Amalkan Subhanallahi wa bihamdihi 100 kali setiap hari, dzikir ringan dengan keutamaan luar biasa yang dalam hadis disebut menjadi sebab dihapuskannya dosa meski sebanyak buih di lautan.
BARISAN.CO – Manusia adalah makhluk yang tidak luput dari kesalahan dan dosa. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin melakukan kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Karena itu, Islam mengajarkan umatnya agar tidak berputus asa dari rahmat Allah Swt., tetapi segera memperbanyak amal saleh, berzikir, berdoa, dan bertobat.
Salah satu amalan yang memiliki keutamaan luar biasa adalah dzikir “Subhanallahi wa bihamdihi” sebanyak 100 kali dalam sehari. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa orang yang membacanya 100 kali, dosa-dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan. Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan tercantum dalam Shahih al-Bukhari nomor 6405.
Lantas, bagaimana bacaan dzikir penghapus dosa sebanyak buih di lautan, apa arti dan keutamaannya, serta kapan waktu terbaik untuk mengamalkannya?
Bacaan Dzikir Penghapus Dosa Sebanyak Buih di Lautan
Bacaan yang dimaksud adalah:
Arab
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ
Latin
Subḥānallāhi wa biḥamdihi
Artinya
“Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya.”
Bacaan ini dapat diamalkan 100 kali dalam sehari. Keutamaannya disebutkan secara jelas dalam hadis Nabi ﷺ.
Dalam Shahih al-Bukhari, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
Artinya: “Barang siapa mengucapkan Subhanallahi wa bihamdihi sebanyak 100 kali dalam sehari, maka kesalahan-kesalahannya akan dihapus meskipun sebanyak buih di lautan.”
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari 6405. Riwayat dengan makna yang sama juga terdapat dalam Shahih Muslim.
Ungkapan “buih di lautan” menggambarkan betapa banyaknya dosa yang mendapatkan ampunan Allah melalui keutamaan dzikir tersebut. Namun, seorang Muslim tetap tidak boleh menjadikan hadis ini sebagai alasan untuk sengaja melakukan dosa. Dzikir hendaknya disertai keimanan, ketundukan kepada Allah, meninggalkan maksiat, dan kesungguhan untuk bertobat.
Mengapa Disebut Dzikir Penghapus Dosa Sebanyak Buih di Lautan?
Buih di lautan jumlahnya sangat banyak dan sulit dihitung. Rasulullah ﷺ menggunakan perumpamaan tersebut untuk menggambarkan besarnya keutamaan membaca Subhanallahi wa bihamdihi 100 kali.
Dalam hadis tersebut digunakan kata “ḥuṭṭat khaṭāyāhu”, yang bermakna kesalahan-kesalahannya dihapus atau digugurkan.
Karena itu, tidak mengherankan apabila dzikir ini sering dikenal masyarakat sebagai dzikir penghapus dosa sebanyak buih di lautan.
Akan tetapi, penting untuk memahami bahwa amalan ini bukan berarti seseorang boleh terus-menerus melakukan dosa dengan merasa cukup membaca dzikir 100 kali. Seorang Muslim tetap diperintahkan untuk meninggalkan dosa dan melakukan taubat nasuha.
Allah Swt. berfirman:
قُلْ يَـٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ
Artinya: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53).
Ayat tersebut memberikan harapan besar kepada orang yang ingin kembali kepada Allah. Sebesar apa pun kesalahan seorang hamba, pintu taubat dan rahmat Allah tetap terbuka selama seseorang benar-benar kembali kepada-Nya.
Dalil Al-Qur’an tentang Amal Saleh yang Menghapus Dosa
Selain hadis tentang Subhanallahi wa bihamdihi, Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa amal kebaikan dapat menjadi sebab terhapusnya keburukan.
Allah Swt. berfirman dalam QS. Hud ayat 114:
وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَىِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ ٱلَّيْلِ ۚ إِنَّ ٱلْحَسَنَٰتِ يُذْهِبْنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ
Artinya: “Dan laksanakanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat Allah.” (QS. Hud: 114).
Ayat ini menjadi pengingat bahwa seorang Muslim hendaknya memperbanyak amal kebaikan, termasuk salat, dzikir, sedekah, membaca Al-Qur’an, membantu sesama, dan berbagai bentuk ketaatan lainnya.
Berapa Kali Membaca Subhanallahi wa Bihamdihi?
Berdasarkan hadis yang secara khusus menyebut keutamaan penghapusan dosa seperti buih di laut, jumlahnya adalah:
100 kali dalam sehari.
Tidak harus dilakukan dalam satu waktu. Yang penting, seorang Muslim berusaha memenuhi 100 kali dalam sehari.
Misalnya:
- Setelah Subuh: 33 kali
- Pagi atau sebelum beraktivitas: 34 kali
- Sore atau malam: 33 kali
Pembagian tersebut hanyalah contoh agar lebih mudah mencapai jumlah 100 kali. Hadis Bukhari menyebutnya 100 kali dalam sehari, sehingga tidak perlu menganggap pembagian tertentu sebagai tata cara wajib.
Kapan Waktu Terbaik Membaca Dzikir Ini?
Pada dasarnya, Subhanallahi wa bihamdihi merupakan dzikir yang dapat diamalkan sepanjang hari.
Untuk membangun kebiasaan, seseorang dapat memilih waktu yang mudah dilakukan, misalnya:
1. Setelah salat Subuh
Waktu pagi merupakan salah satu waktu yang baik untuk memperbanyak dzikir. Setelah menyelesaikan salat, seseorang dapat melanjutkan dengan membaca tasbih dan dzikir lainnya.
2. Pagi hari sebelum beraktivitas
Dzikir dapat menjadi pembuka aktivitas harian. Dengan mengingat Allah, seorang Muslim mengawali hari dengan amal yang ringan tetapi memiliki keutamaan besar.
3. Sore hari
Dzikir juga dapat diamalkan pada sore hari sebagai bagian dari usaha menjaga hati agar senantiasa mengingat Allah.
4. Setelah salat atau ketika memiliki waktu luang
Tidak ada keharusan bahwa 100 kali tersebut harus dilakukan tepat setelah salat tertentu. Seorang Muslim dapat memanfaatkan waktu luang untuk berdzikir.
Apakah Harus Dalam Keadaan Suci?
Untuk membaca dzikir secara umum, seseorang tidak harus selalu dalam keadaan berwudu. Wudu tentu merupakan keadaan yang baik dan utama ketika beribadah, tetapi dzikir kepada Allah dapat dilakukan dalam berbagai keadaan.
Karena itu, seseorang yang ingin mengamalkan dzikir penghapus dosa sebanyak buih di lautan dapat membacanya ketika sedang berjalan, duduk, menunggu pekerjaan, setelah salat, atau pada waktu lain yang memungkinkan.
Yang paling penting adalah menjaga adab berdzikir dan menghadirkan hati untuk mengingat Allah.
Doa Memohon Ampunan kepada Allah
Selain berdzikir, seorang Muslim dianjurkan memperbanyak doa dan istighfar. Salah satu doa yang dapat diamalkan adalah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Allahumma inni as’alukal-‘afwa wal-‘afiyata fid-dunya wal-akhirah.
Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat.”
Doa tersebut berisi permohonan kepada Allah agar seorang hamba mendapatkan al-‘afw (pemaafan) dan al-‘afiyah (keselamatan/kesejahteraan).
Dengan demikian, selain membaca dzikir Subhanallahi wa bihamdihi, seorang Muslim dapat memperbanyak doa memohon ampunan dan keselamatan kepada Allah.
Bedakan Subhanallahi wa Bihamdihi dengan Subhanallahi wa Bihamdihi Subhanallahil ‘Azim
Ada satu hal yang penting diperhatikan agar tidak keliru ketika menulis atau menyampaikan artikel tentang dzikir penghapus dosa sebanyak buih di lautan.
Bacaan yang disebut secara khusus dalam hadis tentang dosa yang dihapus meskipun sebanyak buih di lautan adalah:
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ
Subhanallahi wa bihamdihi.
Sementara bacaan:
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
Subhanallahi wa bihamdihi, Subhanallahil ‘Azim
memiliki keutamaan tersendiri dalam hadis, tetapi jangan menyatakan bahwa seluruh lafaz tersebut adalah lafaz hadis yang secara spesifik menjanjikan penghapusan dosa sebanyak buih di lautan.
Untuk artikel yang mengutamakan akurasi, lebih aman menampilkan lafaz yang memang disebut secara langsung dalam hadis tersebut.
Keutamaan Membaca Subhanallahi wa Bihamdihi 100 Kali
Ada beberapa pelajaran penting yang dapat diambil dari amalan ini.
1. Menjadi sebab diampuninya dosa
Keutamaan paling utama adalah sebagaimana disebutkan Rasulullah ﷺ: dosa orang yang membacanya 100 kali dalam sehari diampuni meskipun sebanyak buih di lautan.
2. Dzikir yang sangat ringan diamalkan
Kalimatnya pendek dan mudah dihafalkan. Karena itu, amalan ini dapat dilakukan oleh siapa saja dan tidak membutuhkan waktu yang panjang.
3. Menghidupkan hati dengan mengingat Allah
Dzikir bukan hanya berkaitan dengan penghapusan dosa, tetapi juga merupakan bentuk penghambaan seorang manusia kepada Allah.
4. Mengingatkan manusia agar tidak sombong
Kalimat tasbih mengandung pengagungan kepada Allah. Seorang hamba menyadari bahwa Allah Mahasuci dari segala kekurangan, sementara manusia memiliki banyak kelemahan dan membutuhkan pertolongan-Nya.
5. Menjadi bekal amal untuk akhirat
Setiap kebaikan yang dilakukan seorang Muslim merupakan bagian dari bekal menuju kehidupan akhirat. Karena itu, memperbanyak dzikir sebaiknya menjadi kebiasaan sehari-hari.
Dzikir Saja Tidak Cukup Tanpa Meninggalkan Dosa
Keutamaan hadis tersebut harus dipahami dengan benar. Dzikir bukan alasan untuk meremehkan dosa.
Apabila seseorang melakukan dosa, maka hendaknya ia segera:
- Menyesali perbuatan tersebut.
- Berhenti dari dosa.
- Memohon ampun kepada Allah.
- Bertekad untuk tidak mengulanginya.
- Jika berkaitan dengan hak manusia, mengembalikan hak atau meminta maaf dengan cara yang tepat.
Dengan demikian, dzikir penghapus dosa sebanyak buih di lautan hendaknya menjadi bagian dari kehidupan seorang Muslim yang ingin memperbaiki diri, bukan sekadar bacaan di lisan.
Allah membuka pintu ampunan bagi hamba-Nya yang kembali kepada-Nya. Bahkan Nabi ﷺ menjelaskan bahwa Allah memberikan kesempatan kepada manusia untuk bertobat siang dan malam.
Cara Mengamalkan Dzikir Penghapus Dosa 100 Kali
Agar lebih mudah menjadi kebiasaan, berikut contoh sederhana:
Niat: berdzikir untuk mengingat dan mengagungkan Allah serta mengharapkan ampunan-Nya.
Kemudian membaca:
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ
Subhanallahi wa bihamdihi
sebanyak 100 kali dalam sehari.
Tidak perlu tergesa-gesa. Bacalah dengan tenang sambil berusaha memahami maknanya.
Setelah selesai, dapat dilanjutkan dengan istighfar dan doa kepada Allah. Misalnya:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
Astaghfirullah
“Aku memohon ampun kepada Allah.”
Kemudian berdoalah dengan bahasa yang dipahami untuk memohon ampunan, keteguhan hati, dan kekuatan agar dapat meninggalkan perbuatan dosa.
Kesimpulan
Dzikir penghapus dosa sebanyak buih di lautan yang memiliki dasar hadis sahih adalah membaca Subhanallahi wa bihamdihi sebanyak 100 kali dalam sehari.
Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa dosa orang yang mengamalkannya akan dihapus meskipun sebanyak buih di lautan. Hadis ini terdapat dalam Shahih al-Bukhari 6405 dan juga memiliki riwayat dalam Shahih Muslim 2691.
Bacaan tersebut sangat singkat:
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ
Subhanallahi wa bihamdihi
“Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya.”
Namun, keutamaan tersebut hendaknya tidak membuat seorang Muslim meremehkan dosa. Dzikir harus disertai usaha untuk bertobat, meninggalkan maksiat, memperbanyak amal saleh, dan terus berharap kepada rahmat Allah.
Dengan membiasakan dzikir setiap hari, seorang Muslim dapat menjadikan lisannya senantiasa basah dengan mengingat Allah sekaligus memperbanyak bekal untuk kehidupan akhirat.
FAQ SEO: Dzikir Penghapus Dosa Sebanyak Buih di Lautan
Apa dzikir penghapus dosa sebanyak buih di lautan?
Dzikir yang disebut dalam hadis adalah Subhanallahi wa bihamdihi yang dibaca 100 kali dalam sehari.
Berapa kali membaca Subhanallahi wa bihamdihi?
Hadis menyebutkan 100 kali dalam sehari.
Apa arti Subhanallahi wa bihamdihi?
Artinya, “Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya.”
Apakah dzikir ini boleh dibaca setelah salat?
Boleh. Dzikir tersebut dapat diamalkan setelah salat maupun pada waktu lain sepanjang hari.
Apakah harus membaca 100 kali sekaligus?
Hadis menyebutkan 100 kali dalam sehari, sehingga seseorang dapat mengamalkannya secara bertahap sepanjang hari agar lebih mudah konsisten.
Apakah dzikir ini berarti semua dosa otomatis boleh dilakukan lalu dihapus?
Tidak. Seorang Muslim tetap wajib meninggalkan dosa dan bertobat. Dzikir merupakan amal saleh dan sebab mendapatkan ampunan Allah, bukan pembenaran untuk sengaja melakukan maksiat.









