Scroll untuk baca artikel
Fokus

[FOKUS] Banjir, Tuhan, Kapitalis, dan Perlawanan Nuh As

Redaksi
×

[FOKUS] Banjir, Tuhan, Kapitalis, dan Perlawanan Nuh As

Sebarkan artikel ini

Pada dasarnya kerusakan sumber daya alam dan lingkungan itu disebabkan oleh kelakuan manusia sendiri. Akibatnya sumber daya alam dan pada khususnya energi menjadi barang langka akibat tingkat interaksi yang berlebihan (over explotation) dan kurang memperlihatkan aspek berkelanjutan.

Siapa itu Nabi Nuh As?, nama Nuh bukan berasal dari bahasa Arab, tetapi dari bahasa Syria yang artinya “bersyukur” atau “selalu berterima kasih”. Dinamakan Nuh karena seringnya dia menangis, nama aslinya adalah Abdul Ghafar (Hamba dari Yang Maha Pengampun). Geneologi Nuh As adalah nabi ketiga sesudah Adam, dan Idris. Ia merupakan keturunan kesembilan dari Adam.

Ayahnya adalah Lamik (Lamaka) bin Metusyalih atau Mutawasylah (Matu Salij) bin Idris bin Yarid bin Mahlail bin Qainan bin Anusyi bin Syits bin Adam. Antara Adam dan Nuh ada rentang 10 generasi dan selama periode kurang lebih 1642 tahun. Sedangkan menurut kisah dari Taurat nama asli Nuh adalah Nahm yang kemudian menjadi nama sebuah kota, kuburan Nuh berada di desa al Waqsyah yang dibangun didaerah Nahm. Nuh As mendapat gelar dari Allah dengan sebutan Nabi Allah dan Abdussyakur yang artinya “hamba (Allah) yang banyak bersyukur”.

Ia hidup sekitar (3993-3043 SM) seorang pejuang anti kapitalis atau rasul yang diceritakan dalam Kitab Taurat, Al-Kitab dan Al-Qur’an. Nuh As diangkat menjadi Nabi sekitar tahun 3650 SM, diperkirakan tinggal di wilayah selatan Irak Modern dan bahkan di negeriku Indonesia menggap Nabi Nuh As berasal dari Jawa Indonesia, sebab kayu-kayu besar dan banyaknya gunung dan kemakmuran berada di wilayah Nusantara.

Menurut Al-Qur’an, ia memiliki 4 anak laki-laki yaitu Kanʻān, Sem, Ham, dan Yafet. Namun Alkitab hanya mencatat, ia memiliki 3 anak laki-laki Sem, Ham, dan Yafet. Ia mempunyai istri bernama Wafilah, sedangkan beberapa sumber mengatakan istri Nuh adalah Namaha binti Tzila atau Amzurah binti Barakil.

Kisah Nabi Nuh As dan Bahteranya sebenarnya merupakan perlawanan kaum tertindas dengan kaum kapitalis. Nabi Nuh merupakan Nabi dan Rasul pertama yang diutus pada suatu kaum yakni kaum Bani Rasib. Dimana saat itu Nabi Nuh hidup pada masa Raja Dhahhak atau Biyorasih yang sebelumnya membunuh Raja Jim (Jamsyid), lalu kerajaan mengalami fase suksesi, kepemimpinan digantikan seorang laki-laki bernama Darmasyil. Darmasyil ini menjadi sosok penjajah, ia merupakan raja yang kuat perkasa dan menguasai kekayaan alam, ia menjadi super power penguasa atau kaum kapitalis yang menguasai kekayaan.

Dalam kelas sosial Kaum Nabi Nuh As terbagi menjadi 3 (tiga) yakni kelas para raja, kelas bangsawan atau punggawa kerajaan dan kelas rakyat. Kaum kapitalis menjadi kelasnya para raja dan bangsawan yang berperan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka kaum kapitalis menipu rakyat dengan kekuasaan palsu dan menjadikan kelas rakyat sebagai warga yang wajib mentaati dan tidak boleh menentang kaum kapitalis.

Sedangkan Kaum Nabi Nuh As mewakili kelas rakyat atau warga yang mengalami ketertindasan. Mereka berada pada posisi yang sama sekali tidak memiliki the power of bergaining position. Kaum Nabi Nuh adalah kelas tertindas dan selalu ditindas oleh keinginan dan kepentingan para raja dan kalangan bangsawan.

Lalu Nuh As diutus Allah menjadi Rasul yang membawa hakikat ketuhanan dan hakikat kebangkitan, sehingga akar-akar idiologisasipun terdengar. Akan tetapi pilar idiologi yang dibawa Nabi Nuh As mengalami perlawanan dari kaum kapitalis sehingga terpecah menjadi dua kelompok, kelompok pertama diwakili Nabi Nuh As  dan orang-orang lemah yakni para fakir miskin. Sedangkan kelompok kedua diwakili oleh orang-orang kaya dan para penguasa yang melancarkan serangan perlawanan terhadap kaum Nabi Nuh As.