Obituari 100 Hari Djawahir Muhammad: Sepanjang Jalan Kenangan. KH Ahmad Mustofa Bisri, “Almarhum Djawahir Muhammad adalah sosok yang ikhlas dan rendah hati.”
BARISAN.CO – Aktor Studio Semarang menyelenggarakan peringatan 100 Hari Almarhum Djawahir Muhammad bertajuk Obituari 100 Hari Djawahir Muhammad; Sepanjang Jalan Kenangan di Auditorium RRI Semarang, , Jalan A Yani No 144-146 Semarang.
Djawahir Muhammad adalah sosok budayawan dan seniman multitalenta selain itu ia juga akademisi, politisi, sejarawan dan cendekiawan muslim. Kiprah dan perannya untuk kota kesayangannya dibuktikan dengan beragam kegiatan bersama Teater Kuncup dan Aktor Studio.
Selain itu bukti cinta kepada kota Semarang, beragam tulisan esai membahas kota semarang. Terutama hubungannya dengan sejarah, kebudayaan dan kesenian di kota Semarang.
Bahkan di usia senja ia sempat mendirikan Yayasan Akademi Semarang dan Sekolah Kebudayaan Semarang. Sekolah Kebudayaana Semarang merupakan salah satu impiannya dimana, di ruang tersebut ada pendidikan dan pembelajaran non formal tentang kesenian dan kebudayaan. Terlebih lagi bahwa Kota Semarang belum memiliki kampus yang fokus pada seni dan budaya.
Hadir beberapa tokoh memperingatai 100 Hari Djawahir Muhammad seperti Walikota Semarang, KH Ahmad Mustofa Bisri, Triyanto Triwikromo. Selain itu politisi Masrukhan Samsurie dan Bambang Sadono, akademisi Prof. Tjetjep Rohendi, dan budawayan Eko Tunas. Juga hadir sastrawan Timur Sinar Suprabana, kartunis Koesnan Hoesie dan Nasrun M Yunus.
Acara dibuka dengan penampilan apik pembacaan puisi dari anggota Aktor Studio, Wage Tegoeh Wijono dan pembacaan puisi Evita Erasari yang diiringi musik Aan Nawi. Selain itu juga penampilan dari Aan Nawi sendiri yang berduet dengan Imran Amirullah dan KolaboArt.
Timur Sinar Suprabana turut membacakan puisi karya Djawahir Muhammad yang berjudul Kubaca Alam. Selain penampilan ragam kesenian, pihak panitia menyerahkan kepada Ibu Walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu sebuah lukisan sebagai bentuk apresiasi keluarga Aktor Studio kepada kota Semarang.
Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang, KH Ahmad Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus memberikan tausyiah dan doa untuk almarhum Djawahir Muhammad.
Gus Mus mengawali dengan memberikan pernyataan bahwa Djawahir Muhammad sudah ia kenal sejak lama dan sosok yang ikhlas.
“Saya kenal Djawahir Muhammad sudah sejak lama. Djawahir Muhammad adalah salah seorang seniman yang setia dengan seninya,” terangnya.
Lebih lanjut Gus Mus menceritakan kisah sosok Djawahir Muhammad, bahwasanya Masrukhan Samsurie berusama mempolitisikan Djawahir Muhammad namun tidak berhasil. Hanya berhasil menjadikannya anggota dewan.
“Ketika masuk ke gedung DPRD, beliau malahan ditahan sama Satpam. Ditanya satpam, “Mau apa Kesini?”. Padahal Djawahir Muhammad adalah angota DPRD, Ia menjawab, “Mau cari kerjaan,” ceritanya.
Lebih lanjut agamawan dan sastrawan nasional ini menuturkan, Djawahir Muhammad adalah sosok yang ikhlas dan sosok yang mempunyai sesuatu
“Orang yang memiliki sesuatu biasanya rendah hati. Sementara yang tidak rendah hati biasanya malah tidak memiliki sesuatu,” ujar Gus Mus, Sabtu (14/1/2023) malam.
Gus Mus menambahkan, acara obituari mengenang almarhum Djawahir Muhammad yang sudah lebih dahulu dipanggil Allah Swt selain untuk kepentingan bagi yang diperingati juga memiliki manfaat bagi yang memperingati.
“Banyak orang yang memperingati tapi tidak ingat bahwa kelak akan diperingati,” terangnya.
Gus Mus mengatakan ada ungkapan Arab mengatakan memperingati wafatnya seseorang sama halnya seperti memikul keranda saudara kita ke makam. Suatu ketika engkau memikul keranda ke makam, jangan lupa suatu saat nanti engkau juga akan dipikul karena tidak bisa berjalan sendiri.
“Orang yang masih hidup dan mengingat kematian akan menjadi orang yang baik,” terangnya.
Ketua panitia aHadi Subono mengatakan, ide awal mengadakan acara memperingati wafatnya almarhum Djawahir Muhammad bermula saat para kerabat dan sahabat melayat.
“Acara obituary 100 Hari Djawahir Muhammad sebagai bentuk apresiasi dan rasa cinta kami keluarga besar Aktor Studio kepada sosok beliau yang tidak hanya sebagai guru tapi juga sahabat, teman dan orang tua,” terang Hadi.
Sebelumnya, pada siang hari digelar acara Panggung Bebas dengan tema Semarang dalam Sajak. Panggung bebas ini menghadirkan para penyair Jawa Tengah dan Kota Semarang, sebut saja Dhiyah Endarwati, Any Faiqoh (Kendal), Mas Jumadi dan Muhamad Arifi (Grobogan), Joshua Igo (Magelang), Bontot Sukandar (Tegal), Wage Tegoeh Wijono (Purwokerto), Didid Endro S (Jepara).
Juga Alfiah Ariswati (Karanganyar), Sus S Hardjono (Sragen), Srikanto dan Nung Bonham (Kudus), Aloet Pathi dan Arif Khilwa (Pati), Bayu Nindiyoko (Wonogiri), Mohamad Iskandar (Demak), dan Ribut Achwandi (Pekalongan).
Sementara dari kota Semarang Fransiska Ambar, Artvelo Sugiarto, Wati Dirsan, Es Cao Dewi, Sulis Bambang, Yanti S Sastro Prayitno, Imam Subagyo, Wardjito Soeharso, Shaa Fia, Didiek WS dan Poemblusukan dan Goenoeng serta rebana Kasatmata Creativa.


