BARISAN.CO – Kaligrafi senantiasa menjadi seni yang terpajang sebagai instalasi rumah selain seni lukisan. Kaligrafi itu sendiri berari tulisan atau aksara yang indah. Biasanya identik dengan seni Islam karena kebanyakan yang menjadi hiasan rumah adalah seni kaligrafi tulisan arab.
Sedangkan arti kaligrafi itu sendiri yakni suatu ilmu yang memperkenalkan bentuk-bentuk huruf tunggal, letak-letaknya dan cara-cara penerapannya menjadi sebuah tulisan yang tersusun. Seiring perkembangannya seni kaligrafi mengikuti arus perubahan masyarakat. Corak kaligrafi ini muncul sebagai kaligrafi kontemporer.
Jika menilik sebagai sebuah perubahan corak seni. Kaligrafi kontemporer lehih melakukan pemberontakan daripada perubahan yakni memberontak terhadap kaidah-kaidah murni dari seni kaligrafi klasik.
Kaligrafi seiring perkembangannya menjelajah beragam aneka media dalam bentuk-bentuk kategori. Sehingga memunculkan madzab dalam seni kaligrafi, madzab kontemporer. Madzab tersebut berusaha lepas dari kelaziman khath atau kaligrafi murni. Khat kaligrafi murni lebih banyak dipegang oleh para khathath di banyak pesantren dan perguruan Islam, seperti Naskhi, Tsuluts, Farisi ,Diwani Diwani Jali, Kufi, dan Riq’ah.
Madzab seni kaligrafi kontemporer memiliki gaya yang mengarah kepada kecenderungan tema, yakni karya dua dimensi dan saat ini lebih marak dengan hadirnya seni tiga dimensi. Seni tiga dimensi ini menghadirkan unsur kaligrafi yang dilatarbelakangi unsur kesatuan estetika yang menampilkan gaya ungkapan, media, dan teknik.
Ciri seni kaligrafi kontemporer juga dipengaruhi wilayah atau daerah. Namun tidak menonjol, baik itu seni kaligrafi islam, seni huruf nusantara, seni huruf jepang maupun mandarin. Namun bukan berarti bahwa hasil karya para kaligrafer, sebutan untuk pembuat kaligrafi tidak memperlihatkan keragaman corak.
Kalaupun harus ditetapkan kategori atas kecendrungan kaligrafi kontemporer di dunia Islam, kebanyakan gaya itu terbagi menjadi 5 kategori sebagaimana menurut Ismail Raji al Faruqi dan bukunya Seni Tauhid, Esensi dan Ekspresi Estetika Islam. Kategori tersebut yakni:
1. Kaligrafi Tradisional
Tipe ini dihasilkan oleh para kaligrafer kontemporer muslim dalam berbagai gaya dan tulisan yang telah dikenal generasi kaligrafer terdahulu. Pemakaian kata “tradisional” menunjukan kesenian dengan tradisi khath masa lalu.
Pesan-pesan yang lebih ditekankan pada pengaturan yang indah dari huruf-huruf ketimbang menapilkan lukisan kaligrafi dalam bentuk pigura alam. Meskipun demikian, terdapat juga kaligrafer tradisional yang melukis kaligrafi dalam pola dedaunan atau motif-motif bunga dan pola-pola geometris. Namun, efek keseluruhan karya kontemporer para kaligrafer tradisional adalah abstrak.
2. Kaligrafi Figural
Kaligrafi kontemporer disebut sebagai “figural” karena ia menggambungkan motif-motif figural dengan unsur-unsur kaligrafi melalui berbagai cara dan gaya. Unsur-unsur figural lazimnya terbatas pada motif-motif daun atau bunga yang dilukiskan agar lebih sesuai dengan sifat abstrak kaligrafi Islam.
Figur-figur manusia atau binatang biasanya jarang ditemukan dalam naskah-naskah al-Qur’an yang ditulis secara kaligrafis, dalam dekorasi masjid atau madrasah. Tipe terakhir ini lebih banyak digunakan pada perkakas rumah tangga. Dalam tipe figural, sering terjadi “peleburan” huruf dalam seni lukis masa lalu dan kontemporer.
Desain seperti ini, huruf-huruf diperpanjang atau diperpendek, melebar dan menyelip, atau diperinci dengan perluasan lingkaran, tanda-tanda tambahan dan sisipan lain yang dibuat agar sesuai dengan non-kaligrafis, geometris, floral, fauna, atau sosok manusia.
3. Kaligrafi Ekspresionis
Kaligrafi ekspresionis merupakan tipe ketiga seni kaligrafi kontemporer di dumia Islam kini. Gaya ini berhubungan dengan perkembangan utama dalam estetika Barat. Meskipun para kaligrafer ekspresionis menggunakan “Perbendaharaan Kata” warisan artistik Islam, mereka jauh berpindah dari contoh “Grammar” kaligrafi asli yang sudah baku.
Kaligrafi ekspresionis, perlu diusahakan penyampaian pesan emosional, visual, dan respon pribadi terhadap objek-objek, orang-orang atau peristiwa yang digambarkan.
4. Kaligrafi Simbolis
Kategori keempat kaligrafi Islam kontemporer termasuk apa yang disebut kaligrafi “Simbolis” dengan memaksakan “penyatuan melalui kombinasi makna-makna”, peranan huruf-huruf sebagai penyampaian pesan dinaifkan.
Bukti dari akulturasi semacam ini sangat kentara dalam desain-desain kaligrafi kontemporer yang menggunakan huruf atau kata Arab tertentu sebagai simbol suatu gagasan atau ide-ide yang kompleks.
Misalnya huruf sin diasosiasikan dengan sayf (pedang) atau sikkin (pisau) yang lazimnya disandingkan bersama penggambaran objek-objek asosiasi untuk menyampaikan “pesan-pesan khususnya”. Bagi sebagian kalangan, hampir semua huruf bisa dipahami secara simbolik, meskipun tidak disetujui sebagian yang lain.
5. Kaligarafi Abstrak
Gaya kelima kaligrafi Islam kontemporer ini dijuluki “khat palsu” atau “khat kabur mutlak“ karena menunjukkan corak-corak seni yang menyamai huruf-huruf atau perkataan-perkataan tetapi tidak mengandung makna apapun yang dapat dikaitkan dengannya.
Dengan menafikan makna lingustik, huruf-huruf itu hanya menjadi unsur sesuatu corak dan untuk “tujuan-tujuan” seni semata. Melalui penggunaan unsur-unsur abjad yang berubah-ubah itu, ahli-ahli kaligrafi abstrak menggunakan huruf-huruf sebagi corak, tidak sebagai unsur-unsur suatu pesan.
Keragaman corak dari beberapa kategori tersebut di atas, sama-sama ingin menghadirkan (menciptakan) sebuah karya seni sebagai wujud dari ekspresi estetika dan etika islami seorang seniman. Perbedaan yang sangat menonjol hanya terletak pada karakteristik yang berusaha ditampilkan dan media yang digunakan oleh masing-masing seniman sebagai perupayat (pelukis kaligrafi).
Seni rupa kontemporer Islam yang berkembang di Indonesia termasuk di dalamnya seni lukis kaligrafi memang membuat masyarakat terkejut dan menimbulkan berbagai pandangan di kalangan seniman muslim, karena kehadirannya yang tiba-tiba populer di tahun ’70-an. (Luk)
