Scroll untuk baca artikel
Lingkungan

Klaim Perusahaan Besar Dunia Tidak Sesuai Kenyataan dalam Mengurangi Emisi Karbon

Redaksi
×

Klaim Perusahaan Besar Dunia Tidak Sesuai Kenyataan dalam Mengurangi Emisi Karbon

Sebarkan artikel ini

Perusahaan seperti Amazon, Ikea, Nestle, serta Unilever menunjukkan keberhasilan mereka mengurangi emisi karbon hanya sekadar klaim.

BARISAN.CO – Beberapa perusahaan terbesar dunia gagal memenuhi klaimnya untuk mencapai target emisi nol bersih. Hal itu terungkap dari sebuah laporan inisiatif bersama Corporate Climate Responbility Monitor (CCRM) antara NewClimate Institute dan Carbon Market Watch menemukan perusahaan tersebut akan mengurangi emisi karbon hanya sebesar 40 persen, tak seperti klaim awalnya, 100 persen.

Corporate Climate Responbility Monitor mengevaluasi transparansi dan integritas janji iklim perusahaan. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi dan menyoroti praktik yang baik agar dapat diaplikasikan oleh perusahaan, mengungkapkan sejauh mana klaim kepemimpinan iklim perusahaan besar berintegritas, serta meneliti kredibilitas rencana perusahaan dalam mengimbangi emisinya dengan cara mengurangi karbon dioksida atau kredit pengurangan emisi.

CCRM berfokus pada empat bidang utama aksi iklim perusahaan, yaitu pelacakan dan pengungkapan emisi, penetapan target pengurangan emisi, pengurangan emisi sendiri dan mengambil tanggung jawab untuk tidak berkurang melalui kontribusi atau penyeimbangan iklim, serta evaluasi transparansi dan integritas terhadap 25 perusahaan global besar.

Perusahaan besar dunia itu juga disebut-sebut menghindari tindakan iklim dengan klaim yang justru salah, menyesatkan, atau ambigu. Perusahaan seperti Amazon, Ikea, Nestle, serta Unilever masuk dia antara perusahaan yang menunjukkan sedikit substansi pada klaim mereka untuk mengurangi emisi karbon secara signifikan. Kooporasi itu berada di bawah tekanan untuk memangkas dampak lingkungannya karena lebih banyak konsumen menginginkan green product (produk hijau).

Menurut penulis utama laporan itu, Thomas Day, sebagai tekanan pada perusahaan untuk bertindak tegas atas perubahan iklim, tajuk utama mereka sering terdengar ambisius, namun kenyataannya sering menyesatkan bahkan cenderung melebih-lebihkan kepada konsumen dan regulator yang memandu arah strategis mereka.

“Tidak jelas pengurangan ini membawa kami melampaui bisnis seperti biasa. Kami sangat kecewa dan terkejut. Perusahaan harus jauh lebih transparan tentang tujuan ini,” ujar Thomas.

Perusahaan pelayaran, Maersk berada di puncak pemantauan tanggung jawab iklim 2022. Integritas dan transparansi Amazon rendah yang berjanji net zero tahun 2040. Nestle berjanji net zero tahun 2050, namun laporan itu menemukan tingkat integritas dan transparansinya sangat rendah.

Sedangkan Ikea memiliki tingkat integritas rendah dan transparansi yang tidak masuk akal karena perhitungannya tidak memuat berbagai sumber emisi. Padahal, Nestle bersumpah 2030 akan mencapai carbon positive. Dan, tingkat integritas unilever sangat rendah dan transparansinya rendah yang berjanji akan nol karbon di tahun 2030 mendatang.

Menurut Thomas, target jangka pendek seharusnya menjadi perhatian khusus. Laporan tersebut menunjukkan perusahaan yang di survei hanya akan mengurangi emisinya rata-rata sekitar 23 persen di tahun 2030, jauh di bawah angka separuhnya yang menurut para ilmuwan perlu untuk membatasi pemanasan global 1,5C.

Sedangkan peneliti Carbon Market Watch, Gilles Dufrasne menyebut greenwashing adalah kejahatan. Sebab, konsumen dan pembuat keputusan tampak tertipu dengan klaim perusahaan dapat melakukan semua yang mereka bisa untuk mengatasi dampak iklim.

“Perusahaan-perusahaan terbesar dunia memiliki tanggung jawab besar untuk bangkit dari tantangan yang dihadapi. Saat ini, mereka gagal melakukannya, dan sudah saatnya pemerintah mengatur klaim perusahaan dan mengakhiri iklan yang menyesatkan,” kata Gilles yang menulis rekomendasi kebijakan dalam laporan bersama itu.

Respon Perusahaan

Mengutip Guardian, juru bicara IKEA menyampaikan bahwa perusahaan telah mencapai banyak hal seperti memutuskan hubungan antara penurunan emisi abosulut sambil meningkatkan pertumbuhan bisnis.

“Kami memiliki rencana untuk mengatasi tantangan kompleks yang tersisa, seperti jejak iklim dari bahan yang digunakan di IKEA,” kata jubir tersebut.

Namun, meski Nestle menyambut baik pengawasan tindakan terhadap komitmennya terhadap perubahan iklim, mereka menyangkal laporan tersebut. Melalui kepala global climate delivery and suitainable sourcing, Benjamin Ware menyebut laporan itu kurang memahami pendekatan yang Nestle lakukan dan tidak akurat.

“Peta jalan iklim telah divalidasi oleh Inisiatif Target Berbasis Sains (badan berkelanjutan milik perusahaan). Pekerjaan yang dilakukan sangat ketat dan ekstensif,” tutur Benjamin.

Juru bicara Unilever juga mengomentari laporan itu terkait komitmen perusahaanya.

“Meski pun kami berbagi perspektif yang berbeda tentang beberapa elemen laporan ini, kami menyambut baik analisis eksternal tentang kemajuan kami dan telah memulai dialog yang produktif dengan NewClimate Institute untuk melihat bagaimana kami dapat mengembangkan pendekatan agar bermakna,” ujar jubir Nestle.

Mitigasi perubahan iklim bergantung inovasi perusahaan yang telah dan akan terus memainkan peran utama dalam menemukan dan meningkatkan solusi untuk dekarbonisasi. Upaya tersebut memerlukan percepatan mendesak.

Laporan itu menunjukkan perusahaan harus tunduk pada pengawasan ketat untuk memastikan janji dan klaimnya kredibel atau tidak. Regulator pun tidak boleh bergantung pada tekanan konsumen dan pemegang saham dalam mendorong aksi perusahaan dalam upaya percepatan dekarbonisasi. [rif]