Scroll untuk baca artikel
Berita

Katib Syuriyah PCNU Cilacap Ungkap Dugaan Tawaran Rp50 Juta Terkait Usulan Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA)

×

Katib Syuriyah PCNU Cilacap Ungkap Dugaan Tawaran Rp50 Juta Terkait Usulan Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA)

Sebarkan artikel ini
KH Abdal Malik mengungkap dugaan tawaran Rp50 juta
Tangkapan layar akun FB Abdal Malik

Katib Syuriyah PCNU Cilacap KH Abdal Malik mengungkap kesaksiannya soal dugaan tawaran Rp50 juta terkait surat usulan Ahlul Halli Wal Aqdi menjelang Muktamar ke-35 NU.

BARISAN.CO – Katib Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cilacap, KH Abdal Malik, mengungkapkan adanya dugaan upaya memengaruhi proses pengusulan Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).

Pengakuan tersebut ia sampaikan melalui tulisan berjudul “Dari Kafe ke Tambakberas: Kesaksian Seorang Katib Syuriyah”.

Dalam tulisannya, Abdal Malik mengaku pada 12 Agustus 2026 didatangi seseorang yang mengajaknya bertemu di sebuah kafe. Dalam pertemuan tersebut, menurut dia, orang itu menunjukkan draft usulan AHWA dalam bentuk file Microsoft Word.

Abdal Malik menyebut draft tersebut kemudian diminta untuk diusahakan mendapatkan tanda tangan Rais Syuriyah PCNU Cilacap dan tanda tangannya selaku Katib Syuriyah. Ia juga diminta memastikan surat tersebut mendapatkan stempel PCNU Cilacap.

Menurut Abdal Malik, dalam pertemuan itu juga disampaikan tawaran uang sebesar Rp50 juta apabila dirinya mengirimkan foto surat usulan yang telah ditandatangani dan dibubuhi stempel, dengan isi sesuai draft yang diberikan.

Abdal Malik mengatakan menolak tawaran tersebut. Ia menilai permintaan tersebut bukan sekadar bantuan administratif, melainkan upaya menjadikan surat organisasi sebagai bentuk pengesahan terhadap naskah yang sebelumnya telah disiapkan pihak lain.

“Saya menolak. Saya tidak menawar, tidak menunda, tidak meminta waktu untuk dipikirkan,” tulis Abdal Malik.

Ia kemudian mengaitkan peristiwa tersebut dengan pengalamannya ketika mengikuti Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Dalam muktamar, Abdal Malik mengaku menjadi salah satu peserta yang terlibat dalam perhitungan surat usulan sekaligus membantu proses tabulasi calon AHWA.

Menurut dia, ketika proses tabulasi berlangsung, terdapat sejumlah surat usulan yang redaksinya memiliki kemiripan dengan draft yang sebelumnya ditawarkan kepadanya.

Namun, Abdal Malik menegaskan dirinya tidak menuduh seluruh PCNU maupun PWNU terlibat dalam praktik tersebut.

Ia juga mengakui adanya kemungkinan penggunaan template yang sama dalam pembuatan surat organisasi. Menurutnya, format surat resmi yang seragam dapat menyebabkan kemiripan redaksi meskipun dibuat melalui proses yang berbeda.

“Template memang bisa beredar. Format resmi memang cenderung seragam. Orang yang jujur pun bisa memakai kerangka yang mirip,” tulisnya dikutip dari Facebooknya, Senin (31/8/2026).

Meski demikian, Abdal Malik mengatakan kemiripan sejumlah surat tersebut membuatnya melihat adanya pola karena sebelumnya ia mengaku telah melihat draft serupa dan mendengar nominal tawaran yang diberikan.

Dalam tulisannya, Abdal Malik juga menjelaskan pandangannya mengenai mekanisme pengusulan AHWA.

Menurut dia, surat usulan semestinya lahir dari rapat Syuriyah, dibahas dan disepakati terlebih dahulu sebelum ditandatangani Rais dan Katib serta dibubuhi stempel organisasi.

Ia menilai proses tersebut penting untuk menjaga kewibawaan musyawarah dalam organisasi. Abdal Malik juga menyebut PCNU Cilacap tetap menjalankan proses tersebut sesuai mekanisme yang diyakininya.

Abdal Malik menegaskan bahwa dirinya tidak bermaksud menjadi hakim atas seluruh proses yang berlangsung menjelang Muktamar ke-35 NU. Ia menyatakan hanya ingin menyampaikan apa yang dialaminya secara langsung sebagai bentuk kesaksian.

“Ada orang yang mencoba membeli surat usulan Ahlul Halli Wal Aqdi. Ada draft siap pakai dalam bentuk file Word. Ada harga. Ada permintaan bukti. Saya menolak,” tulisnya.

Ia berharap proses AHWA ke depan tetap menjadi forum yang mengedepankan ilmu, musyawarah, dan ketakwaan. Ia juga berharap setiap tanda tangan dan stempel organisasi tetap menjadi bentuk kesaksian atas keputusan yang benar-benar lahir dari musyawarah, bukan sekadar formalitas administratif.

Di bagian akhir tulisannya, Abdal Malik turut menyampaikan ucapan selamat kepada KH Miftachul Akhyar dan KH Abdul Hakim Mahfudz atas amanah baru di PBNU, serta menyampaikan terima kasih kepada KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya atas berbagai hal yang menurutnya telah diajarkan selama berada di lingkungan Nahdlatul Ulama. []