“Yang sebenarnya menarik dari diriku ini apa sih Kang?” tanya Cempluk sembari menyodorkan sepiring nasi kepada Sariman. Suaranyapun dibikin sedikit kemayu. Mendengar pertanyaan Cempluk, penarik becak itu hanya geleng-geleng kepala saja. Hatinya serasa gemes sekali oleh tingkah polah istrinya tersebut. Bagaimana Sariman tidak gemes, ia sudah empat tahun mempersunting perempuan asal Desa Jonggrangan tersebut namun begitu kekenesan perempuan itu seperti tak luntur dimakan usia. Bahkan rasanya semakin hari semakin menarik hatinya saja.
“Ditanya kok malah geleng-geleng kepala saja. Kayak anak monyet kehilangan emaknya,” ucap Cempluk sambil terkekeh-kekeh. Sementara itu tangannya sibuk menyeduh secangkir kopi pesanan Sariman.
“Anu Pluk,” jawab Sariman sambil mulutnya sibuk mengunyah tempe goreng. Sementara matanya memelototi bagian tertentu dari tubuh Cempluk istrinya tersebut.
“Halah paling-paling iniku!” sahut Cempluk sambil menunjuk pantatnya dan selanjutnya tertawa terbahak-bahak. Melihat kekenesan istrinya tersebut sekali lagi Sariman hanya dapat geleng-geleng kepala saja. Dalam hati ia membenarkan perkataan istrinya barusan.
“Seminggu lagi emak mau ke sini. Katanya sudah bosan tinggal sendirian di desa. Garapan padinya selalu saja dimakan wereng. Emak mau menjadi pembantu rumah tangga saja katanya,” sambung Cempluk sambil tangannya sibuk mencuci piring bekas sarapan Sariman. Mendengar bahwa mertuanya mau datang, spontan raut wajah Sariman menegang. Ingatannya langsung melayang pada sesosok perempuan setengah tua yang cerewetnya melebihi burung beo itu. Namun sebenarnya mertuanya tersebut sangat menyayangi Sariman.
“Emak sudah bosan jadi buruh tani melulu. Lebih banyak buntungnya ketimbang untungnya!” sambung Cempluk kembali sembari menyerahkan handuk kecil kepada Sariman.
“Kebetulan sekali Pluk. Emak biar tinggal di sini saja. Biar nemani si Kuncung dan Jabrik anak kita, jawab Sariman sambil melangkah keluar rumah menuju becaknya. Tak lupa sebelum pergi, lelaki berambut keriting itu menyelipkan beberapa lembar uang ribuan ke balik kutang Cempluk. Melihat ulah nakal sariman, Cempluk hanya tersipu-sipu malu.
“Buat pegangan nanti kalau Emak jadi tinggal di sini,” ucap Sariman sembari mengelus pipi Cempluk. Kontan saja pipi Cempluk basah oleh air mata. Segera saja keharuan menyelimuti batin perempuan yang sehari-hari hanya bbekerja sebagai buruh cuci baju tersebut. Meski Sariman hanya seorang tukang becak tetapi ia begitu sangat sayang dan perhatian sekali kepada keluarganya. Ia tak seperti tukang becak yang lain. Kalau lagi sepi tarikan, biasanya Sariman lebih suka jadi buruh angkut di pasar tempatnya mangkal. Ia tidak seperti kawan-kawannya yang lain. Kalau sepi tarikan justru pada judi kartu atau sibuk meramal togel.
Hari ini Minggu Kliwon. Sebagaimana biasanya Sariman mangkal di pasar hewan. Hari Minggu pasaran seperti sekarang ini biasanya ramai sekali. Lelaki berperawakan pendek berkulit legam itu berharap akan mendapat penumpang yang lebih banyak daripada biasanya.
Benar saja dugaan Sariman. Baru saja ia memarkir becaknya, seorang lelaki setengah baya telah memintanya untuk mengantarkannya pulang. Belum lagi genap dua jam Sariman Mangkal, beberapa lembar uang ribuan telah ia kantongi. Hatinya sedemikian girangnya. Saking girangnya, Sariman pun berniat untuk membelikan sesuatu sebagai hadiah untuk mertuanya nanti. Dan tanpa menunggu lebih lama lagi, penarik becak itupun telah terlihat mengayunkan langkah kakinya menuju deretan pedagang kaki lima yang terletak di halaman selatan pasar hewan tersebut.
Sedetik kemudian Sariman sudah terlihat larut dalam kerumunan pengunjung yang menjejali halaman pasar tersebut. Matanya sibuk mengamati berbagai aneka barang dagangan yang digelar oleh para pedagang. Sedang asyik-asyiknya mengamati sebuah radio transistor bekas, Sariman dikagetkan oleh tangan seseorang yang seperti memasukkan sesuatu ke dalam kantong saku belakang celananya. Rasa-rasanya seperti sebuah dompet yang tebal.
Tetapi ketika tangan Sariman hendak meraba kantong saku celananya tersebut tiba-tiba saja badannya seperti didorong dengan keras oleh seseorang. Hampir saja Sariman terjatuh menimpa barang dagangan yang digelar di depannya. Untung saja seorang polisi yang berdiri di sebelahnya segera meraih tubuhnya. Beberapa orang terlihat memandang Sariman dengan tatapan tak menyenangkan sambil mulutnya menyumpahinya.
Dan ketika Sariman telah berhasil meraba kantong saku belakang celananya tersebut, barang mirip dompet itupun telah raib entah ke mana. Mungkin seseorang telah mengambilnya kembali saat dirinya hendak terjatuh tadi. Dorongan itu sepertinya memang sengaja dilakukan oleh seseorang agar dompet tersebut dapat diambilnya kembali tanpa sepengetahuan Sariman. Belum hilang rasa bingungnya, tiba-tiba seorang polisi yang tadi menolongnya segera menggamit tangan Sariman sembari berbisik pelan.
“Ayo kita ke sana! Ikut saja Tidak usah takut!” ucap polisi tersebut sambil setengah memaksa. Sariman hanya dapat celingukan saja ketika Polisi tersebut menggandengnya ke arah warung sate yang terletak di pojok pasar. Bersamaan dengan sampainya Sariman di warung sate tersebut tiba-tiba terdengar teriakan keras. Asal suaranya dari deretan pedagang kaki lima.
”Copet! Copet! Copet!”
Teriak seorang laki-laki sambil memperlihatkan sebuah tas kecilnya yang robek oleh sayatan silet. Teriakan itu terdengar sedemikian memilukan. Lelaki bernasib sial itu sepertinya adalah seseorang yang tadi berdiri di sebelah kanan Sariman. Sontak suasana pasar menjadi gaduh dan riuh. Beberapa polisi langsung menuju ke arah sumber suara untuk menenagkan lelaki tersebut. Beberapa polisi segera menutup pintu gerbang pasar. Yang lain terlihat mulai menggeledah satu persatu orang yang berdiri di dekat lelaki tersebut. Hasilnya nihil. Lelaki itu menagis sejadi-jadinya. Uang hasil penjualan 3 ekor sapinya raib dalam sekejab saja.
“Satenya tambah dua piring lagi Pak!” pinta lelaki berbaju putih yang telah terlihat duduk di ujung warung tatkala Sariman dan seorang polisi memasuki warung. Hidung Sariman mendadak kembang kempis mencium aroma lezatnya sate kambing. Namun begitu dirinya masih belum mengerti mengapa ia dibawa ke warung sate ini oleh polisi yang tak dikenalnya tersebut. Polisi itu selanjutnya mengajak Sariman untuk duduk tak jauh dari lelaki berbaju putih yang tampak tenang melahap satenya. Lelaki itu menoleh sebentar kepada Sariman. Ia terlihat melemparkan senyum ramah kepada Sariman. Sariman pun membalas senyumnya tersebut. Senyum yang sangat ramah dan seolah-olah bagai sudah kenal lama dengan Sariman.
“Daging empuk Jhon!” ucap polisi tersebut kepada lelaki berbaju putih itu. Lelaki yang disapa dengan sapaan jhon tersebut hanya mengangguk pelan saja. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Mulutnya sibuk mengunyah sate kambing yang dihadapinya. Penampilannya kalem sekali. Sampai di sini Sariman masih belum mengerti mengapa ia berada di warung sate kambing tersebut. Hatinya masih penuh tanda tanya ketika sepiring nasi dan sepiring sate kambing telah terhidang di hadapannya tersebut.
“Makanlah! Tidak usah sungkan! Jhon mentraktir kita!” ucap polisi tadi sambil menuang sate kambing ke dalam piring nasinya. Detik kemudian polisi itupun telah mulai melahap satenya.
“Mengapa saya ditraktir Pak?” tanya Sariman keheranan. Tangannya belum berani sama sekali menyentuh sendok yang tergeletak di pinggir piring makannya.
“Biasa saja. Kelakuan Jhon memang begitu. Ia suka mentraktir siapa saja. Kali ini kita berdua yang beruntung,” ucap polisi tersebut sambil mengunyah satenya. Polisi itu terlihat lahap sekali mengunyah sate yang ada di hadapannya. Sementara Sariman meski berselera sekali tetapi ia tak sanggup menikmatinya. Hatinya diliputi kegundahan.
“Bagian kawan-kawan yang lain, Bapak atur saja!” ucap lelaki berbaju putih tersebut sambil menyerahkan segepok uang kepada polisi yang duduk di samping Sariman. Polisi itu hanya mengangguk pelan.
“Kamu memang jeli memilih daging Jhon!” sambung polisi tersebut sembari mengantongi uang yang diserahkan lelaki berbaju putih tersebut dengan cepatnya. Sampai di sini, lagi-lagi Sariman masih tak mengerti maksud pembicaraan keduanya. Otaknya kelewat dungu untuk memahami apa yang sesungguhnya telah terjadi.
“Terimakasih kawan! Ini sedikit untukmu! Istrimu tentu akan gembira menerimanya!” ucap lelaki bernama Jhon tersebut kepada Sariman. Lelaki berbaju putih itu segera memasukkan beberapa lembar uang ke dalam saku baju Sariman. Mulut Sariman terlihat melongo kebingungan. Ada sebersit ketakutan menghinggapi hatinya.
“Tidak usah takut! Hari ini rejekiku lumayan banyak. Aku harus membaginya agar semua orang juga bahagia sepertiku,” ucap lelaki berbaju putih tersebut sekali lagi sambil memberikan uang pembayaran kepada pemilik warung. Sdetik kemudian lelaki bernama Jhon itu pun telah lenyap ditelan oleh riuhnya pasar.
“Pulanglah! Narik becaknya besok lagi. Sekarang istirahatlah di rumah bersama dengan keluargamu,” ucap polisi tersebut sambil bangkit mengajak Sariman untuk pergi meninggalkan warung sate kambing tersebut. Lagi-lagi Sariman dibuat tak mengerti oleh semua kejadian yang barusan dialaminya tersebut. Yang ada di dalam benaknya hanyalah bahwa hari ini ia telah bertemu dengan malaikat yang baik hati. Di sepanjang perjalanan pulang lelaki keriting itu terlihat senyum-senyum sendiri. Pikirannya melayang ketika nanti ia menyelipkan lembaran uang ke balik kutang Cempluk. Perempuan itu pastilah tidak hanya tersipu-sipu malu. Dan hanya Sariman sendirilah yang tahu apa yang akan dilakukan oleh Cempluk untuknya.
* * *

