Puasa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar, tetapi menjadi sekolah ikhlas yang menguji kejujuran hati di hadapan Allah.
Oleh: Imam Trikarsohadi
YANG perlu ditanyakan kepada diri sendiri dalam tiap tarikan napas selama Puasa Ramadhan adalah sudah sejauhmana kualitas keikhlasan dalam seluruh proses ibadah. Sebab, sejatinya, Puasa Ramadhan merupakan ibadah yang paling jujur.
Di saat ibadah lain memiliki manifestasi fisik yang bisa dilihat orang lain, puasa justru terletak pada apa yang tidak kita lakukan.
Ia adalah sebuah ketiadaan yang penuh makna. Di sinilah, panggung utama bagi sebuah nilai bernama ikhlas digelar.
Secara teknis, sangat mudah bagi seseorang untuk berpura-pura puasa, dan dengan mudah orang lain mempercayainya.
Tapi bagi yang bertaqwa, ia akan tetap istiqomah menunaikan ibadah puasa sesuai kaidah – kaidah yang telah disabdakan dengan sandaran cukup Allah yang mengetahuinya.
Inilah esensi pertama dari merawat ikhlas, yaitu belajar merasa cukup dengan pengawasan Allah. Di dalam kesunyian itu, kita sedang melatih otot-otot spiritual agar tidak lagi haus akan pujian manusia.
Apa boleh buat, tantangan merawat ikhlas di era modern kian berat dengan hadirnya layar digital. Ada godaan besar untuk “mengonversi” rasa lapar menjadi konten, atau memamerkan lelah demi simpati.
Sebab itu, seni merawat ikhlas di tengah puasa adalah tentang bagaimana kita menjaga jarak dengan keinginan untuk divalidasi.
Ikhlas bukan berarti kita harus menyembunyikan setiap amal, melainkan memastikan bahwa ada “ruang privat” antara kita dan Sang Khalik yang tidak boleh dijamah oleh komentar, follower atau jumlah likes.
Puasa mengajarkan kita bahwa pujian manusia tidak akan mengenyangkan, dan cacian mereka tidak akan membatalkan pahala.
Merawat ikhlas juga berarti menerima ketidaknyamanan. Saat tubuh mulai lunglai dan emosi mulai tersulut karena perut yang kosong, ikhlas hadir sebagai penyejuk.
Kita belajar untuk tidak mengeluh, karena keluhan adalah tanda bahwa kita masih merasa “rugi” telah berkorban.
Ikhlas bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan menerima ketetapan Allah dengan hati lapang dan meningkatkan ketaatan. Ia adalah proses panjang yang menuntut konsistensi niat sebelum, selama, dan setelah beramal untuk menghindari kebanggaan diri (ujub).
Karena itu, pertanda diterimanya amal kita oleh sebab Ikhlas adalah terjadinya perubahan karakter yang lebih baik, di mana seseorang berbuat baik tanpa ingin dilihat dan menjaga lisan serta hati.
Singkatnya, ikhlas menjadikan puasa Ramadhan sebagai sekolah hati untuk kembali kepada ketaatan total. []









