Scroll untuk baca artikel
Kolom

Kurikulum Terbaik adalah Guru

Redaksi
×

Kurikulum Terbaik adalah Guru

Sebarkan artikel ini
Pendidikan Berkualitas
Syaiful Rozak

Kurikulum terbaik bukan sekadar dokumen, melainkan guru yang mampu menghidupkannya di dalam kelas. Kualitas pendidikan dimulai dari kualitas guru.

Oleh: Syaiful Rozak
(Guru MTs Mazro’atul Ulum)

ADAKAH di antara sahabat guru yang bertanya-tanya, mengapa kurikulum pendidikan di Indonesia selalu berubah?

Dari pertanyaan diatas, setidaknya ada tiga faktor utama kenapa kurikulum pendidikan selalu berubah. Pertama adalah kebutuhan dan tuntutan zaman. Kedua adalah perubahan kebijakan pemerintah. Dan ketiga adalah evaluasi dan perbaikan sistem pendidikan.

Dampak dari perubahan kurikulum terhadap guru adalah keharusan untuk beradaptasi dengan cepat dengan kurikulum yang baru. Sebagian guru ada yang menyambut perubahan kurikulum dengan antusias, sebagian ada yang merasa terbebani, dan sebagian lainnya ada yang tidak puas karena penerapannya saja belum sempurna, tapi sudah ada perubahan lagi.

Ketidak sinkronan antara perubahan kurikulum yang cepat dengan kesiapan guru dalam menyambut kurikulum baru inilah yang menyebabkan arah pendidikan menjadi tidak jelas dan tidak terarah.

Ketidak jelasan ini bukan terletak pada kurikulumnya, tapi pada jarak antara kurikulum yang baru dengan kesiapan guru dalam penerapannya.

Untuk itu dari pada fokus pada perubahan kurikulum, lebih baik prioritas pada peningkatan kualitas guru melalui pelatihan-pelatihan yang relevan dalam menunjang kompetensi guru.

Kurikulum yang sudah ada tidak perlu rubah, tapi cukup dikembangkan melalui metode dan pendekatan yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Keberhasilan pendidikan lebih ditentukan pada kualitas guru, bukan pada kurikulum. Guru adalah aktor utama yang menghidupkan kurikulum di dalam kelas, sedangkan kurikulum hanyalah sebatas dokumen panduan.

Guru Adalah Kurikulum Hidup

Ditangan guru yang baik, kurikulum yang buruk akan menjadi baik. Sebaliknya ditangan guru yang buruk, kurikulum yang baik akan menjadi buruk. Sebaik apapun kurikulum, kualitas pembelajaran di kelas tetap bergantung pada guru yang menerapkannya. Kurikulum hanyalah dokumen mati, gurulah yang menghidupkan kurikulum tersebut dalam proses pembelajaran.

Tidak ada kurikulum yang sempurna, gurulah yang menjadikan kurikulum tersebut menjadi hidup dalam proses pembelajaran di kelas-kelas. Kurikulum itu penting, tapi peran guru lebih penting. Kurikulum yang baik itu diperlukan, tapi kualitas gurulah yang menentukan.

Guru adalah kurikulum yang hidup bagi murid-muridnya. Buku ajar mungkin bisa usang dan terlupakan, tapi sikap dan keteladanan guru dalam mengajar akan membekas seumur hidup. Guru yang mengajarkan keikhlasan dan kesabaran melalui keteladanan akan dikenang sepanjang hayat.

Karakter murid tidak tumbuh dari teori moral, melainkan dari keteladanan. Kedisiplinan dan tanggung jawab tidak bisa ditanamkan melalui instruksi dan perintah, melainkan dari pembiasaan dan contoh nyata. Kepedulian dan kasih sayang itu lebih bermakna dari pada sekedar nasehat.

Guru yang mampu memberi maaf pada murid yang telah membuatnya jengkel sebenarnya sedang mengajarkan akhlak yang mulia. Saat guru mampu mengendalikan emosi, kelas bukan lagi sekedar tempat transfer ilmu, melainkan laboratorium kecerdasan emosional. Guru yang menunjukkan kepedulian dan kasih sayang sebenarnya sedang menanamkan empati dan kemanusiaan. []