Di antara malam-malam Ramadhan yang sunyi, ada satu malam paling mulia: Lailatul Qadar, saat doa, takdir, dan rahmat Allah turun tanpa suara.
Oleh: Imam Trikarsohadi
DIANTARA gelap malam yang serupa, ada satu malam yang berbeda. Pertantanyaanya, di malam itu, kita terjaga atau terlena?.
Apa sebab? Karena malam Lailatul Qadar datang tak seperti perang rudal yang bergemuruh seperti di langit Timur Tengah saat ini. Ia datang secara sunyi, senyap, tapi menghujam. Disaat dunia terlelap, langit justru sibuk menurunkan rahmat.
Malam itu tak panjang, tapi nilainya melampaui apapun yang kita banggakan. Dan di malam itu, doa bukan lagi sekadar ucapan, tapi penyerahan total.
Karena itu, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri, apakah sujud kita sudah benar – benar jatuh, atau sekadar menyentuh lantai. Pun apakah istighfar kita telah benar – benar jujur, atau hanya rentetan kata – kata tanpa rasa dan kesungguhan.
Dalam pusaran ini, Allah SWT tidak mencari yang sempurna, tapi mencari yang sungguh-sungguh. Hati yang koyak pun DIA undang. Bahkan, hati yang kotor pun tetap diberi ruang agar menjadi bersih. Tinggal bagaimana kita, mau datang atau berpaling.
Maka, jika malam ini terasa lebih senyap dan hening, jangan abaikan getarnya. Bisa jadi, takdir kita sedang disusun ulang.
Diantara gelap yang sama, ada satu malam yang tak serupa, dan itu mungkin, kesempatan terakhir kita untuk benar – benar kembali tanpa noda. Sebab itu, ia jadi amat penting nilainya.
Seperti yang kita tahu, malam Lailatul Qadar adalah momen spiritual tertinggi di bulan Ramadan yang melambangkan kemuliaan, penetapan takdir (Qadar), dan keberkahan (Barakah) yang setara dengan seribu bulan.
Malam ini menjadi simbol penyucian jiwa, ampunan dosa, dan kedekatan hamba dengan Allah SWT, di mana malaikat turun membawa kedamaian hingga fajar.
Menurut para ahli tafsir, Lailatul Qadar diartikan sebagai malam penetapan alur, nasib, dan takdir manusia selama satu tahun ke depan yang dikirim dari Lauhul Mahfuz ke langit dunia. Ini adalah malam perencanaan hidup dan refleksi diri.
Malam ini adalah malam paling mulia yang tidak ada tandingannya, menjadi puncak dari ibadah di bulan Ramadan.
Ibadah pada malam ini memiliki nilai pahala dan keberkahan yang lebih besar daripada ibadah selama 83 tahun 4 bulan.
Ia juga pertanda sebagai malam kesadaran tertinggi dan kearifan bagi umat manusia, karena malam ini adalah malam diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk umat manusia.
Lailatul Qadar juga membawa damai dan keselamatan dari kejahatan setan hingga fajar, menciptakan ketenangan hati.
Malam ini mengajarkan manusia untuk melakukan perubahan perilaku menuju kearifan ilahi setelah melalui latihan fisik dan spiritual selama Ramadhan.
Lailatul Qadar juga disebut Lailatun Syarifah (malam mulia) dan Lailatun Mubarakah (malam penuh berkah), yang merupakan momen terbaik bagi umat Muslim untuk mendapatkan pengampunan atas dosa-dosa terdahulu.
Sebab itu, jangan dilewatkan atau disia – siakan agar hidup kita tidak sia-sia. []







