Kesombongan dari akar kata sombong adalah sikap merasa dirinya paling unggul dan memuji diri sendiri. Oleh karena itu menurut Kitab Al-Hikam hendaknya seseorang menanamkan kerendahan
BARISAN.CO – Sepertinya perlu bimbingan khusus untuk melawan kesombongan, sebab rasa sombong senantiasa melekat pada diri seseorang. Kesombongan akan muncul ketika seseorang merasa dirinya unggul, merasa dirinya paling hebat dan paling tinggi.
Sedangkan arti sombong dalam bahasa Inggris disebut pride, menurut bahasa Latin superbia, sedangkan dalam bahasa arab fakhar, takabur. Jadi kesombongan secara terminologis adalah sikap atau tingkah laku yang cenderung memandang diri lebih hebat, merasa memiliki kebesaran dan cenderung memuji diri sendiri.
Dalam kitab Al-Hikam karya Ibnu Attaillah, dalam maqolahnya bagaimana meredam kesombongan yakni dengan meletakan diri seseorang dalam kerendahan:
اِدْفن وُجُودَك فى ارضِ الخُمول. فما نبتَ مِمَّالم يُدفن لايتِمُّ نِتاجهُ
“Tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan, sebab tiap sesuatu yang tumbuh namun tidak ditanam, maka tidak sempurna hasil buahnya.”
Secara bahasa al-humuul artinya adalah lemah, bodoh, tidak dikenal. Sedangkan dalam pasal 11 ini bermakna “kerendahan.” Sementara wujud atau eksistensi manusia pada dasarnya ingin diakui, dikenal, ingin terpandang. Menurut istilah psikologi, manusia diatur oleh ego yang ada dalam dirinya.
Bersuluk pada dasarnya adalah proses menumbuhkan jiwa. Adapun jiwa bagaikan pohon yang tumbuh, jiwa harus ditanam dan dirawat agar dapat tumbuh dan berbuah dengan sempurna. Sebagaimana Allah Swt berfirman:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِى ٱلسَّمَآءِ
تُؤْتِىٓ أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍۭ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim: 24-25)
Kita tidak akan mampu mengenal siapa diri kita, buah takwa apa yang harus kita hasilkan, kecuali Allah Swt memberi petunjuk dan perlindungan. Selama ini, ego diri kita yang mengatur siapa diri kita dan apa yang kita inginkan sementara Allah Swt yang lebih mengetahui diri kita yang sesungguhnya.
Dalam pasal kerendahan dan kesombongan, Ibnu Atha’illah mengungkapkan sebuah kunci agar kita dapat menghasilkan buah takwa yang sempurna. Yakni dengan mengubur eksistensi diri atau ego dalam bumi ketiadaan.
Tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya bagi seorang yang beramal, dari pada menginginkan kedudukan dan terkenal di tengah-tengah masyarakat. Hal ini termasuk keinginan hawa nafsu yang utama.
Inilah kunci agar dapat menghasilkan buah takwa yang sempurna, yang dengan itu bisa mengantarkan seseorang masuk surga. Ibnu Atha’illah menceritakan kisah seorang budak hitam yang akan menjadi raja di surga.
Dikisahkan, dari Abu Hurairah ra berkata; Ketika kami di majelis Rasulullah Saw, tiba-tiba Nabi Muhammad Saw bersabda: “Besok pagi akan ada seorang ahli surga yang salat bersama kamu.”
Abu Hurairah berkata: “Aku berharap semoga akulah orang yang ditunjuk oleh Rasulullah Saw itu. Maka pagi-pagi aku salat di belakang Rasulullah Saw dan tetap tinggal di majelis setelah orang-orang pulang.”
Tiba-tiba ada seorang budak hitam berpakaian compang-camping datang menjabat tangan Rasulullah Saw sambil berkata: “Wahai Nabi Allah! Doakan semoga aku mati syahid.”
Maka Rasulullah Saw berdoa, sedang kami mencium bau kasturi dari badannya.
Kemudian aku bertanya: “Apakah orang itu wahai Rasulullah?”
Jawab Nabi Saw: “Ya benar. Ia seorang budak dari Bani fulan.”
Abu Hurairah berkata: “Mengapa engkau tidak membeli dan memerdekakannya wahai Nabi Allah?”
Jawab Nabi: “Bagaimana aku akan dapat berbuat demikian, sedangkan Allah akan menjadikannya seorang raja di surga. Wahai Abu Hurairah! Sesungguhnya di surga itu ada raja dan orang-orang terkemuka, dan ini salah seorang raja dan terkemuka.”
Kemudian Rasulullah Saw memberitahu kepada sahabat tentang orang-orang yang dimuliakan dan diridhai Allah Swt.
“Wahai Abu Hurairah! Sesungguhnya Allah mengasihi, mencintai makhluknya yang suci hati, yang samar, yang bersih, yang terurai rambut, yang kempes perut kecuali dari hasil yang halal. Apabila akan masuk kepada raja tidak diizinkan, bila meminang wanita bangsawan tidak akan diterima, bila tidak ada tidak dicari, bila hadir tidak dihiraukan, bila sakit tidak dijenguk, bahkan ia meninggal tidak dihadiri jenazahnya.”
Para sahabat pun penasaran dan bertanya: “Tunjukkan kepada kami wahai Rasulullah Saw salah seorang dari mereka?”
Jawab Nabi: “Dia adalah Uwais Al-Qorni, seorang berkulit coklat, lebar kedua bahunya, tingginya agak sedang dan selalu menundukkan kepalanya sambil membaca Alqur’an, tidak terkenal di bumi tetapi terkenal di langit. Andaikan ia bersungguh-sungguh memohon sesuatu kepada Allah pasti diberinya. Di bawah bahu kirinya berbekas. Wahai Umar dan Ali! Jika kamu bertemu padanya, maka mintalah kepadanya supaya memohonkan ampun untukmu. Demikian sabda Nabi kepada para sahabat.”
Menurut Syekh Ibnu Atha’illah, seseorang tidak akan mampu mengenal siapa dirinya kecuali Allah Swt memberi petunjuk dan perlindungan. Kunci agar dapat menghasilkan buah takwa yang sempurna adalah dengan mengubur eksistensi, ego dan keterkenalan.
Sebab, tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya bagi seorang yang beramal, daripada menginginkan kedudukan dan popularitas pergaulannya di tengah-tengah masyarakat. Dan ini termasuk keinginan hawa nafsu.
Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang merendahkan diri, maka Allah akan memuliakannya dan barang siapa yang sombong, Allah akan menghinanya.”
Ibrahim bin Adham radhiAllahu ‘anhu berkata: “Tidak benar tujuan kepada Allah, siapa yang ingin terkenal.”
Ayyub as-Asakhtiyani ra berkata: “Demi Allah tidak ada seorang hamba yang sungguh-sungguh ikhlas pada Allah, melainkan ia merasa senang, gembira jika ia tidak mengetahui kedudukan dirinya.”
Allah Swt berfirman:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى ٱلْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji debu.” (HR. Muslim)






