BARISAN.CO – Sebaik baik manusia adalah orang yang paling banyak manfaatnya bagi manusia lainnya. Sebagaimna hadis riwayat Ahmad, Rasulullah Saw bersabda:
خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ
Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad).
Berdasarkan hadis di atas sesungguhnya menjadi pribadi yang bermanfaat adalah hal yang diidamkan. Selain itu menjadi pribadi yang bermanfaat harus ditanamkan bagi seorang hamba.
Tentu menjadi diri sendiri, lalu bermanfaat untuk keluarga, tetangga dan tentunya untuk alam semesta. Menjadi pribadi yang bermanfaat memiliki manfaat dan kebaikan untuk diri sendiri, sebagaimana Allah Swt berfirman dalam surah Al-Isra ayat 7:
إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ فَإِذَا جَآءَ وَعْدُ ٱلْءَاخِرَةِ لِيَسُۥٓـُٔوا۟ وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا۟ ٱلْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا۟ مَا عَلَوْا۟ تَتْبِيرًا
Artinya: ”Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.” (QS. Al-Isra: 7).
Firman Allah Swt di atas menegaskan manfaat menjadi pribadi yang bermanfaat, begitu juga sebaliknya jika kita berbuat kejahatan. Oleh karena itu hendaknya kita menyadari betapa sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain dan tentunya alam yang telah rusak ini.
Allah Swt berfirman:
وَلَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَٰحِهَا وَٱدْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ ٱلْمُحْسِنِينَ
Artinya: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Araf: 56)
Seburuk-buruk manusia
Sementara itu kebalikan dari sebaik baik manusia adalah seburuk buruk manusia, Allah Swt berfirman dalam Surah al-Anfal ayat 22:
إِنَّ شَرَّ ٱلدَّوَآبِّ عِندَ ٱللَّهِ ٱلصُّمُّ ٱلْبُكْمُ ٱلَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ
Artinya: “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun.” (QS. Al-Anfal: 22).
Tidak mempergunakan akal dan hatinya orang-orang beriman diseru kembali untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Diingatkannya mereka agar jangan berpaling dari-Nya dan jangan menyerupai orang-orang yang mendengar ayat-ayat Allah ketika dibacakan kepada mereka.
Tetapi seakan-akan mereka tidak mendengarkannya. Maka, mereka itulah orang yang tuli dan bisu, meskipun mereka mempunyai telinga yang dapat mendengarkan suara dan mulut yang dapat mengucapkan kata-kata.
Merekalah seburuk-buruk makhluk melata di muka bumi, karena mereka tidak mengambil petunjuk dari apa yang mereka dengar itu. Seruan kepada orang-orang yang beriman di sini adalah agar mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Juga agar jangan berpaling dari-Nya padahal mereka mendengar ayat-ayat dan kalimat-kalimat-Nya. Seruan ini datang setelah dipaparkannya peristiwa-peristiwa peperangan itu, setelah dilihatnya campur tangan Allah, rencana dan ketentuan-Nya, pertolongan dan bantuan-Nya.
Juga, setelah adanya penegasan bahwa Allah menyertai orang-orang mukmin dan melemahkan tipu daya orang-orang kafir. Setelah semua itu, tidak ada alasan untuk tidak mendengar dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Berpaling dari Rasul dan perintah-perintahnya sesudah itu semua tampak sekali sebagai sikap yang mungkar dan buruk. Hal itu tidak mungkin dilakukan oleh orang-orang yang memiliki hati untuk merenung dan akal untuk berpikir.
Oleh karena itu, disebutkannya binatang melata di sini adalah sangat tepat. Menutup Kebenaran Lafal dawaab/ ‘makhluk melata’ ini meliputi manusia dengan segala sesuatunya, karena mereka melata atau merayap di muka bumi. Tetapi, penggunaannya lebih banyak untuk binatang.
Maka, pengucapannya secara mutlak di sini menampakkan bayang-bayangnya. Gambaran binatang dalam indra dan khayalan ini diberikan kepada “orang yang pekak (tuli) dan bisu yang tidak mengerti apa pun.”
Dengan demikian, menurut bayang-bayang ini, mereka adalah binatang melata, bahkan seburuk-buruk binatang melata. Karena, binatang itu mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengarkan kecuali kata-kata yang tidak jelas.
Betapa banyak orang yang pikirannya bisa mengerti, tetapi hatinya tertutup, tidak mau menaati. Pembelajaran Tidak banyak orang yang mampu memahami bahwa segala sesuatu kejadian itu memiliki makna yang luar biasa.
Surah al-Anfal ayat 22mengegaskan pada kita semua manusia agar dengan dimilikinya akal fikiran dan hati yang dimiliki setiap manusia mampu mengambil hikmah. Yaitu bahwa sesungguhnya makna tauhid itu satu bukan pada yang lain bahkan segala sesuatu selain Allah itu sendiri.
Sedangkan laku kita adalah apa yang di naskan dalam al Qur’an dan hadits saja, tidak yang lain.






