Scroll untuk baca artikel
Terkini

Awalil: Atasi Persoalan di Indonesia, Anies Jawabannya

Redaksi
×

Awalil: Atasi Persoalan di Indonesia, Anies Jawabannya

Sebarkan artikel ini

Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah gali lubang, tutup lubang, bahkan sebelum pandemi terjadi.

BARISAN.CO – Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) I Sekretariat Bersama (Sekber) Kolaborasi Relawan Anies Baswedan se-Jawa Timur berlangsung pada Sabtu (19/2/2023).

Acara itu dihadiri oleh 46 simpul relawan Anies Baswedan di Provinsi Jawa Timur, yang berlangsung di rumah makan Primarasa, Gubeng, Surabaya. Dengan jumlah peserta sekitar 100 orang.

Dalam acara tersebut, Awalil Rizky mengatakan, tujuan kemerdekaan yang tercantum dalam Pembukaan UUD (Undang-Undang Dasar) 1945 sering disebut Anies sebagai janji kemerdekaan.

“Anies selalu berjuang menjadi bagian dari negara untuk memenuhi janji tersebut. Ketika beliau hanya sebagai warga negara, yakni rektor Universitas Paramadina, Inisiator Indonesia Mengajar, Turun Tangan, Kelas Inspirasi, dan sebagainya, maupun ketika mengemban amanah sebagai pejabat negara, Menteri dan Gubernur DKI Jakarta,” kata Awalil.

Dia menjelaskan, das sein saat ini tampak cenderung menjauh dari das sollen. Das sein adalah keadaan atau kondisi yang nyata pada periode watu tertentu, misalnya selama beberapa tahun terakhir.

Sementara, das sollen atau kondisi yang diharapkan dari janji kemerdekaan dapat ditafsirkan dalam berbagai indikator sosial, politik, ekonomi, dan lain-lain.

Awalil kemudian memberikan contoh das sollen tersebut, seperti pendapatan dan ketersediaan pekerjaan.

“Penduduk kelompok hampir miskin dan rentan miskin lainnya, masih sangat banyak. Kemungkinan besar di tahun 2021 dan 2022 ada sekitar 95-98 juta jiwa. Begitu juga, dengan jumlah penganggur dan tingkat pengangguran turun memang, tapi lebih lambat dari laju kenaikannya,” tambahnya.

Dia menyebut, selama beberapa tahun terakhir, pemerintah gali lubang, tutup lubang, bahkan sebelum pandemi terjadi.

“Di tahun 2017, misalnya, pembayaran bunga utang pemerintah itu Rp258 triliun, pembayaran pokok utangnya Rp501 triliun, dan penarikan utang barunya Rp 873 triliun, itu sebelum pandemi. Setelah pandemi, kasus Covid-19 tidak begitu membludak, di tahun 2022 kemarin, bunga utang yang dibayarkan Rp403 triliu, pembayaran pokok utang Rp650 triliun, dan utang yang ditarik sampai Rp1.389 triliun,” paparnya.

Paparan tersebut, menurut Awalil hanya sebagian kecil indikasi dalam bidang ekonomi, hal serupa juga terjadi di bidang lain, misalnya kasus stunting, meningkatnya tingkat korupsi, dan politik yang tidak sehat.

“Indonesia juga tampak tidak memainkan peran penting dalam dinamika politik dan ekonomi dunia. Maka, untuk memperbaiki kondisi tersebut diperlukan kepemimpinan nasional yang kuat, bersih memiliki ide besar, dan mampu mewujudkannya, dan semua karakteristik itu ada pada diri Anies Baswedan,” ungkapnya.

Setelahnya, acara dilanjutkan dengan pemilihan Presidium Sekber. Dengan menetapkan lima orang Presidium dan H. Sulih dari P-24 sebagai Koordinator Presidium. [rif]