Edukasi

Adab Mencari Ilmu dan Sampah Pengajian

Lukni An Nairi
×

Adab Mencari Ilmu dan Sampah Pengajian

Sebarkan artikel ini
Jamaah
Ilustrasi: Barisan.co

Bangsa Indonesia patut bersyukur melihat masyarakatnya gemar kumpul-kumpul dalam satu lingkaran jamaah hingga larut malam bahkan sampai pagi. Tidak ada bangsa di dunia ini yang bisa bertahan dan kuat membuka mata, kecuali bangsa Indonesia. Begitu juga niat baik untuk belajar seumur hidup, supaya mendapatkan asupan gizi berupa ilmu dan pengetahuan.

Berkumpul dalam satu majelis ilmu menggambarkan suatu kebudayaan, salah satunya jamaah pengajian. Hal ini memiliki ciri dan keunikan budaya tersendiri yakni lingkaran jamaah. Seperti jamaah yang bersarung, berpakaian putih-putih maupun ala kadarnya. Para jamaah bisa bertahan sampai pagi mendengarkan ceramah para kiai atau pembicara. Artinya sangat jelas, seharusnya selain para jamaah bisa membuka mata tentu bisa membuka hati.

Namun alangkah ironisnya mereka hanya bisa membuka mata, tanpa bisa membuka hati. Intinya ketika para jamaah mendapatkan siraman rohani seharusnya melekat pada diri akan tetapi justru hanya sampai di mata saja. Hal ini dapat dilihat dari perilaku setelah meninggalkan acara pengajian atau kumpul-kumpul.

Bangsa ini memiliki nilai kesalehan pribadi yang luar biasa, dalam hal kesalehan sosial inilah yang menjadikan ilmu hanya sampai pada mata tidak tertanam pada hati. Setelah keluar dari arena jamaah; sampah plastik menyebar, kertas-kertas berserakan di mana-mana dan jelasnya sampah selalu ada berserakan.

Mereka berpikir bahwa ilmu sudah tertanam dalam hati, persoalan sampah hanya sebatas lahiriah yang tampak dan dapat seketika dibersihkan oleh pihak penyelenggara atau panitia. Belum lagi jamaah-jamaah ilmu di dunia berbasis internet, yang ada hanya sampah-sampah. Hal ini karena seseorang sekadar tahu teknologi, tanpa memahami teknologi.

Sesungguhnya ilmu yang katanya tertanam dalam hati, hanya sebatas mata.

“Sesungguhnya Allah Swt itu suci yang menyukai hal-hal yang suci, Dia Maha Bersih yang menyukai kebersihan, Dia Mahamulia yang menyukai kemuliaan, Dia Maha Indah yang menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu” (HR. Tirmizi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *