Scroll untuk baca artikel
Blog

Berguru Kesederhanaan Kepada Mohammad Natsir

Redaksi
×

Berguru Kesederhanaan Kepada Mohammad Natsir

Sebarkan artikel ini
Oleh: Zaenal Abidin Riam*

Mohammad Natsir merupakan tokoh bangsa yang bukan hanya memiliki gagasan brilian, tetapi juga sikap yang layak diteladani. Bahkan, sikapnya bisa menjadi inspirasi bagi generasi masa kini yang berniat tampil di pentas politik, atau secara umum bagi mereka yang ingin menghibahkan diri untuk NKRI.

Sepanjang sejarah karir politiknya, Mohammad Natsir tercatat pernah menempati berbagai pos penting dalam struktur pemerintahan. Salah satunya sempat menduduki posisi perdana menteri. Sebuah posisi yang prestisius.

Jika mau, dengan jabatan prestisius tersebut Mohammad Natsir bisa saja memilih meningkatkan kesejahteraan hidup pribadinya. Tetapi pilihan tersebut tidak diambilnya. Mohammad Natsir justru kukuh mempertahankan sikap kesederhanaan yang memang sudah menjadi ciri khasnya sebelum ia memegang jabatan dalam pemerintahan.

Bagi seorang Mohammad Natsir, jabatan bukan ajang memperkaya diri. Walaupun kesempatan itu terbuka di depan mata, Natsir sangat sadar bahwa jabatan yang ia pegang merupakan kesempatan untuk berkontribusi lebih besar terhadap bangsa dan negara.

Oleh sebab itu Mohammad Natsir benar-benar menggunakan amanah yang diembannya untuk melayani rakyat.

Mohammad Natsir merupakan sosok yang telah melalui ujian kesederhanaan, komitmennya untuk hidup sederhana telah teruji. Posisi penting dalam pemerintahan yang tidak membuatnya tergiur memperkaya diri merupakan bukti bahwa ia telah lulus ujian kesederhanaan.

Kisah kesederhanaan Mohammad Natsir bukan isapan jempol belaka. Orang-orang yang bertemu Mohammad Natsir di masa jayanya melihat langsung kesederhanaan sang tokoh bangsa.

Di tahun 1948, George McTurnan Kahin, seorang sejarawan berkebangsaan Amerika, pernah dibuat kaget dengan penampilan Mohammad Natsir yang memakai kemeja yang ditambal padahal saat itu Natsir sedang menjabat sebagai menteri penerangan.

Pada suatu waktu, Mohammad Natsir pernah meninggalkan mobil dinasnya di Istana Presiden lalu pulang bersama sopirnya dengan mengendarai sepeda ontel. Saat Natsir berhenti dari jabatannya sebagai perdana menteri, ia bahkan tidak mau menerima dana taktis yang diperuntukkan bagi dirinya. Akhirnya uang tersebut dibagikan ke koperasi karyawan.

Pada tahun 1966 Mohammad Natsir pernah membeli rumah dari temannya, terlepas rumah itu dibeli dengan harga teman namun Natsir tetap saja tidak punya cukup uang untuk membayarnya sekaligus, Natsir akhirnya meminjam uang dan mencicilnya selama bertahun-tahun.

Kesederhanaan Mohammad Natsir ibarat oase dalam pentas politik masa kini, Natsir telah membuktikan bahwa hidup sederhana bukan sesuatu yang mustahil dilakukan saat seseorang memegang jabatan.

Kuncinya terletak pada prinsip. Jika sejak awal punya prinsip untuk hidup sederhana, maka godaan kemewahan apapun tidak akan mampu melunturkan prinsip tersebut.

Kiranya penting bagi generasi masa kini yang sedang memegang jabatan atau yang suatu saat ditakdirkan memegang jabatan, agar berguru pada kesederhanaan Mohammad Natsir. Belajar bahwa jabatan bukan untuk memuaskan nafsu kuasa, dan itu bukan retorika tapi praktik nyata, karena rakyat telah jenuh dengan jualan retorika tanpa praktik.


Zaenal Abidin Riam, Pengamat Kebijakan Publik/Koordinator Presidium Demokrasiana Institute