IKA ISMEI Sulselbartra menilai pembangunan PSEL Makassar di kawasan TPA Antang lebih efisien, minim risiko sosial, dan mampu menggerakkan ekonomi warga lokal.
BARISAN.CO – Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kota Makassar dinilai tidak hanya harus berfungsi sebagai solusi pengelolaan sampah, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi bagi masyarakat sekitar lokasi pengolahan.
Ikatan Alumni Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia (IKA ISMEI) Wilayah Sulselbartra menilai keberadaan PSEL harus memberi dampak langsung terhadap kesejahteraan warga, terutama di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang.
Koordinator IKA ISMEI Sulselbartra, Hasan Basri, mengatakan aspek kemanfaatan ekonomi masyarakat lokal perlu menjadi perhatian utama pemerintah dalam menjalankan proyek strategis bernilai investasi besar tersebut.
Menurutnya, pembangunan PSEL yang terintegrasi dengan kawasan TPA Antang akan lebih efektif dari sisi ekonomi maupun operasional.
“Dari sisi pertimbangan ekonomi, jika PSEL berlokasi di dekat TPA Antang, maka efisiensi terhadap biaya operasional bisa ditekan. Kedekatan lokasi bahan baku sampah dengan area pengolahan akan memangkas biaya logistik yang cukup besar,” ujar Hasan Basri kepada media, Jumat (15/5/2026).
Hasan menjelaskan, efisiensi operasional akan berdampak terhadap keberlanjutan proyek dalam jangka panjang.
Dengan biaya logistik yang lebih rendah, operasional PSEL dinilai lebih stabil sehingga manfaat ekonominya dapat terus dirasakan oleh pemerintah daerah maupun masyarakat sekitar.
Selain faktor efisiensi, IKA ISMEI Sulselbartra juga menyoroti pentingnya mitigasi risiko investasi melalui pendekatan sosial kepada masyarakat.
Hasan mengingatkan bahwa rencana pembangunan PSEL sebelumnya di wilayah Tamalanrea sempat mendapat penolakan warga yang berpotensi menghambat jalannya investasi.
“Memang sebelumnya ada pemenang tender untuk lokasi di Tamalanrea, namun jika terjadi penolakan oleh warga, maka ke depannya tidak menutup kemungkinan PSEL akan sulit berjalan sesuai harapan. Risiko investasi akan sangat tinggi jika setiap saat diperhadapkan dengan resistensi masyarakat sekitar,” jelasnya.
Menurut Hasan, kawasan TPA Antang dinilai lebih siap karena masyarakat di wilayah tersebut telah lama beradaptasi dengan aktivitas pengelolaan sampah.
Kondisi itu dianggap dapat meminimalisir potensi konflik sosial sekaligus mendukung kelancaran operasional proyek PSEL di Makassar.
IKA ISMEI Sulselbartra juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat lokal dalam penyerapan tenaga kerja.
Hasan berharap proyek PSEL tidak hanya berorientasi pada teknologi dan investasi, tetapi mampu membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas bagi warga sekitar lokasi pengolahan sampah.
“Kita harapkan tenaga kerja PSEL ke depannya lebih dominan menggunakan warga sekitar lokasi. Ini adalah cara paling efektif agar perputaran ekonomi di tingkat akar rumput bisa lebih bertumbuh,” tegas Hasan.
Dengan melibatkan tenaga kerja lokal dan memusatkan pembangunan di kawasan TPA Antang, proyek PSEL Makassar diharapkan tidak hanya menyelesaikan persoalan sampah perkotaan, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat sekitar melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan aktivitas ekonomi lokal. []









