulia dan besar selain kenikmatan surga itu sendiri. Hingga keduanya menikmati segala kenikmatan yang ada di surga bersama-sama penuh jalinan cinta.
Bahkan jika kita ingin menelisik dibalik penciptaan Hawa ada simbol keseimbangan dan menjadi karakter manusia itu sendiri. Karakter tersebut adalah, “Seorang laki-laki jika di sakiti, maka ia akan membenci dan sebaliknya jika wanita di sakiti, maka ia akan bertambah sayang dan cinta.”
Inilah mengapa Hawa diciptakan untuk Adam pada saat Nabi Adam tertidur. Andai saja Hawa diciptakan pada saat terjaga, maka bisa jadi Adam akan merasakan sakit yang keluar dari sulbinya. Barang tentu rasa sakit itu, akan menjadikan Adam membenci Hawa. Namun Hawa diciptakan pada saat Adam tertidur, supaya Adam tidak merasakan rasa sakit, hingga Adam tidak membenci Hawa.
Sementara itu seorang wanita pada saat melahirkan dalam kondisi terjaga, seakan kematian itu dekat dengan dirinya. Maka wanita akan semakin memiliki rasa sayang dan cinta kepada anaknya, bahkan hidupnya pun dipertaruhkan. Inilah mengapa sosok wanita pada saat akan melahirkan ia terjaga, supaya ia merasakan sakit dengan rasa sakit itu ia akan merasakan rasa cinta yang dalam.
Ini juga keseimbangan dan berpasang-pasangan, ada tertidur dan terjaga, sakit dan benci dan semua ada tanda-tanda bagi orang yang benar-benar mengoptimalkannya untuk berpikir. Meresapi apa yang ada pada dirinya untuk kebaikan dan bekal dirinya, bukan untuk orang lain tapi berpikir untuk dirinya sehingga ia tahu sesungguhnya siapa dirinya.
Mari kita kembali kepada cerita Nabi Adam dan Hawa. Adam sangat perkasa di surga, laki-laki penguasa di surga. Ia seperti anak kecil yang menerima bermacam kebahagiaan sehingga ia menemukan kebahagiaannya. Namun di balik kegembiraan dan tawanya, ada batin yang tersiksa berbaur luka. Bagaimana ia tidak bersedih, ketika melihat temanya di surga, seekor monyet yang bermain bersama. Burung yang memadu kasih di sungai, dan berbagai hewan yang berpasang-pasangan menjalin kebersamaan dalam ikatan cinta.
Maha suci Allah yang telah menciptakan Hawa untuk Adam supaya dapat memberikan ketentraman hidup di surga. Hingga pada waktunya kebahagiaan itu diuji Allah, Adam dan Hawa menuju bumi yang akan menjadi tempat di mana ia akan membangun rumah tangga cinta. Namun diturunkannya ke bumi, bukannya bersama namun terpisah. Keduanya merasakan hidup kesendirian. Coba kita bayangkan dan sulit kiranya kita gambarkan apa yang dilakukan keduanya, di tempat yang terpisah. Kisah perpisahan tersebut dialami selama 500 tahun.
Pada suasana itu rasa rindu itu memuncak, adam benar-benar merasakan rindu yang teramat dalam. Iapun mencarinya, hingga pada waktunya Allah memerintahkan Adam untuk melaksanakan haji ke Makkah. Dalam kitab Ara’is al-Majlis karya Al-Tsa’aibi, Allah memberikan wahyu kepada Adam;
“Aku memiliki tanah haram (terhormat) dalam posisi sejajar dengan singgasana-Ku (Arasy). Karena itu, datanglah kesana dan berkelilinglah (thawaf) sebagaimana dikeklilinginya singgasana-Ku. Shalatlah di sana sebagaimana dilaksanakan shalat di sisi singgasana-Ku. Disanalah Aku memperkenan doamu.”
Tentu saja Adam tidak tahu tempat di mana Makkah itu, maka Allah memerintahkan Malaikat Jibril untuk membimbing Adam. Menurut Imam Thabari, ia meriwayatkan bahwa Nabi Adam berangkat dari India berangkat menuju Makkah, untuk menjalankan perintah Allah dan mencari Hawa. Keduanya mendekat di Mudalifah (mendekat), lalu mengetahui dan sling mengenali di Arafah.
Kedunyapun dipertemukan di Jabal Rahmah yang memiliki arti bukit dan bermakna gunung kasih sayang. Jabal Rahmah inilah umat Islam meyakini sebagai tempat pertemuan antara Adam dan Hawa. Jabal rahmah ini terletak di Arafah. Hingga sekarang ini pada setiap melakukan Haji pada tanggal 9 Dzhulhijah digunakan wukuf sebagai rangkaian ibadah haji.
Sungguh rasa itu teramat dalam, dipertemukan dalam suasana haji. Maka ketika kita berhaji, tentu saja akan terbayang peristiwa yang luar biasa tersebut, bagaimana rasa rindu terpendam lama dan bagaimana cinta itu dipisahkan. Di tempat inilah keduanya membangun mahligai rumah tangga yang kemudian keturunannya menyebar ke seluruh penjuru dunia.
Maka nilai cinta pada ibadah haji itu seluruh keturunan Adam dan Hawa yang telah tersebar di seluruh dunia untuk berkumpul melaksanakan Ibadah Haji sebagaimana Adam diperintahkan melaksanakan Ibadah Haji supaya rasa rindu itu dapat terobati. Ibadah haji menjadi tempat bertemunya kakek dan nenek moyang keturunan manusia. Dengan demikian pada saat wukuf di Arafah rasanya seperti mudik ke kampung halaman.
Ketika seluruh keturunan Adam dan Hawa yang melaksanakan ibadah haji, ternyata mereka telah menjadi berbeda-beda. Dengan beragam bahasa dan bangsa yang berbeda baik suku, adat, makanan maupun pakaian. Namun pertemuan kebersamaan itu bentuk-bentuk perbedaan itu harus ditinggalkan, hingga semuanya disuruhkan mengenakan pakaian ihram. Serba putih, suci seperti cinta Adam dan Hawa.
Maha suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatu dengan cara berpasang-pasangan, supaya kita benar-benar merasakan dan dapat menjalin cinta. (Luk)




