Lokakarya Litera-Preunership di Kendal membekali peserta dengan strategi mengubah produk sastra menjadi peluang bisnis dan memasarkannya secara digital.
BARISAN.CO – Produk sastra dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi bagian dari ekonomi kreatif jika dikelola dengan perencanaan bisnis dan strategi pemasaran yang tepat. Hal itu menjadi salah satu fokus dalam penutupan Lokakarya Inkubasi Litera-Preunership yang digelar Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK) di Kopi Sufi, Brangsong, Kabupaten Kendal, Minggu (9/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi sesi terakhir pemberian materi dalam rangkaian simposium Litera-Preunership. Sekitar 25 peserta dari kalangan mahasiswa hingga pekerja mengikuti lokakarya yang berlangsung sejak pagi hingga siang hari.
Pada sesi kedua, peserta mendapatkan materi “Perencanaan Bisnis Berbasis Produk Sastra” yang disampaikan Muhammad Feriady, S.Pd., M.Pd. dari Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Materi penutup bertajuk “Pengelolaan Lokapasar Berbasis Produk Sastra” disampaikan Nanang Dwi Praatmana, S.E., M.M., yang juga berasal dari Unnes.
Dalam pemaparannya, peserta didorong tidak hanya menghasilkan karya sastra, tetapi juga mampu mengidentifikasi peluang pasar dan mengemas karya menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Produk tersebut dapat berupa buku maupun produk lain yang berkaitan dengan sastra.
Peserta juga diperkenalkan dengan berbagai platform digital untuk memperluas pemasaran. Salah satu contoh yang dibahas adalah pemanfaatan marketplace, termasuk pendaftaran produk melalui Shopee Seller.
Aspek pengelolaan usaha juga menjadi bagian dari materi. Peserta mendapat gambaran mengenai kewajiban perpajakan serta pentingnya pemahaman dasar akuntansi dalam menjalankan usaha, termasuk bagi pelaku usaha perseorangan.
Meski jumlah peserta tidak terlalu banyak karena kegiatan berdekatan dengan persiapan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, antusiasme peserta tetap terlihat. Mereka mengikuti materi hingga selesai dan aktif mengajukan pertanyaan kepada narasumber.
Peserta lokakarya berasal dari beragam latar belakang. Sebagian sudah menjalankan bisnis, sementara lainnya masih berada pada tahap merancang usaha.
Salah seorang peserta, Novi Cahyaningsih, menilai kegiatan tersebut tidak hanya menambah pengetahuan bisnis, tetapi juga membuka peluang membangun relasi baru.
“Acara dapat memberikan relasi baru untuk kita dan membuat berkembang menjadi pebisnis serta pengusaha,” ujar Novi yang aktif dalam Kendal Book Circle.
Hal senada disampaikan M Yozar Amrullah, leader Yozar And The Superheroes. Ia menilai kegiatan serupa layak diperluas ke komunitas sastra dan kota lain untuk meningkatkan kesadaran mengenai potensi ekonomi kreatif.
“Acara yang digelar Pelataran Sastra bagus, perlu diadakan juga di komunitas sastra lain dan di kota-kota lain untuk membangun awareness ekonomi kreatif,” katanya.
Sementara itu, Nanang Dwi Praatmana mengatakan kegiatan tersebut dapat menjadi bekal bagi komunitas maupun individu untuk menyusun rencana usaha secara lebih terarah.
Menurut dia, komunitas dapat mendorong anggotanya agar semakin mandiri secara ekonomi sekaligus mengembangkan usaha secara bersama-sama.
Presiden Pelataran Sastra Kaliwungu, Bahrul Ulum A Malik, mengatakan penyelenggaraan lokakarya bisnis berbasis sastra berangkat dari kebutuhan komunitas untuk membangun kemandirian ekonomi.
“Sudah saatnya komunitas sejahtera di dalam, di luar saling sinergi untuk ekonomi kemandirian,” ujarnya.
Melalui lokakarya tersebut, PSK mendorong agar karya sastra tidak berhenti sebagai produk kreatif, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi. Peserta diharapkan mampu menyusun perencanaan usaha, memilih kanal pemasaran, serta memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pasar.
Dengan pendekatan tersebut, literasi dan sastra diharapkan tidak hanya berkembang dari sisi kreativitas, tetapi juga mampu membuka peluang usaha dan memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di tingkat komunitas. []









