Scroll untuk baca artikel
Kolom

Kedewasaan Batin

Redaksi
×

Kedewasaan Batin

Sebarkan artikel ini
Membuka Tabir Kenikmatan Dunia

Puasa Ramadhan bukan hanya menahan lapar, tetapi menumbuhkan kedewasaan batin: hati yang tenang, jernih, dan tak lagi haus pengakuan.

Oleh: Imam Trikarsohadi

JIKA ditimbang – timbang, selama puasa ramadhan dilakukan secara istiqomah, kian jauh puasa bergulir, maka ada sesuatu yang tumbuh dalam hati; hal – hal yang tadinya membuat kita tergoda, kini terasa hambar.

Itu bukan karena hidup mulai kehilangan warna dan pesona, tapi karena puasa telah membuat kita tidak lagi haus sensasi.

Puasa ternyata memantik kita untuk menemukan makna, bukan pujian. Membangun ketenangan, bukan validasi, apalagi piagam penghargaan.

Aneka nafsu pun mereda, dan kejernihan mengambil alih. Pada fase ini, kita tak lagi mudah terpikat oleh janji kosong dan tipu muslihat. Namun memilih yang nyata, meski sunyi. Dan itu pertanda terbangunnya kedewasaan batin yang sejati.

Kedewasaan batin adalah seni untuk tetap tenang dan utuh di tengah fluktuasi kehidupan, baik saat menghadapi keberhasilan maupun kegagalan. Ia bukan tentang hilangnya emosi, melainkan tentang kemampuan untuk tidak membiarkan perasaan tersebut mendikte kebenaran atau tindakan.

Batin yang dewasa berarti memiliki keberanian untuk menerima kenyataan apa adanya, termasuk rasa sakit, misteri, dan ketidakpastian hidup.

Sebab itu perlu pemahaman mendalam ihwal dualitas kehidupan, bahwa luka adalah tempat cahaya masuk—menerima bahwa kesulitan dan kemudahan adalah satu paket yang tak terpisahkan.

Kedewasaan batin juga ditandai dengan terhentinya kebiasaan memaksa keadaan sesuai keinginan pribadi dan mulai mempercayai waktu serta proses alamiah.

Orang yang dewasa secara batin tidak menggantungkan harga diri pada faktor eksternal seperti pengakuan orang lain atau status sosial.

Ia juga tidak “mabuk” saat berhasil dan tidak “hancur” saat gagal, serta mampu menempatkan segala sesuatu pada porsinya, sehingga tidak ada yang digenggam terlalu erat.

Kedewasaan ini tercermin dalam bagaimana seseorang berinteraksi dengan dunia luar. Ia pun mampu mengelola emosi, memahami perspektif orang lain, dan membangun batasan yang sehat.

Diamnya orang yang batinya dewasa pertanda ia memiliki kekuatan dan kontrol diri dibandingkan reaksi impulsif. Ia juga tidak merasa lebih mulia saat lapang dan tidak merasa hina saat sempit, karena menyadari setiap orang memiliki jalur ujiannya masing-masing.

Karena itu, kedewasaan batin tidak datang secara instan, melainkan melalui proses panjang “penyaringan” dalam hidup. Dan salah satunya dengan berpuasa secara khusyuk selama Ramadhan.

Apa sebab? Karena puasa sesungguhnya belajar dari kehilangan, diantaranya kehilangan pelbagai prevelese siang hari. Sebab, kehilangan bukan ketiadaan, melainkan sebagai cara batin menata ulang ruang di dalam hati untuk hal yang lebih bermakna.

Batin yang dewasa berarti hati yang jernih. Sebab itu mampu membedakan antara kebisingan ekspektasi dunia dengan suara nurani yang jernih melalui keheningan dan refleksi. []